
"Kak Jesslin kini tinggal bersama papa dan bunda, beberapa hari yang lalu dia mau di perkosa oleh Jason, untuk ada pak Ronald yang menyelamatkannya." jawab Jeni.
"Ya tuhan, ayah macam apa dia." Jesika syok mendengar kata kata Jeni barusan.
Alex tadi juga sudah menghubungi Joshua dan Jesslin, mungkin mereka masih dalam perjalanan ke sana.
" Aku juga mau minta maaf ke papa, selama ini dialah ayah yang terbaik untuk kami, dia bahkan menyayangi ku dengan segenap jiwa raganya, sedangkan aku hanyalah anak yang selalu menyusahkan nya, menuntut semua yang aku inginkan harus terpenuhi, hik hik.", Jesika masih menangis tergugu, mengingat semua dosa dosa yang pernah dia lakukan selama ini.
Joshua dan Jesslin kemudian muncul di sana, dan mereka semua saling meminta maaf.
"Hatiku sudah tenang dan aku akan ikhlas menerima hukuman atas semuanya, penjara adalah tempat yang terbaik untukku." Ucap Jesika pasrah.
"Enggak, siapa juga yang akan memenjarakan kak Jesi, kita baru saja berkumpul bahagia, aku tidak mau ada yang menderita lagi, by, kak Jesi sudah menyesali semuanya, tolong maafkan dia by, dan jangan kamu masukkan kakakku ke penjara." Jeni kemudian memohon pada Alex untuk mencabut semua tuntutannya pada Jesika.
" Itu semua kamu yang akan memutuskannya sayang, asalkan kamu tidak akan menyesal di kemudian hari karena dia cuma bersandiwara." jawab Alex.
"Aku yakin, kak Jesi sudah sadar, dan ini demi anak kita by, aku tidak mau dia lahir dalam keluarga yang saling bermusuhan." kata Jeni.
"Suamimu benar Jen, aku memang pantas berada di sana, kamu dan Jesslin, bisa menengokku kapan saja, kita masih bisa saling mendukung." Jawab Jesika.
"By Please!" Jeni Memohon pada Alex.
"Baiklah, aku akan mencabut tuntutan untuk Jesika, asal dia benar benar bertobat, tapi todak untuk Yola, mama kalian ini adalah biang dari semua masalah yang kalian hadapi selama ini, dan dia masih belum bertaubat, dulu kamu membebaskannya,.dari kasus obat itu, tapi sama sekali tidak merasa bersalah." jawab Alex dengan tegas.
"Terima kasih by, om sayang,hehe." kekeh Jeni, dan semua ikut tertawa.
"Terima kasih Jen, tuan Daniel, saya akan belajar dari semua kesalahan ini, dan kalau kalian membebaskanku dari hukum penjara, maka ijinkan aku memperbaiki diriku dan belajar tentang agama, di pesantren." Jesika juga minta ijin untuk menuntut ilmu di pondok pesantren, dia berencana untuk totalitas dalam memperbaiki dirinya.
__ADS_1
"Aku ikut kak, aku juga perlu banyak belajar, bahkan gerakan sholat saja kita tidak bisa, mama selalu melarang kita mengaji, bahkan berbohong kepada papa," Jesslin juga memutuskan untuk ikut Jesika di pesantren.
"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Jesi.
"Kakak sendiri bahaimana, selama ini kakak juga kuliah, bahkan hampir saja lulus, tapi karena kita yang awam akan agama dan terlalu egois akhirnya gelar yang kakak inginkan, hilang di depan mata, pa, bun ijinkan Jesslin ikut kak Jesi, aku akan cuti kuliah. Aku juga ingin membuat papa dan bunda bangga." Ucap Jesslin memelas, dia iri pada kakaknya, yang totalitas dalam memperbaiki dirinya, kalau dia apa, jadi Jesslin memutuskan untuk ikut belajar ilmu agama di pondok pesantren.
Joshua menangis dan memeluk ketiga putrinya, meski Jesika dan Jesslin bukan putrinya tapi dialah yang merawat dan menyayangi dia penuh dengan kasih sayang.
