
Joshua makin penasaran dengan apa yang di bicarakan kedua perempuan kesayangannya itu, apalagi mereka cuma bisik bisik saja.
Kemesraan keluarga baru tersebut juga di saksikan Dengan jelas oleh Yolanda, hatinya merasa panas, dulu dia juga pernah merasakan di perhatikan seperti itu oleh Joshua setelah anak pertamanya lahir, Joshua mulai membuka hatinya pada Yola. ketika Jesika sudah lahir, melihat bayi mungil yang lucu dan imut, Hati Joshua tersentuh dan mau mengakui Jesika sebagai anaknya, tapi dia tidak tahu kalau ternyata Jesika memang bukan anak kandungnya.
" Sial, kalian tidak boleh bahagia di atas penderitaan gue, lihat saja nanti Josh, kebahagiaan itu tidak akan lama kalian dapatkan, yang ada cuma pertengkaran dan tangisan seperti kita dulu." Yola tersenyum miring dan misterius. pandangan itu tak luput dari pandangan Jeni.
Sebenarnya dia ingin menyapa ibu kandungnya itu tapi melihat dari senyum dan tatapan permusuhan serta bau bau Rencana yang terselip. Jeni mengurungkan niatnya itu.
"Gue tidak akan membiarkan mama menyakiti papa lagi, sudah cukup mama mengkhianati dan menjadikan papa budaknya, sekarang giliran papa bahagia dengan istri barunya." batin Jeni.
Dia segera mengajak papa dan bunda Yulia pulang ke rumah, karena akan ada kejutan yang mereka siapkan untuk papa Josh.
" Pulang saja yuk, disini hawanya panas." Ajak Jeni mengalihkan perhatian Joshua yang penasaran itu.
"Ya sudah, memang para wanita yang menang, pak sopir nurut saja, oh ya Jen, kamu bawa mobil apa di antar?" tanya Josh.
"biasa naik si merah pa, lebih enak naik motor daripada mobil, sering macet." Ucap Jeni.
Mereka akan berangkat ke rumah Yulia tapi Alex menelponnya.
"Sayang kamu dimana?" 📲
"Di Pengadilan by, mau ke tempat bunda." Jawab Jeni.
"Ke kantor ya sayang, aku lemes nih, tadi Ronald yang menggantikan ku Meeting, rasanya pengen rebahan saja hawanya, kepalaku pusing." 📲
"Oke, aku ke sana sekarang, dan di bawakan apa nih, untuk makan siang, pasti kamu belum makan?" Tanya Jeni
"Apa saja, tapi maunya yang seger seger ya, buah seger atau yang dingin dingin."📲
"Siap suami." Canda Jeni
__ADS_1
Jeni menghampiri Joshua dan bundanya yang sudah masuk dalam mobil.
"Pa, bun, maaf Jeni harus ke kantor om Alex, dia meminta Jeni ke sana, ada yang penting katanya." ucap Jeni.
"Ya sudah, hati hati di jalan jangan ngebut!" Yulia memperingati Jeni supaya tidak ngebut di jalan.
"Iya bun, dan semoga sukses suprise nya." Jeni mengerlingkan matanya menyemangati misi Bunda Yulia. Yulia mengangguk faham dan mengacak Rambut Jeni.
Yolanda meminta Jason menyuruh anak buahnya mencelakai Jeni di jalan, dia fikir kalau Jeni celaka hidup Joshua akan hancur.
"Jason , suruh anak buah lo yang geng motor itu menghadang dan menabrak bocah badung itu, gue yakin hidup Joshua akan hancur dan dia akan gila mendengar anak kesayangannya celaka." pinta Yolanda.
Jason mengangguk dan menghubungi Jamal, ketua geng motor, untuk mencelakakan Jeni, mereka mengirim foto motor beserta plat nomer Si merah.
" Sudah, gue sudah hubungi si jamal." Jawab Jason, mereka tersenyum puas dan segera meninggalkan tersebut.
