GADIS BADUNG DAN CEO KILLER

GADIS BADUNG DAN CEO KILLER
BAB 39


__ADS_3

Alex tidak terima kalau di kira salting.


"Apa lo bilang salting, enak saja ngarang, ayo segera di mulai, gue mau lihat kemampuan bocah banyak bicara ini." ucap Alex dengan kesal, lagi lagi dia di buat mati kutu oleh bocah itu.


Rendi bertugas memberi aba aba pertandingan di mulai, teman teman jeni akan mengikuti mereka dari belakang, sementara Ada helikopter yang merekam balapan tersebut, tentunya Ronald yang akan merekam, sementara David dan istrinya menonton jalannya balapan lewat vidio live kiriman dari Ronald.


Banyak tikungan tajam yang harus mereka lalui serta jurang terjal di kiri dan kanan mereka, salah sedikit saja maka nyawa taruhannya, dari awal sampai sekarang Alex masih memimpin pertandingan.Jeni tidak terima dengan kekalahan ini dia tidak mau kalau akan jadi bahan ejekan Alex, Jeni melakukan trik yang cukup bahaya, biasanya dia berhasil melakukan trik tersebut, tapi kali ini dia salah medan, waktu akan menyalip motor Alex dia tidak tahu ada lubang kecil yang cukup dalam, motornya menerjang lubang tersebut Drak motor tersebut oleh, ada sesuatu yang kelihatan patah, untuk gadis itu segera bisa mengendalikan motornya, Jeni banting stir dan segera mengerem motornya. Alex juga kaget mendengar Suara keras di belakangnya, dia menghentikan motornya,menoleh ke belakang.


"Jeni." pria itu langsung berbalik arah dan menghampiri Jeni yang berdiri tidak jauh dari motornya, gadis itu berkacak pinggang serta mengumpat.


"Ada apa?" tanya Alex khawatir, dia turun dari motornya.


"Ada lobang di tengah jalan itu." tunjuk Jeni dengan kesal.


"Kamu tidak apa apa kan?" tanya Alex sambil memeriksa keadaan Jeni.


"Tidak om, tapi si may rusak." desah Jeni.


"Motor bisa di perbaiki yang penting lo tidak apa apa." Alex menghiburnya.


Helikopter juga mendarat agak jauh, Ronald menghampiri mereka.


"Kenapa bos, sepertinya motor Jeni oleng tadi ?" tanya ronald.


"Ada lubang di tengah jalan dan lumayan tajam, waktu dia akan menyalip bannya masuk, ada yang patah juga sepertinya." Alex menjelaskan.


"Apa masih bisa di gunakan motornya?" tanya Ronald.


"Masih bisa pak tapi ada salah satu komponen yang rusak." Jeni memeriksa bagian bawah motornya, dan menemukan peleknya bawahnya penyok, serta ada sesuatu yang lepas.


"Kalau pelan pelan saja masih bisa kalau hanya ke Villa." jelas jeni.


"Ya sudah, motor kamu biar saya yang bawa ke Villa, besok bisa di periksa, kamu bisa naik ke heli atau boncengan dengan tuan Alex, atau bisa menunggu mobil di belakang?" Ronald menawarkan beberapa opsi kepada Jeni. Belum juga jeni menjawab Alex sudah menjawab Duluan.


"Biar sama gue." jawab Alex singkat, dia menarik tangan Jeni dan memintanya naik di jok belakang, mereka kembali ke Villa segera.


Setelah Alex dan Jeni sudah pergi, mobil yang Sofyan kendarai baru sampai di TKP, Ronald sedang menyalakan motor Jeni.

__ADS_1


"Lho pak, dimana Jeni, kenapa dengan motornya, kok sama bapak?" tanya Dona.


"Jeni kecelakaan, motornya melewati lubang di tengah jalan itu dan oleng, ini ada beberapa bagian yang rusak, mereka sudah kembali ke Villa, ayo kita kembali !" ajak Ronald.


"Trus siapa yang menang pak?" tanya Sofyan.


"Tidak ada yang menang, kapan kapan di lanjutkan lagi." jawab Ronald.


