
Dona mulai mengintip lewat celah celah jarinya, memastikan hantu tangan itu apa benar afa atau cuma imajinasinya. Dibalik tangannya yang terbuka Dona benar benar melihat ada pergelangan tangan yang berada di depan Jeni, sambil bergerak gerak, si Nisa melambaikan dirinya ke arah Dona. Dona hanya bisa menelan saliva nya, dengan kasar sambil menutup kembali mukanya.
Hal yang sama juga dialami Dina, rasanya tubuh Dina sudah panas dingin gemetar.Jeni tahu kalau kedua sahabatnya pasti ketakutan melihat Nisa.
"Tidak perlu takut, buka saja mata kalian, kenalkan ini Nisa dia robot rakitan gue, dia bisa membantu gue menyelesaikan tugas yang tidak visa gue lakukan." Jeni memperkenalkan Nisa dan menjelaskan siapa Nisa itu sebenarnya.
Dengan ragu ragu Dina dan Dona membuka jari tangan yang menutup muka mereka
" Ni nisa ro bot." heran Dona.
"Iya dia robot rakitan. Nis, kenalan dulu dong ini Dona dan Dina bestie gue." ucap Jenie Minta Nisa berkenalan. Nisa melayang ke udara memposisikan dirinya, siap untuk bersalaman. Dona dengan ragu ragu menerima ajakan salaman Nisa. Terasa dingin dan lentur tekstur tangan Nisa. Dilanjutkan oleh Dina, Dina bersalaman dengan gaya menutup sebelah matanya, Dina Masih merasa agak takut.
Nisa malah mengerjai Dina dengan menggelitik tangan Dina, membuat dina cekikikan geli. nisa juga malah naik me atas dan nangkring di pundak Dina.
"Jen, makhluk apaan sih Nisa ini." ucap Dina yang masih rada rada ngeri.
"Nis sini!" panggil jeni. dengan sigap nisa langsung meloncat ke tangan Jeni.
"Semua sudah lengkap, terima kasih ya, Jeni harus pergi dulu, kamu jaga rumah dan bi Surti, takutnya nyonya besar bakal berbuat jahat pada bi surti. Nisa mengangguk mengerti.
"Ingat kamu harus sembunyi, jangan sampai ada yang tahu keberadaan kamu, akan bahaya , kamu bisa rusak nanti!" Jeni memberi pengarahan ke Nisa lalu mencium robot elastis tersebut.
Nisa kembali ke dalam rumah, merangkak ke atas tembok yang dia lewati tadi.
"Wah keren robot lo jen, dapat dari mana?" Dona penasaran banget.
"Itu hasil karya pertama gue, dia adalah sahabat ke tiga gue setelah kalian. Nisa hanya mau menuruti perintah gue dan bi surti ( baru baru ini).
"Wah mau dong dibuatin, hehe." narsis Dona.
"Boleh nanti kalian sendiri yang menciptakan bahannya, dan kalian juga yang harus merakitnya sendiri, jangan khawatir gue yang akan memandu." jawab jeni, dia berjanji akan mengajari Twins D membuat Robot seperti Nisa.
__ADS_1
"Balik yuk nanti ketahuan bisa di pecel kita!" ajak Dina, supaya mereka segera kembali saja.
🍁🍁🍁
Sore itu Tuan David dan istrinya berangkat terlebih dahulu, mereka tidak mau kemalaman kalau harus menunggu Alex dan lainnya,
Sore itu juga di rumah twins D sudah ramai, Rendi dan sofyan juga sudah hadir tinggal menunggu jemputan. kira kira jam empat, sebuah mobil fortuner memasuki halaman rumah Twins D.
"Itu pasti jemputan kita, ayo!" tunjuk Sofyan ke arah mobil keluarga berhenti di halaman. Sopir keluar dan membantu anak anak untuk berkemas, tak lama juga muncul sebuah mobil keren berjenis rover ranger ikut parkir di belakang fortuner tersebut. Dan turunlah Ronald menghampiri anak anak itu.
