GADIS BADUNG DAN CEO KILLER

GADIS BADUNG DAN CEO KILLER
BAB 54


__ADS_3

Johan meminta adiknya menari gaya ular, dia memilih adiknya di permalukan di depan umum daripada dia yang di pecat. Siapa yang tidak mau kerja enak dengan gaji tinggi.


"Dasar, adik tidak tahu diuntung bisa bisanya kamu menghina ibu dari pemilik toko ini ha, dan bahkan menghina dia." bentak Johan


"Mana saya tahu kak, lihat saja penampilannya ,mana mungkin orang kaya pakaiannya seperti itu, memang barang barangnya branded semua, tpi gue pikir KW tadi." kesal Rena.


"Mau Kw, mau asli itu urusan mereka kenapa kamu yang sewot." ucap Jeni


"Iya, dan kalian tidak beloh keluar dari sini disini dengan selamat sebelum dia menari." kata Aleena mengingatkan.


Johan, segera mendesak adiknya menari, sebenarnya Rena suka menari salsa di tiktok, tapi giliran sekarang di minta menari di toko mukanya manyun, dan merah tanda marah.


"Kamu menurut saja kalau tidak mau jadi gembel." Bisik Johan pada Renata. Dia menarik adiknya ke depan dan menyetel musik dari Hpnya barulah Renata menari dengan sangat seksi dan hot, banyak pria hidung belang yang mampir hanya ingin mencolek bagian tubuhnya.


"Mulai sekarang adik kamu resmi di pecat dari toko ini dan kamu Johan, besok temui Tuan Daniel di kantornya, bilang saya yang menyuruhnya." kata Aleena. Mereka kemudian keluar dari toko setelah tujuan tercapai.


"Ih menjijikkan sekali gaya tariannya, seperti wanita yang gak bener saja, untung segera ketahuan di salah satu toko Alex ada pegawai seperti itu, seharusnya perusahaan mengecek kembali anak buahnya sudah bagus apa belum." kesal Aleena.


Tapi kekesalan mereka segera sirna setelah sampai di mall, Aleena membelikan banyak baju yang lebih feminim untuk Jeni, dan nanti baju baju itu akan di kirim langsung ke ke kediaman Alexander.

__ADS_1


Aleena juga membawa Jeni ke sebuah restoran sea food, dia dengar Calon mantunya itu sangat menyukai masakan dari laut.


Seperti ibu dan anak kandung, keduanya sudah mulai akrab dan Aleena orangnya sangat asyik dan gaul, tidak seperti bu Yulia yang sopan, lembut terkadang Jeni merasa canggung dan sungkan.


Setelah puas, Aleena mengantar Jeni selamat sampai di rumahnya.


"Maaf ya sayang, mama tidak bisa mampir, ini papamu sudah nelpon terus, oh ya untuk donasi rumah singgah yang ke dua, tadi pagi sudah di transfer, dan tempat itu akan kita renovasi dan di lebarkan, jadi mulai sekarang, kamu tidak perlu khawatir lagi tentang mereka, semua akan di pantau langsung Alex dan papa." Aleena memberitahukan tentang donasi rumah singgah dan juga proses pembangunannya.


Setelah mobil Aleena hilang dari pandangan mata Jeni, dia menuju ke rumah. Di teras Joshua dan Yulia sudah menyambutnya dengan hangat.


"Assalamualaikum pa, bun.!" Jeni menyalami keduanya. Yulia merangkul pundak Jeni dan mengajaknya masuk.


"Cie cie yang diantar calon suami pulang, bagaimana acara fitting bajunya seru dong?" tanya Yulia sambil menggoda.


" jawab Jeni.


"Bukannya tadi kamu berangkat dengan nak Alex sayang, dimana dia?" heran Josh


" Masih ada meeting, tadi pak Ronald terus menelponnya." jawab Jeni.

__ADS_1


"Sayang bagaimana perasaanmu terhadap nak Alex?" tanya Yulia.