Jeni di tengah perjalanan, tiba tiba diikuti oleh beberapa motor tak di kenal, motor motor itu terus mengikutinya, bahkan berusaha menyalip. Terjadi aksi salib menyalib antara si merah dan motor motor itu, untung perusahaan Alex sudah dekat, jadi dengan segera Jeni menambah gas motornya dan berbelok ke arah kantor Alex dan parkir di parkir khusus.
"Siapa mereka, sepertinya gue belum pernah melihat geng motor itu, mana pesanan om Killer, eh om suami belum kebeli lagi." keluh Jeni.
Jeni akhirnya menuju ke dalam, memutuskan untuk menemui Alex dulu barulah pesan lewat Delivery order.
Dia tidak lapor ke resepsionis tapi langsung menuju ke lift, langkahnya terhenti oleh panggilan Jesika.
" Hei, bocah sial, ngapain lo kemari, mau menggoda bos gue lagi?" Sentak Jesika dari arah belakang.
"Kalau iya kenapa." ucap Jeni dengan santai, mau memencet tombol di lift tapi segera di hadang Jesika.
" He, ini lift khusus bos, enak saja mau lewat sini, gue laporkan satpam lo biar di usir." Sinis Jesika
" Tapi mbak Jesika yang cantik dan seksi, gue kemari atas permintaan bos lo, jadi jangan halangi jalan gue, di pecat tahu rasa lo, tidak bisa lulus kuliah nyaho lo." Sindir Jeni.
__ADS_1
"Haha, mau mecat gue, tidak mungkin ya, asal lo tahu Mr Daniel itu calon suami gue, jadi mana bisa memecat gue." jawab Jesika dengan sombongnya.
Saat itu ponsel Jeni berdering, ada panggilan dari Alex.
" Sayang kamu dimana, lama sekali!" ucap Alex dari balik telpon.
"Ada di depan lift, perusahan kamu sayang, tapi calon istrimu yang bernama Jesika, menghalangiku, katanya aku kesini cuma mau menggoda kamu." jawab Jeni di buat kesal.
"Tunggu disana, aku turun, sekarang!" ucap Alex kemudian sambungan telpon di tutup.
" Mau tahu siapa yang telpon barusan?" Ejek Jeni. sekarang dia sudah berani mengejek Jesika, bukan karena apa, ini demi rumah tangganya.
" Cih, besar kepala." sahut Jesika
"Sekarang lo telpon saja tian Daniel, suruh kesini, gue ada perlu nih." sindir Jeni.
" Gak, yang ada lo akan menggodanya, dan asal lo tahu, Daniel itu tidak level dengan lo, lebih baik lo pulang dan ngempeng tu ke nyokap baru lo yang sok alim itu, cih pelakor saja bangga." sinis Jesika.
" Oh ya, trus bagaimana dengan Yolanda mama kandung kita, dia tidak cuma pelakor tapi juga penipu, pembohong dan suka selingkuh, apa lo bangga akan hal itu, dan lo sekarang juga mau mengikuti jejaknya." Ucap Jeni serius sekarang.
"Apa maksud lo, gue bukan pelakor, Daniel memang calon suami gue." jawab Jesika
" mau jadi istri ke berapa lo, asal lo tahu Mr Daniel itu sudah menikah, dan jangan lo ganggu hubungan mereka." tegas Jeni.
"Haha, menikah, asal lo tahu, Daniel memang mau menikah tapi dengan gue." ucap Jesika dengan pede.
Saat itu pintu lift terbuka, Alex muncul dengan muka kusut, sepertinya memang sedang sakit.
"Ya Allah by, kenapa mukanya kusut begitu?" cemas Jeni, dia meletakkan punggung tangannya di dahi Alex.
"MasyaAllah panas banget." Ucap Jeni.
__ADS_1
Alex menariknya masuk ke dalam Lift. Semua itu di saksikan langsung Oleh Jesika yang hanya bisa melongo,melihat Alex memeluk Jeni dai dalam sana, sebelum pintu Lift tertutup sempurna.