Flash Marriage

Flash Marriage
Episode 115


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Maira sudah bersiap di depan cermin riasnya,ia sudah mengenakan setelan blezer dan blus selutut berwarna cream.


Semua celana kerjanya sudah tidak ada yang muat lagi.Sepertinya,sepulang kerja nanti dia akan berbelanja celana baru di Mall suaminya.


Bima yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk dipinggang,terkejut melihat istrinya itu sudah siap pagi-pagi sekali.Ini bahkan baru selesai subuhan.


"Aku berangkat dulu ya,sayang." Maira menjulurkan tangan kanannya mau pamitan.


"Loh,kok tumben kamu berangkat sepagi ini? gak sarapan bareng dulu?"Kening Bima mengernyit,tak biasanya Maira bersikap aneh seperti ini.


"Aku gak sempat sayang,kamu ingat kan?Aku masih harus mengurusi kerjasama antara SN group dan Hotel kamu.Mumpung perut aku belum terlalu besar,aku ingin menyelesaikan semua pekerjaan yang bisa aku handle sebisa mungkin,"jawab Maira dengan sedikit gugup,seperti menyembunyikan sesuatu.


"Kamu tidak lagi mau menghindar dari Bik Piya 'kan?" tanya Bima.Ia tahu pasti kalau istrinya itu hanya sedang mencari alasan saja.


"Ya...gak lah,ngapain aku ngindarin Bik Piya. Lagian biasanya jam segini Bik Piya sudah bangun dan lagi siapin sarapan di dapur. "


"Lalu,kenapa pagi-pagi sekali?" tanya Bima lagi.


"Pagi ini aku ada janji dengan Andini dan pengacara aku untuk membahas kasus yang kemaren," jawab Maira.


"Ooo,gitu.Kamu boleh berangkat,asalkan mulai hari ini kamu harus mau disupirin sama Pak Andi,"ujar Bima.


Ia langsung menghubungi Pak Andi yang masih berada di pos satpam depan rumahnya,untuk mandi dan bersiap menjadi supir sekaligus bodyguard istrinya.


Bima melakukan itu,karena ia sangat mengkhawatirkan Maira dan juga bayinya. Bima tak bisa menjaga Maira 24 jam penuh dalam sehari,karena ia juga harus bekerja. Setidaknya dengan mengalih tugaskan Pak Andi sebagai supir dan juga bodyguard istrinya,ia bisa merasa lebih tenang, karena Pak Andi terbukti bisa dipercaya.


"Oke,aku mau disupirin oleh Pak Andi.Jadi aku udah bisa pergi kan,sekarang?"


"Belum."


"Loh kok?"Maira jadi bingung,apa sih sebenernya yang dimau oleh Bima.


"Kamu boleh pergi,kalau kamu cium aku dulu." ucap Bima sambil memajukan congornya ke depan wajah Maira.

__ADS_1


"Nih,Mmmuach. " Maira malah mencium pipinya.


"Kok di pipi sih,sayang?"Bima memegangi pipi kanannya yang disosor oleh Maira.


Dengan cepat,Maira menyambar tangan kanan Bima dan menciumnya."Aku pergi dulu sayang,daaaaa ummmmmch,love you,"ucap Maira sambil melayangkan sebuah kiss bye kepada suaminya yang masih terpaku di tempatnya.


Melihat itu Bima hanya bisa geleng-geleng kepala,ia juga melihat dari balkon saat Maira menaiki mobilnya dengan Pak Andi yang bertindak sebagai supir sekaligus bodyguardnya mulai hari ini.


*****


Tadi pas Maira turun dari kamarnya,Bik Piya juga melihatnya.Ia mencoba menyapa nonanya itu,tapi Maira hanya menanggapinya dengan senyuman canggung.Rasanya di hati Bik Piya masih terasa gak enakan.Padahal pagi ini ia sudah menyiapkan sarapan dengan menu kesukaan Maira,sayang sekali semuanya sia-sia.


*****


Tiba di kantor sepagi itu tidak membuat Maira merasa aneh,karena saat di mobil tadi ia baru saja menghubungi Andini untuk mengajak pengacaranya berunding pagi ini di kantor SN.Ini mengenai kasus yang ia tuntutkan kepada ibu tirinya.


Pak Andi melakukan tugasnya dengan baik.Dari jadi security di Mall milik Bima,lalu jadi security khusus di rumah bosnya,dan sekarang,ia beralih tugas menjadi seorang supir merangkap bodyguardnya nyonya bos.


"Baik,Bu Maira. "Pak Andi mengerti dengan apa yang dikatakan oleh nyonyanya itu.


Maira masuk ke dalam gedung kantornya, di sana sudah ada Andini yang baru saja tiba lebih dulu darinya.


"Pagi,Bu Maira,"sapa Andini.


