GADIS BADUNG DAN CEO KILLER

GADIS BADUNG DAN CEO KILLER
BAB 86


__ADS_3

Yolanda menemui Jesika yang masih sibuk memilih tas.


"Jesi kamu kita harus gunakan kesempatan ini dengan baik, mama punya sesuatu." Yolanda menunjukkan sebuah plastik kecil yang berisi bubuk obat kuat.


"Apa itu ma?" tanya Jesika merasa penasaran dengan isi dari plastik tersebut.


" Ini Obat kuat, nanti kamu alihkan perhatian Tuan Daniel, mama akan memasukkan obat ini ke minumannya, dan kalian akan bersenang senang, hihi." ucap Yolanda sambil terkikik.


"Bagaimana kalau gagal lagi seperti waktu itu?" Jesi merasa ragu.


"Di coba saja, nanti kan di sana hanya ada kita dan Daniel, jadi tidak mungkin gagal lagi, kamu harus siap meladeni orang kaya dan ganteng itu!" Pinta Yolanda.


"Oke ma, setelah dia sadar, aku akan meminta pertanggung jawaban dia, dan aku akan menjadi nyonya muda Alexander, sementara anak sial itu, akan meringkuk di liang kubur, hahaha, ide brilian ma." Jesika sangat senang dengan ide Yolanda, mamanya itu memang yang paling bisa diandalkan.


" Ayo kita turun, mereka nanti marah kalau terlalu lama!" Yolanda mengajak Jesika turin ke bawah menemui orang orang David yang masih setia menunggu.


Ibu Dan anak itu berpenampilan layaknya mau ke kondangan saja, padahal mereka entah mau di bawa kemana, hanya mereka yang tahu.


"Ayo, kami sudah siap!" ajak Jesi.


Ketiga pengawal.itu pengen sekali tertawa tapi takut dosa.


"Hah, mau disiksa malah berpenampilan cetar seperti mau kondangan saja." batin salah satu pengawal.


Mereka membawa Jesi Dan ibunya dengan sebuah mobil pajero hitam.


Mobil terus melaju, tapi tidak ke kantor ataupun ke rumah Alex, pede banget mengundang mereka ke rumah.


"Tuan kita kemana, arah kantor tuan Daniel tidak kesini?" tanya Jesika.

__ADS_1


" Oh kita mau ke sebuah tempat khusus nona, tempat spesial." jawab orang itu lagi.


Mobil terus melaju, tapi jalanan makin sepi, hingga mereka sampai di sebuah rumah di pinggiran.


"Ma, tempat apa ini, kok mengerikan begini?" Jesika sudah merasa ketakutan.


"Iya kok aneh." Yola menaikkan alisnya heran. Perlakuan pengawal itu berubah total, dari yang tadinya sopan dan hormat, sekarang menjadi bringas.


"Tempat apa ini, untuk apa mr Daniel mengajak ketemuan disini?" tanya Jesi.


"Diam, nanti juga tahu." Jawab pengawal itu dengan garang.


"Kok jadi kasar sih, kami ini tamu kehormatan tuan kalian." kesal Jesi.


" Jalan, atau kami seret masuk kedalam." Nada bicara mereka juga naik beberapa oktaf.


Yolanda yang peka segera mengajak Jesika kabur.


Usaha mereka sia sia, karena sudah ketahuan duluan. Yola dan Jesi di seret masuk ke dalam rumah sederhana itu.


" Tolong tolong." teriak Jesika meminta pertolongan. Mereka tidak bisa berbuat apa apa, karena tangan mereka di tarik oleh orang orang kekar itu, dan di masukkan ke dalam sebuah kamar yang kotor.


Pengawal tadi menghempaskan tubuh ibu itu dengan kasar.


" Siapa kalian sebenarnya, apa mau kalian?" bentak Yolanda. Pengawal tadi tersenyum sinis.


"Kalian akan tahu kalau tuan kami datang, beliau yang akan menjelaskan semuanya dan hukuman apa yang pantas untuk orang orang biadab seperti kalian ini." bentak pengawal.


" Eh kalau bicara di jaga, kami ini orang orang terhormat, katakan sekali lagi siapa kalian?" Yolanda juga malah membentak orang tadi. Tapi sebuah tangan melayang ke pipi Yolanda dengan keras sehingga tubuh seksi Yolanda terhuyung ke belakang, serta bibirnya mengeluarkan darah segar. Yolanda memegangi pipinya yang merah dan perih, sebentar lagi pasti bengkak.

__ADS_1


" Brengsek, apa yang lo lakukan pada ibuku, mana mr Daniel?" teriak Jesi.


"Mr Daniel? tingkat kepedean anda sangat tinggi nona, tamparan itu belum seberapa, di banding yang dialami nyonya muda kami, dan sekarang giliran kalian menerima apa yang kalian lakukan pada beliau." tegas Pengawal.


"Cih, nyonya muda, maksud lo perempuan murah han itu ya, hahaha, dia mati ya. syukur deh kalau mati, wanita seperti itu pantas mati dan tidak pantas menjadi istri Daniel." kesal Jesi.


Pengawal itu mendekati Jesika dan mencengkeram rahang wanita itu dengan kuat.


"Apa lo bilang, tidak pantas, memang lo yang pantas begitu, lihat saja penampilan lo, tak ubahnya seperti seorang pela cur. Asal lo tahu tahu, tuan Daniel sangat benci dan jijik dengan modelan orang orang seperti anda." Setelah mencengkeram rahang Jesika, pengawal itu menghempas dan mendorong tubuh jesika sehingga pantatnya jatuh di lantai yang kotor dan penuh debu itu.


Pengawal keluar dan mengunci pintu kamar tersebut dari luar.


"Ih ma. kotor sekali. lihat ma ada laba laba dan itu ma ada kecoa, ma, Jesi takut ma, hiii." Jesika loncat loncat dan berlari menghindari kecoa yang berada di bawah kakinya. Hillnya tadi juga sudah terpental di luar rumah itu, jadi ini pertama kalinya Jesika bertelanjang kaki, apalagi de tempat yang kotor dan nggak banget itu.


jesika berlari ke sana kemari sambil berteriak teriak histeris.


Pakaian seksinya sudah kotor dan lusuh.


"Diam bodoh." bentak Yola, bukannya menolong anaknya dia malah membentak Jesika. Jesika segera merapat dan memeluk mamanya, Bad mukanya, banyak tertempel sarang laba laba.


"Diam, jangan cengeng, kita harus keluar dari sini dan seger mencari tahu kabar bocah itu." ucap yolanda.


" Bahaimana caranya ma, lihat badanku juga sudah mulai gatel." keluh Jesika.


Yolanda membisikkan sesuatu pada Jesika, lalu gadis itu mengangguk anggukkan kepalanya.


" mama akan pura pur pingsan, dan kamu oanggil si orang tadi, lalu curi kuncinya, dan kota akan kabur." bisik Yolanda.


"Tapi kit sekarang ada di mana ma, bagaimana mau kabur kalau jalan saja tidak tahu." jawab Jesika dengan ljrih.

__ADS_1


"Yang penting kita harus bisa keluar dulu, memang mau kalau nanti di siksa dan berakhir di tempat ini." Kesal Yolanda yang dari tadi, berfikir keras untuk mencari cara untuk bisa keluar dari sana.


__ADS_2