
Di ruangan mewah tersebut tinggal Alex dan Ibunya yang menunggu Jeni. Alex merebahkan kepalanya di pangkuan Aleena.
" Ma, kenapa semua ini terjadi padaku, disaat aku menemukan perempuan yang tulus mencintaiku, mereka pada datang kembali dan ingin merusak rumah tangga yang aku bina, lalu kok ada ya ma, ibu kandung dan kakak kandung, mau menghabisi darah dagingnya sendiri, demi sebuah obsesi." Ucap Alex.
" Sabar ya sayang, setiap manusia memiliki ujian hidupnya sendiri sendiri, untuk para pelakor itu, mama yakin dengan cinta kalian, maka bisa menghempaskan mereka semua, asalkan kalian saling jujur, terbuka dan saling percaya, mama yakin rumah tangga kalian akan langgeng." Aleena membelai lembut rambut Alex.
" Dia masih sangat muda, di usianya itu, dia masih butuh teman dan bergaul, kamu jangan terlalu posesif, yang ada dia akan bosan dan tertekan, beri sedikit kebebasan, agar dia tetap bergaul dengan teman sebayanya, tapi juga masih terkontrol." Ucap Aleena lagi.
" Iya ma, terimakasih nasehat mama, selalu bisa membuat Alex adem, ma jangan pernah bosan menasehati anakmu ini jika suka berbuat salah."
"Tentu nak, dan mama sudah tidak sabar lagi untuk menimang cucu, jangan cuma buat satu ya." Aleena mulai mencairkan suasana.
" Iya ma, kalau perlu Alex akan mencetaknya terus, supaya rumah kita ramai, tidak seperti Alex yang sering kesepian, apalagi kalau papa dan mama harus keluar negeri." jawab Alex.
"Haha setuju, nanti sebaiknya kalian pulang ke rumah kita saja, supaya ada yang membantu menjaga Jeni, apalagi dia sedang hamil, akan membutuhkan banyak perhatian dan dukungan, apalagi umurnya yang masih muda banget." Aleena meminta mereka pulang ke mansion utama saja.
" oke, Al ikut saja keputusan mama, asal istri dan calon anakku Nyaman." jawab Alex.
Sebenarnya Jeni sudah sadar beberapa saat yang lalu dia mendengar semua pembicaraan suami dan mertuanya itu. Dia sangat bersyukur bisa mendapatkan suami serta mertua yang baik dan menyayanginya.
" Terima kasih tuhan, engkau sudah mengirimkan suami dan mertua seperti mereka, aku janji akan menjaga keluarga serta calon anakku ini dari semuanya, aku memang masih belum cukup dewasa, tapi aku akan terus berusaha menjadi lebih baik lagi." Batin Jeni. tak terasa air matanya jatuh samping.
Sementara David dan Ronald, sampai di rumah penyekapan duo lampir tersebut. Mereka masuk ke dalam menemui anak buah mereka.
" Dimana dua orang itu?" tanya David.
" Ada di dalam tuan, baru saja mereka membuat Drama sinetron, tapi tidak berhasil mengelabuhi kami." Jawab Pengawal.
__ADS_1
" Mereka itu kan perempuan, hukuman apa yang sangat bagus untuk menghukumnya?" Tanya David. karena baru pertama kali menghukum perempuan.
" Om, lebih baik kita buat mental mereka terganggu." usul Ronald.
" Bagaimana caranya?" Tanya David lagi.
" Itu tuan tadi kami melihat anaknya takut dengan tikus, bagaimana kalau kita keluarkan saja beberapa tikus di dalam sana, atau kecoa , serta hewan hewan yang membuat mereka geli." Usul salah satu pengawal.
" Boleh juga Ayo kita coba." Jawab David. pata pengawal memburu tikus di sana, lalu melepaskan tikus tikus tersebut melalui celah yang sudah di buat. sementara David dan Juga Ronald akan menonton dari televisi.
Kurang lebih ada 10 tikus yang mereka lepaskan. Satu persatu tikus tikus itu masuk berjajar, dan mendekati dua wanita yang masih basah kuyup itu.
Jesika yang masih menggigil kedinginan, langsung menjerit histeris begitu melihat barisan tikus tersebut berlarian keluar mencari sumber suara.
" A.... mama, lihat ada banyak tikus."teriak Jesika sambil menunjuk ke arah pasukan tikus.
"Ma aku takut." Jesika bersembunyi di belakang tubuh mamanya. mereka mencoba menghindari tikus tikus lapar tersebut, hingga jempol Kaki Yolanda, digigit juga.
Yolanda menghentak hentakkan kakinya supaya terlepas dari kakinya, tapi yang satu jauh yang lain naik. bahkan Ada tikus yang nakal, dan naik merambat di kaki mereka, naim ke dalam.
Sontak keduanya menjerit sekuat mungkin.
"aa, ma ada yang masuk ke pahaku ma, ahh geli dan sakit mam." Jesika meloncat loncat sekaligus berteriak.
mereka sangat kebingungan bagaimana cara mengusir tikus tersebut.
Hingga mata Yolanda meniju ke pojok ruangan yang terdapat papan kayu. Yolanda segera berlari dan mengambil papan itu, lalu memukuli tikus tikus tersebut hingga sekarat " Ma sini, cepat pukul yang itu, dia terus mengikuti ku." Jesika menunjuk beberapa tikus di depannya.
__ADS_1
Lama lama tikus tikus tersebut sekarat dan mati, tapi ada beberapa tikus yang berhasil menggigit kaki dan tangan mereka, serta mengoyak pakaian keduanya.
" haha, ma lihat muka mama lucu sekali, make upnya pada luntur," Jesika menunjuk ke rah muka mamanya, dan langsung mendapat pukulan dari Yolanda di kepalanya.
" kok di pukul sih ma, tapi beneran lho." cemberut Jesika.
" Sialan lo, emang lo sudah cantik apa, muka belepotan seperti orang gila." geram Yola, dia terhadap Jesika, kok masih bisa bisa ya dia tertawa.
" Masak sih, uh gimana nih ma, mana bajuku banyak yang robek di gigit tikus sialan itu." cemberut Jesika.
Di luar David dan lainnya tertawa melihat vidio tingkah mereka yang heboh dan heroik tersebut.
"kirim cermin besar ke mereka supaya bis bercermin dan melihat muka cantik mereka!" perintah David.
Tiba tiba saja seorang pengawal masuk dan memberi sebuah cermin untuk mereka.
"Ini cermin khusus untuk kalian, kalau mau karaoke juga bisa." ucap nyleneh pengawal tersebut sambil menahan senyumnya.
Jesika buru buru bercermin, lagi lagi dia berteriak histeris melihat mukanya yang amburadul, rambut acak acakan, persis seperti orang gila.
" Diam, jangan teriak terus, pusing mama mendengarnya." geram Yolanda. Mereka kembali duduk di lantai kamar yang sudah mengering.
Di luar Ronald, meminta pengawal untuk melepaskan pasukan kecoa, supaya lebih seru lagi.
" Dodi, lo lepaskan pasukan kecoa di diding A, sepertinya mereka masih sangat menikmati permainan pertama!" perintah Ronald.
Pengawal tersebut mengangguk dan memencet sebuah tombol. barulah kecoa kecoa yang tersembunyi di sarangnya, berebut untuk keluar, ada yang terbang, merayap bahkan naik ke punggung temannya.
__ADS_1