"Pagi juga Andini,bagaimana?Apa sudah kamu hubungi pengacaranya?" tanya Maira.


"Sudah Bu,sebentar lagi beliau akan tiba.Sekarang masih OTW," jawab Andini.


Keduanya berjalan beriringan menuju ke ruangan Maira,suasana kantor masih lumayan sepi,karena masih terlalu pagi. Hanya ada beberapa karyawan bagian kebersihan yang datang lebih awal untuk melakukan pekerjaannya sebelum semua karyawan yang lain masuk kerja.


Tak lama kemudian,Andini mendapatkan telepon dari pengacara yang sedang mereka tunggu-tunggu.Andini pun menjemput pengacara itu ke loby dan mereka langsung menuju ke ruangan rapat khusus yang biasa digunakan untuk rapat rahasia mereka.


Ternyata Maira sudah menunggu mereka di ruangan itu.

__ADS_1


"Bagaimana Pak,tentang kasusnya?"tanya Maira.


"Sekarang Nyonya Shinta sudah ditetapkan sebagai tersangka,Bu Maira.Tinggal menunggu proses persidangannya saja,"jawab Pak pengacara.


"Bagus!Itu artinya,sekarang kita harus mempersiapkan untuk persidangan nanti.Saya ingin wanita jahat itu kapok dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi."ucap Maira.


Saya dengar-dengar kalau saudari tiri anda sedang mencarikan pengacara yang top untuk membela ibu tiri anda itu di pengadilan nanti,"ujar Pak Pengacara.


"Biarkan saja mereka mau bertindak apa,yang penting keadilan harus segera ditegakkan.Saya tidak akan membiarkan wanita yang sudah merencanakan pem*unu*an terhadap ibu saya,bebas dengan begitu saja!" tegas Maira.


"Tentu saja Bu,kita pasti akan menjebloskan ibu tiri anda itu ke dalam jerusi penjara."ujar Pak Pengacara dengan penuh keyakinan.


*****


Tak terasa waktu dengan cepat berlalu.Di jam makan siang,saat Maira akan pergi dari kantor dan akan mengunjungi sang ayah di rumah sakit,ia berpapasan dengan Netta di lift.


"Maira!Tunggu!" ucap Netta yang tak sengaja melihat Maira.


Maira dengan malas menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa lagi,Kak Netta?"tanya Maira malas.


"Maira!Apa kamu tidak punya rasa empati sedikitpun untuk membebaskan Mama? Kasihanilah Mama,Maira.Beliau sudah tua, lantai penjara itu begitu dingin,nanti beliau bisa sakit Maira.Belum lagi makanan di dalam sana pasti sangat tidak enak,Kakak mohon sama kamu untuk mencabut tuntutan kamu, plissss." Netta mengiba,memohon dengan air matanya.


"Maaf Kak Netta,bukannya aku gak mau,tapi aku harus menegakkan keadilan untuk Ibu aku.Coba saja Kak Netta jadi aku,apakah Kak Netta akan membiarkan pem*unuh Ibu yang sudah melahirkan Kakak terbebas begitu saja? "Maira benar-benar geram.


"Kakak tahu Maira,tapi setidaknya kamu pikirkan tentang Ayah juga.Ayah sekarang sedang sakit,beliau pasti tidak akan senang kalau di masa tuanya malah dihadapkan dengan masalah seperti ini.Ayah juga pasti tidak ingin kalau keluarga kita menjadi terpecah belah ,Dek, "ujar Netta membujuk.


"Maaf Kak Netta,aku rasa Ayah akan bisa mengerti soal ini.Selama ini,beliau sudah tidak adil kepadaku dengan menyuruh semua orang untuk menutupi kebusukan Tante Shinta.Oh Maaf Kak,aku tidak bisa mencabut laporan itu,ini juga demi kebaikan Tante Shinta.Semoga dengan ini,beliau bisa bertobat dan Allah SWT menghapuskan dosa-dosanya." ujar Maira.


"Semua orang juga punya dosa Maira,tak terkecuali juga kamu.Tolonglah sekali ini saja!!Tolong bebaskan Mama!Kakak tidak ingin kalau keluarga kita akan lebih malu lagi. Kamu lihat pemberitaan kemarin??Berita tentang Mama sudah ada di media massa.Bagaimana kalau berita ini juga berdampak kepada perusahaan kita?"ujar Netta.


Maira terdiam sesaat,sepertinya ia sedang berfikir.Mungkin perkataan Netta ada juga benarnya.Tapi sekali lagi Maira berfikir kalau, semua orang sekarang ini sudah jauh lebih cerdas untuk menilai secara rasional dan tindakan ibu tirinya itu tidak bisa dimaafkan dengan hanya memohon.

__ADS_1


__ADS_2