Flash Marriage

Flash Marriage
Episode 114


__ADS_3

Bik Sarni mengetuk pintu kamar majikannya dengan sedikit ragu,ia sangat khawatir kalau-kalau Maira akan merasa terganggu, mengingat Maira yang saat ini kondisinya masih sedikit labil.


"Tok... tok... tok. "


"Iya Bik, ada apa?" tanya Bima yang terdengar dari dalam kamar.


"Itu Pak Bima,ada Bik Piya di bawah.Katanya pengen ketemu sama Non Maira," ujar Bik Sarni.


"Iya,nanti kami akan turun ya Bik.Saya akan bujuk istri saya dulu,"ujar Bima yang sudah membuka pintu.


Maira juga bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh Bik Sarni dan suaminya, tapi ia masih belum bisa menjawabnya.


" Sayang, ayo kita temui Bik Piya.Jangan bersikap acuh gitu sama Bik Piya.Ingat sayang,Bik Piya itu yang sudah merawat dan menemani kamu dari kecil.Kamu dan dia sudah seperti ibu dan anak 'kan?"bujuk Bima.


Pikiran Maira berkecamuk,di hatinya belum bisa untuk memaafkan.Akan tetapi di satu sisi hatinya,ia juga tidak mau kehilangan Bik Piya yang sudah setia menjaga dirinya selama ini.Bima tau betul kalau istrinya itu pasti sangat menyayangi pengasuhnya.


" Ayo lah sayang, kasihan Bik Piya.Kalau kamu gak mau ikut kebawah,setidaknya kamu kasih tahu aku,aku harus bagaimana bersikap kepada Bik Piya.Tapi sebaiknya kita biarkan Bik Piya tetap tinggal bersama kita sayang,Bik Piya itu orang baik.Khususnya sama kamu ,sayang. "Bima tak hentinya membujuk Maira.


" Kamu saja yang bilang sama Bik Piya untuk tetap tinggal,aku masih mau sendiri,"ujar Maira.Entah mengapa air matanya kembali menetes.


" Baiklah kalau itu mau kamu, sayang. "


Bima pun turun kebawah untuk menyampaikan keinginan istrinya itu,Bima tahu betul kalau Maira masih sangat menyayangi Bik Piya seperti ibunya sendiri.


Di bawah, Bima melihat Bik Piya yang sudah mengemasi barang-barangnya berupa pakaian satu tas besar,dan sekarang Bik Piya sedang berdiri di dekat meja makan sambil melihat Bik Sarni yang sedang membersihkan meja makan dengan semprotan pembersih kaca.


"Saya rasa,Non Maira gak akan membiarkan Mbak Piya pergi dari rumah ini Mbak, percaya sama saya. Non Maira itu sayang banget sama Mbak," ujar Bik Sarni.


"Tapi saya udah banyak salah sama Non Maira, gak mungkin Non Maira mau memaafkan saya. " Bik Piya mengusap air mata di pipinya.

__ADS_1


"Siapa bilang Bik?"


Keduanya langsung terkejut mendengar suara majikannya yang kini sudah ada dibelakang mereka.


"Den Bima.... "


"Pak Bima... "


Ucap Keduanya berbarengan


"Silahkan duduk!Ada yang mau saya sampaikan," titah Bima.


Bik Piya pun dengan sedikit sungkan menarik sebuah kursi makan dan ia mulai duduk dengan terus menatap ke bawah.Mungkin di hatinya sekarang, ia merasa malu atas apa yang sudah ia sembunyikan selama ini dari Maira.'Sekarang pun nonanya itu bahkan tidak mau menemui dirinya lagi.'pikir Bik Piya.


"Bibik gak usah khawatir, Maira hanya marah. Besok juga pasti akan kembali seperti semula.Bibik jangan pergi dari rumah ini, ini pesan Maira loh Bik.Ia meminta saya untuk menyampaikan hal ini sama Bibik, karena sekarang Maira nya sedang beristirahat diatas. " ujar Bima.


"Maksudnya Den Bima?Bibik masih boleh bekerja disini?" tanya Bik Piya.