"Entahlah bun, kami juga belum lama kenal, perkenalan kami juga tidak sengaja, lalu setelah itu ada hubungan kerja dan kontrak dengannya, ditambah insiden malam itu, kalau soal perasaan perempuan terhadap laki laki, Jeni kurang faham bun,tapi Jeni nyaman dengan om Al." jawab Jeni. Yulia mengelus rambut putrinya tersebut. dia menenangkan Jeni.


"Bunda dulu menikah juga karena di jodohkan sayang, bahkan bunda belum tahu seperti apa wajah suami bunda. tapi bunda pasrah, awalnya suami bunda tidak pernah menganggap bunda ada, bahkan dia jarang pulang, tapi karena kesabaran bunda, dan sering bersama akhirnya, cinta itu tumbuh dengan seiringnya waktu, tapi suatu saat suami bunda mengidap penyakit mematikan dan tidak bisa memiliki anak, tapi alhamdulillah kami tetap bersama sampai ajal menjemputnya." Yulia cerita masa lalunya.


"Wah, bunda sangat hebat dan sabar." puji Jeni.


"Di dalam rumah tangga, cinta saja tidak bisa menjamin langgengnya sebuah hubungan, tapi suatu kepercayaan, ketulusan, pengertian, serta pengorbanan juga sangat di perlukan, di dalamnya, apa lagi hubungan di mulai tidak berdasarkan cinta, maka akan butuh waktu dan usaha keras, kita harus bisa mengerti sifat pasangan kita, contohnya kalau dia kaku, atau pemarah, jangan kamu imbangi dengan Kaku dan pemarah juga, kamu harus bisa meredam amarahnya nak, istri diibaratkan tiang dalam rumah, kalau tiangnya tidak kuat maka akan runtuh rumah yang di bangun." Yulia menasehati Jeni.


"Berarti kita tidak boleh egois atau mempertahankan keteguhan kita bun?" tanya Jeni.


"Mempertahankan keteguhan itu baik nak, tapi kita lihat dulu, apa itu yang masih kita pertahankan nak, selama itu positif masih boleh, dan kita sebagai istri harus patuh pada suami, asal tidak menyalahi agama, kita jiga harus bisa menjaga kehormatannya, jangan pernah membicarakan kelemahan dan kejelekan suamimu di depan orang, walaupun kamu sangat kesal, kita juga harus bisa menjaga diri dan harta bendanya, menjaga harta benda suami itu bukan cuma membelanjakan uang atau benda benda yang kasat dan bisa di uangkan, tapi diri kita juga harta suami nak, membatasi bergaul dengan lawan jenis, menunjukkan aurat kepada lawan jenis, kita juga hrus pandai memuaskannya, baik urusan perut maupun di bawah perut, kita juga harus pandai berias diri untuk suami kita sayang."


"Bun, bagaimana kalau Suami minta haknya, tpi kita belum siap bun, apalagi Jeni masih sekolah bun, Jeni belum ingin hamil, Jeni takut di keluarkan dari sekolah." ucap Jeni.


"Nak, kalau istri menolak ajakan suami maka akan berdosa, apalagi kalau suami tidak ridho, maka kita akan di laknat Allah sampai subuh menjelang, kalau takut hamil, kalian bisa berdiskusi, dan bisa program KB nak." jawab Yulia.


"Bun, apa kita melakukan itu sekali saja bisa hamil bun, dan kami kan sudah itu?" Jeni menanyakannya pada Yulia, dengan malu malu dan cemas.

__ADS_1


"Bunda Mengerti kegelisahan mu sayang, pernah melakukannya walaupun hanya sekali memang bisa menimbulkan kehamilan, kalau kita melakukan itu di waktu subur nak, itu sangat besar kemungkinannya, karena pada saat itu sel telur siap untuk di buahi." kata Yulia kemudian.


"Bun bagaimana kalau Jeni hamil dan Jeni kan masih sekolah, Jeni bisa tidak lulus, hik hik?". Jeni menangis dan takut akan hal itu, tempo hari dulu dia pernah menantang mau kalau yang mem per kosa Alex, tapi setelah semua itu benar terjadi, dia merasa sangat takut.


__ADS_2