"Maaf nona jenifer supaya bergabung dengan kami, ada yang ingin tuan Alex diskusikan dengannya." Ronald mencari alasan yang tepat supaya Jenifer 1 mobil dengan Alex.
"Tapi pak, saya pengen seru seruan dengan teman teman saya, ini biar sofyan saja yang ikut." Jeni menolak untuk ikut tapi Ronald masih gencar merayu.
"Tapi nona, ada yang harus di diskusikan mengenai desain anda kerena seminggu lagi, kami harus segera menyelesaikannya." Ronald kembali berkilah.
"Ini mau liburan juga masih membicarakan pekerjaan." Jeni menjadi kesal, karena dia ingin seru seruan dengan sahabatnya di mobil sebelah, kalau semobil dengan Alex si manusia kaku itu, bisa mati kutu dia.
"Auh sakit tahu, Kdrt ini namanya." dengus Dona sambil mengelus elus lengannya yang lumayan sakit.
"Sialan lo."
"Ya sudah sana masuk, pangeran berkuda besi sudah menunggu putri cinderella di dalam, hahaha." Sindir Dona, gadis segera berlari masuk ke mobil sebelah sebelum mendapat pukulan Jeni lagi.
Ronald membukakan pintu mobil bagian belakang, meminta tas ransel Jeni untuk di taruh di bagasi.
"Hai om, apa kabar?" Jeni mengucap salamnya, memecah keheningan di mobil itu. Dia melihat Alex yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Baik." jawab Alex singkat.
Jeni segera duduk di dekat Alex, tapi dia memilih agak menjauh, rasa canggung mulai menyelimuti keduanya. Mobil mulai merayap perlahan meninggalkan Jakarta.
__ADS_1
Jeni yang tidak bisa diam dia bingung harus melakukan apa.
"Pak Ronald putar musik dong, kayak seperti di kuburan saja ini mobil, sepi!" pinta Jeni.
Ronald menoleh ke arah bosnya dan mendapat persetujuan, barulah Ronald memutar musik.
"Oh Iya om, kira kira kita balapan di jalan umum atau ada arena balap disana, soalnya gue belum pernah nih om ke bogor, hehe boro boro ke bogor ke grogol saja gue harus loncat pagar keluarnya." Jeni membuka pembicaraannya.
" Di jalan umum, disana jalannya sangat menantang, nanti lakukan pemanasan dulu sambil mengamati jalan yang akan kita lalui." Alex menjelaskan.
"Oke, om sudah pernah balapan di gunung?" tanya Jeni
"Dulu waktu di california pernah, tapi bukan balapan kita cuma jalan jalan biasa." jawab Alex yang sudah mulai santai.
"Wah om Al dulu pernah tinggal di california, kuliah disana om?"
"Hemm," jawab Alex sambil mengangguk.
"kenapa kembali ke indo om?"kepo Jeni
" Gue cinta dalam negeri, kemanapun kita pergi, terbang tapi jangan lupa rumah sendiri, gue akan membuktikan bahwa warga indonesia bisa sukses dan terkenal di sana, bukan sebagai warga Amerika,makanya perusahaan ini gue dirikan di indonesia, meski berusaha di sana lebih menjanjikan." jelas Alex.
"Keren om" Jeni bertepuk tangan. Mobil itu terus melaju dengan kec sedang, mereka ingin menikmati perjalanan santai, suasana Mobil Alex makin berwarna dengan tingkah konyol dan pertanyaan pertanyaan Jeni yang un Faedah.
Sementara di mobil belakang, anak anak itu bersuka ria mereka bernyanyi dan bercanda, sangat asyik dan menyenangkan, bahkan fortuner itu sekarang sudah mirip tempat sampah oleh bungkus camilan mereka.
" Kira kira Jeni ngapain saja ya di mobil pak Alex, mana diakan tidak bisa diam, sementara cowok di sampingnya sudah mirip kulkas dua pintu." Dina mulai membicarakan Jeni.
"Iya ya kasihan dia garing." jawab Rendi
"Pasti sudah gemes gemes menghadapi Mr Alex, haha." Sofyan juga meledek Jeni.
__ADS_1