Sofyan mendapat pukulan dari Dona.


"Bukannya tanya kabar Jeni, malah nanya siapa pemenangnya." sewot Dona.


"Jeni baik baik saja, lebih baik kita balik saja."


Akhirnya mereka kembali ke Villa dan melanjutkan kegiatan di sana.


🍁🍁🍁


Pagi itu Jeni joging di sekitar Villa, dihampiri Alex.


" Suka joging juga?" tanya Alex.


Bagaimana kalau kita joging sambil melihat pemandangan daerah sekitar sini.!" ajak Alex.


"Oke".


Mereka akhirnya lari pagi menelusuri Area pegunungan itu hingga tak terasa mereka sudah jauh dari Villa.


"Om capek banget, kita ada dimana?" tanya jeni sambil melihat sekelilingnya yang terasa asing baginya.


"Sepertinya kita masuk area perkampungan."


"Om telpon pak Ronald gi suruh jemput, pegel nih kaki." Jeni duduk di tepi jalan sambil memijat kakinya yang pegal.


"Gue tidak membawa ponsel, lo saja yang menelpon!" sewot Alex.


"Lha Gue juga tidak membawa ponsel juga, hua hua, bagaimana kita pulangnya om, bisa bisa besok tidak bisa jalan, kalau jalan kaki om" dengus Jeni.

__ADS_1


"Ya sudah mau di gendong?" tawar Alex.


"Jangan Juga, nanti bisa bisa om Al yang kempor, ayo kita cari tumpangan saja om." Jeni mengusulkan untuk mencari tumpangan saja, dia melihat ada sebuah pick up dari kejauhan dan langsung ke jalan. Jeni menghentikan pick up stersebut.


pick up berhenti tepat di depan Jeni.


"Kenapa neng? tanya pak sopir.


"Bapak mau kemana? tanya Jeni.


"Mau le atas neng mengambil sayuran." jawab pak sopir.


"Kami mau ke atas pak tersesat ." Jawab Jeni


"Tapi di belakang ya neng, ini di depan sudah 3 orang." jawab pak sopir.


"Rebes mang, saya panggil kakak saya dulu ya." Jeni menghampiri Alex yang masih berdiri di tempatnya.


"Ayo om, kita numpang pick up itu, tapi kita duduknya di belakang !" ajak Jeni.


"Apa, seorang Alex naik kendaraan seperti itu!" Alex gengsi karena harus naik sebuah pick up, duduk di bak belakang lagi.


"Ya sudah kalau tidak mau, om jalan kaki saja sendiri, gue mau naik."jawab Jeni sambil meninggalkan Alex. tapi Alex mengikutinya.


"Tunggu gue ikut, bagaimana klu mereka orang jahat, lo di culik lagi." ucap Alex , dia membantu Jeni naik, baru dirinya. Setelah semua naik, Jeni memberi aba aba pada sopir supaya lekas jalan, dia memukul sisi pick up dengan tangannya .


"Tarik bang." teriak Jeni.


Pick up mulai berjalan, Alex ngedumel di belakang.


"Astaga, mobil apa ini jorok banget, apa tidak pegal pegal nantinya." keluh Alek.


"Sudah tidak usah lebay, cowok ko cemen dih om, mending ini pick up untuk muat sayur, bagaimana kalau yang di bawa binatang." ketus Jeni.



Alek terdiam mendengar ucapan Jeni," Benar juga kata gadis itu, bagaimana kalau yang muat kambing, bisa bau parfum baru."

__ADS_1


Jeni malah menikmati perjalanan mereka, dia merentangkan tangannya menghirup udara pagi yang segar, mobil bergoyang, tubuh Jeni oleh ke arah Alex dan jatuh di pangkuan alek, muka jeni tepat berada di atas bagian sensitif Alex. Wajah jeni seketika menjadi merah, rasanya ingin menenggelamkannya pada dasar laut yang paling dalam. Jeni berusaha untuk bangkit, tangannya menopang ke dasar bak, tapi pick up tersebut mendadak di rem, akhirnya wajah itu kembali terbenam di sana.


__ADS_2