Sepertinya Bik Piya bisa bernafas lega, terlihat dari hela'an nafas nya yang lepas seakan sebuah beban berat sudah terangkat sedikit dari pundaknya yang merasa tidak enak dan sangat bersalah kepada nonanya itu.


"Baiklah Den,saya juga rasanya gak sanggup kalau harus berpisah dengan Non Maira.Bibik masih ingin merawat Non Maira, bahkan sampai ke anak kalian nanti.Bibik sayang banget sama Non Maira,karena itulah Bibik juga tidak ingin menyakiti dan membuat Non Maira menaruh dendam pada orang yang telah menyebabkan Ibu kandungnya tiada. Hikss... " Bik Piya bicara sambil terisak.


"Sudah ya Bik, sebaiknya Bibik simpan lagi baju-baju Bibik di lemari.Bibik bisa bekerja disini sampai kapanpun yang Bibik mau, bahkan selamanya. " ujar Bima.


"Bibik sudah seperti keluarga bagi kami berdua." sambung Bima lagi.


"Terimakasih Den Bima, Bibik merasa terharu karena kalian masih mau menerima Bibik di sini. "


"Sama-sama Bik.Kalau begitu saya mau ke atas dulu.Bibik silahkan makan siang dan beristirahat dulu,"ujar Bima.

__ADS_1


"Terimakasih sekali lagi,Den, " ucap Bik Piya.


"Iya Bik,gak usah sungkan. " jawab Bima.Lalu ia pun naik lagi ke lantai atas.


*****


Sesampainya di atas,tak sengaja Bima melihat istrinya yang sedang berdiri di tepian pembatas lantai atas sambil melihat ke bawah,diam-diam ternyata Maira memperhatikan pembicaraan Bik Piya dan suaminya dari atas.


"Kenapa sayang?" tanya Bima yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Gak ada apa-apa," ucap Maira.Wajahnya terus menatap sendu ke lantai dibawahnya, melihat punggung Bik Piya yang kini sedang memasukkan kembali tasnya ke dalam kamar.


"Aku sudah sampaikan semuanya pada Bik Piya, kamu pasti tadi udah dengar sendiri 'kan?. " ujar Bima sembari membenamkan kepalanya di ceruk leher bagian belakang Maira.


Maira berbalik dan menghadap ke wajah Bima."Hemmmhh, terimakasih sayang. Terimakasih karena kamu sudah mau memahami aku yang egois ini. " ujar Maira sembari terus menatap Bima.


"Kamu itu istri aku sayang,siapa lagi yang akan memahami kamu kalau bukan aku suami kamu, dan ya.. ada satu orang lagi.. yaitu.... Bik Piya," ujar Bima.


"Mungkin beliau yang paling paham," tambah Bima.


"Tapi bagiku sekarang,kamu adalah orang yang paling memahami aku.Semoga kamu gak akan pernah pergi ninggalin aku ya, karena aku gak akan sanggup melalui semuanya tanpa kamu,"ujar Maira.


"Sudahlah sayang,itu gak akan pernah terjadi. Selamanya aku akan menjadi milik kamu, hanya kamu,dan tak akan pernah ada kata berpisah diantara kita," jawab Bima.


Lalu Maira pun memeluknya dengan erat seolah tak ingin terpisahkan.


*****


Sementara itu di penjara kota,Nyonya Shinta masih harus menghadapi pertanyaan yang begitu banyak dari penyidik,sekarang pun ia sudah ditetapkan sebagai tersangka.

__ADS_1


'Malang tak dapat dielak,untung tak dapat diraih.'seperti itulah kira-kira,semua yang ia impikan dan semua yang ia nikmati selama ini,kini seakan-akan hanya tinggal kenangan saja.Rumah,kekayaan,suami, anak-anak,semuanya seakan telah pergi menjauh darinya.Sekarang dinding dingin penjaralah yang akan menemani dirinya,entah sampai kapan.


Sedangkan di luar sana,suaminya masih terbaring di rumah sakit.Sedangkan kedua putrinya, sibuk mencarikan pengacara terbaik yang bisa membantu membebaskan mama mereka dari kasus ini.Setidaknya bisa meringankan hukuman yang akan diterima nyonya Shinta nantinya jika sudah melalui proses persidangan.


__ADS_2