
Ronald datang menghampiri mereka yang asyik berbincang.
"Dasar bos gak ada akhlak, dari kemaren gue pontang panting pusung tak karuan, ini malah enak enakkan bulan madu." keluh Ronald sambil nyomot camilan di meja.
"Hoe Ron, lupa sama aku!" Panggil Gio.
Ronald reflek menoleh ke arah Gio tang makin bening saja.
"Beneran Lo Gio, sudah jadi dokter belum?" Ronald baluk nanya ke Gio
"Sudah dong, ini baru saja membantu nyonya bos untuk mendepak calon pelakor." Sindir Gio
"Sialan lo." Alex memukul Lengan Gio yang tidak jauh dari jangkauan.
"Iya kan, kalau nyonya kecil kita ini tidak genius kamu nya pasti kemakan ulat keket itu lagi." tambah Gio.
"bhaha, bener tu dokter Gio by, mau gue kabur selamanya." tambah Jeni.
"Jangan dong cayang, bagaimana nasibku dan Arjuna selanjutnya." Narsis Alex.
"Lebay." jawab Gio dan Ronald.
"Gombal" suara Jeni beda.
Alex cuma nyengir kuda,merasa di pojokkan.
"Ih kemana perginya om killer gue, kok jadi lebay begini, gak lucu, haha." imbuh Jeni.
Ronald masih bingung dengan apa yang mereka bicarakan.
"eh tunggu tunggu, otak gue kok masih loading ya, apasih yang kalian bicarakan.?" heran Ronald.
"Makanya di colokin dulu supaya nyambung, ini main nylonong saja." jawab Alex sambil mencari pelampiasan.
"Ya maaf."
__ADS_1
Akhirnya Alex menceritakan semuanya sampai Arjuna harus puasa juga.
"Sukurin , untuk nyonya bos pinter, kalau yang lain sudah minta cerai waktu itu juga." ucap Ronald yang malah mengejek Alex. mendapat anggukan dari Gio juga
"Wah sialan kalian, bukannya mendukung malah nyukurin, tapi memang bener, untung aku tidak salah pilih, istriku memang pinter, dan besok papa Alex mau lihat bagaimana aksi mama Jeni menghempas pelakor itu." Alex menaikkan alisnya menggoda Jeni.
"Puasanya mau di tambah jadi seminggu." sewot Jeni. Jeni berlalu dari tempat itu mau tahu apa yang akan suami reseknya itu lakukan.
Alex segera nyusul Jeni.
"Jangan dong sayang puasa satu malam saja rasanya kepalaku nyut nyutan." Alex meraih tangan istri kecilnya dan malah menggendongnya menuju kamar hotel.
"Ih dasar kemaruk." Jeni memukul dada Alex tapi akhirnya dia mengalungkan kedua tangannya ke leher Alex, mukanya sembunyi di dada bidang Alex.
Sementara dua pria jomblo itu tertawa ngakak, merasa lucu dengan kelakuan Alex si killer tersebut.
"Ya Ampun mak, kok bisa ya anakmu ini dapat bos seperti dia, dosa apa yang telah anakmu ini lakukan astaghfirullah, tidak tahu apa gue masih jomblo." Ronald mengelus dadanya gedeg dengan tingkah absurd Alex.
"Bhaha kok bisa si harimau itu berubah jinak jadi kucing rumahan." ucap Gio.
"Om hubby memang tidak berat, dari cafe sampai sini menggendong Jeni terus ntar kempor lagi." ucap Jeni.
"Mumpung om Hubby masih kuat, my baby boleh kok minta gendong sampai jalan raya, apalagi main kuda kudaan." jawab Alex nglantur.
"Kan masih puasa by." jawab Jeni.
"Jangan ding beb, bisa pusing tujuh keliling ini, masa harus puasa lagi, kamu sudah dengar sendirikan tadi kalau Suamimu yang tampan ini masih perjaka, hanya satu wanita yang bisa membuatnya langsung bangun meski hanya di senggol saja."
"Seperti preman saja, senggol bacok, hehe." Jeni malah bercanda.