"Papa bangga sama kalian, kamu jesika, Jesslin, papa bangga pada kalian yang sudah berani mengakui semua kesalahan yang sudah kalian lakukan selama ini, dan mau berubah lebih baik lagi, papa merestui jalan yang kalian ambil ini, papa yang akan membiayai semua pendidikan dan keperluan kalian disana, dan kamu Jeni, papa sangat bangga padamu, dengan lapang dada dan keikhlasan, kamu mau menerima permintaan maaf kalian, kamu hebat nak." Joshua menciumi satu persatu putrinya dengan linangan air mata.
Ketiga putri cantiknya itu tidak amu ketinggalan, mereka juga memeluk sang papa dan menghujaninya dengan Ciuman.
"Tante Yulia." panggil Jesika pada Yulia.
Yulia datang mendekati Jesika, dan menghapus sisa air mata pada pipi gadis itu.
Jesika memeluknya layaknya seorang anak pada ibunya.
"Terima kasih bun, bunda telah memberi kasih sayang yang tulus pada papa, semoga pernikahan papa dan bunda bahagia dan berkah, Jesi yakin bunda bisa membuat papa bahagia." kata Jesi.
"Terima kasih sayang, bunda akan berusaha, dan bunda juga bahagia mendapat tiga putri sekaligus yang cantik cantik dan baik, dulu ini semua hanya ada dalam mimpi dan khayalan bunda tapi sekarang mimpi bunda terwujudkan." Yulia juga menangis bahagia melihat ketiga putri Joshua berdamai dan bersatu.
"Kak kita akan punya adik lho, bunda yulia saat ini sedang hamil." ucap Jeni yang memecahkan suasana.
Jesika dan Jesslin kaget sekaligus senang mendengar berita bahagia itu. Dan memberi ucapan selamat pada Yulia.
"Apa, kita akan punya adik, wah selamat bun!"Jesslin sangat antusias mendengarnya, karena dia sudah merasakan kasih sayang yang tulus dari yulia.
__ADS_1
"Selamat Ya bun, atas kehamilannya, dan kita semua kan perempuan, semoga adik kita laki laki, jadi dia yang paling ganteng nantinya." Celoteh Jesika berikutnya.
Malam itu Jesika dipindahkan di ruang VIP masih di rumah sakit yang sama, dan Jesslin yang menunggunya.
Sementara di kamar tahanan, Yolanda menggila, dia teriak teriak sendiri ingin di bebaskan, sumpah serapan dia lontarkan, tapi tidak ada yang peduli bahkan mendekat.
"Ini lebih buruk daripada penjara, sampai kapan mereka menyekap gue disini, woi mana anak gue, kembalikan mereka!" Teriak Yolanda.
"Dia itu calon Ratu, dia calon nyonya Alexander, jadi jangan macam macam padanya, tuan Daniel Alexander akan marah besar,hahaha." Tawa yolanda memenuhi kamar ukuran 3×4 meter tersebut.
Pengawal masih membiarkan ulah Yolanda, mereka tidak mau wanita itu menipu lagi seperti kejadian waktu itu.
💗💗
Esok harinya Ronald mendengar kabar kalau Jesslin akan ke pondok pesantren untuk menuntut ilmu, dia mengirim pesan padanya dan mengajak untuk bertemu.
"Assalamualaikum calon ustadzah." ucap Ronald menggoda.
" waalaikumsalam pak Ronald, jangan panggil dengan panggilan itu dong, Jesslin masih mau belajar, dan masih jauh dari kata itu pak." Jawab Jesslin.
" Kok masih panggil pak saja, sudah kubilang kan, ganti nama panggilannya, mas atau apa begitu kan aku bukan bapak kamu, atasan juga bukan." jawab Ronald.
" Baiklah, ada apa kak Ron menelpon?" tanya Jesslin.
" Nah ini jauh lebih enak di dengar, kak Ron, oh ya aku dengar kamu dan kakakmu akan masuk ke pontren, bisakah nanti sore kita bertemu, di family cafe, ada yang ingin aku katakan padamu." ucap Ronald
" Baiklah, sore ini saya Free, jak Jesika juga sudah boleh pulang." Jesslin menyetujui ajakan Ronald dengan hati berbunga bunga
__ADS_1