"Kok preman sih, Arjuna tidak akan membacok, cuma menusuk saja, tapi enakkan."Alex mengerlingkan matanya.
"Ih, enak sih tapi seperti tawon saja si Arjuna, kalau sudah menyengat bisa melembung nih." Jeni menggerakkan matanya ke arah perutnya yang ramping.
"Tidak apa apa sayang, berarti itu tandanya Arjuna hebat, dan aku mau bibit unggul ku segera otw, dan akan ada yang memanggilku papa." jawab Alex dengan mata berbinar.
__ADS_1
Jeni melihatnya kalau Alex ternyata sudah begitu ingin kehadiran seorang anak.
"Tapi bagaimana dengan sekolahku by, bisa bisa di Do kalau hamil, kan sayang tinggal beberapa bulan lagi, empat bulan lagi." Jeni cemberut, takut kalau ketahuan pihak sekolah. Tapi Alex malah tertawa ngakak, dan mengecup bibir mungil itu singkat.
"My honey, baby sayang, siapa juga yang akan mengeluarkan kamu dari sekolah, lha sekolah itu yayasan papa David, mana ada mertua yang menDo menantunya karena hamil ahli waris dia hem!" Alex menjelaskan kalau dia tidak mungkin di Do. Jeni berfikir sejenak dan baru nyambung.
"Iya juga ya, kan bukan sekolah negeri tpi sekolah itu milik keluarga, hehe. oke lah kalau gitu gas poll by, lanjuut." ucap Jeni semangat.
"Haha, ternyata istri kecilku ini malu malu kucing, malu tapi nagih." goda Alex.
"Biarin salah sendiri anak sekolah diajari yang ndak bener mana adegan Dua satu lagi." kekeh Jeni.
Alex segera mempercepat langkahnya supaya segera sampai di kamar.
"By, kenapa kamu mau memilihku menjadi pelabuhan kamu berikutnya, padahal banyak wanita cantik, seksi bahkan pengusaha semua mengharapkan dirimu?" tanya Jeni.
" Entahlah, cinta itu tidak bisa di prediksi kapan dia akan datang, kapan waktunya dan pada siapa, contohnya kita, memang awal pertemuan kita juga sudah unik, gaya mu, tingkahmu juga unik, dan bicara denganmu juga membuat aku nyaman, meski usiamu masih kecil, tingkahmu urakan, tapi pemikiran kamu sangat dewasa dan terkadang aku malu sendiri, kenapa tidak berfikir sampai kesana, bahkan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada, aku yakin denganmu, rumah tangga yang kita bangun akan langgeng dan kita bisa membinanya, walau nanti pasti akan ada banyak badai yang menghadang." harapan Alex untuk keluarga yang baru dia bangun tersebut.
"Aamiin," jawab Jeni mengamini
"By, aku takut." ucap manja Jeni.
"Takut apalagi beb?" Jawab Alex gemes.
"Pasti akan banyak pelakor di sekelilingku nanti, berarti harus pasang telinga dan menajamkan mata." jawab Jeni
"Haha, kirain takut hamil lagi, kalau masalah pelakor, aku takin, istriku pasti punya seribu satu cara mengatasinya, tapi kamu juga harus yakin, suami tidak akan tergoda, lihat saja istriku sudah luar biasa, bahkan pemegang sabuk hitam karate, bi dibikin perkedel nanti diriku, terutama Arjuna, iya kan Jun, belum apa apa saja sudah diminta puasa." kekeh Alex.
"Biarin, itu baru permulaan, kalau keterusan, akan benar tak buat perkedel, tahu rasa om, haha." balas Jeni ngakak.
"Kok kamar kita jauh banget ya, sudah tidak sabar mau olahraga." Alex mengalihkan perhatian dan merasa kalau kamar mereka terasa sangat jauh.
"Hahaha, mengalihkan perhatian dia." sindir Jeni.
"Hehe, ketahuan dah ya, beginilah nasib punya istri pintarnya lebih." puji Alex
__ADS_1