GADIS BADUNG DAN CEO KILLER

GADIS BADUNG DAN CEO KILLER
BAB 97


__ADS_3

Sebelum ke Family kafe, Ronald mampir ke sebuah butik baju muslim, dia membeli satu. set gamis dan beberapa kerudung untuk Jesslin. Ronald yakin kalau pilihannya kali ini adalah tepat. Dia akan mengatakan kalau dia menyukai Jesslin dan akan meminangnya setelah dari pondok.


Ronald menuju ke Family kafe dengan semangat. Disana nampak Jesslin sudah sampai di sana dan duduk di meja yang sudah Ronald pesan.


" Sudah lama menunggunya? Tanya Ronald.


" Baru saja kak, silahkan!"Jesslin mempersilahkan Ronald untuk duduk.


"Apa benar kamu akan pergi dari kota ini?" Tanya Ronald, basa basi.


" Iya kak, pergi menuntut ilmu, selama ini lin tidak tahu apa apa soal agama, bahkan ketika papa menyuruhku mengaji mama malah melarang dan lebih memilih mengajak kami bermain di mall, Lin sudah dewasa, seharusnya sudah tahu hukum, sholat dan lainnya, tapi Lin gerakan dan bacaan sholat saja tidak tahu, bagaimana nanti jika Lin menikah. dan menjadi seorang ibu, Sementara Lin tidak bisa mengajari anak anak Lin pendidikan yang bagus." ucap Jesslin.


" Kapan kalian berangkat?" kepo Ronald.


"Besok sore, karena Jeni juga ingin ikut mengantar dan tuan Daniel baru bisa mengantarkan kami Sore hari. " Jawab Jesslin.


" Oh ya apa yang mau kak Ronald bicarakan, maaf Lin harus siap siap juga, tadi ada janji dengan bunda Yulia mau belanja pakaian muslim untuk di sana." ucap Jesslin.


" emm, Lin sebenarnya aku selama ini memendam suatu perasaan padamu, aku menyukai karakter kamu yang mau mengakui semua kesalahan kamu bahkan mau berubah lebih baik, kamu juga gadis yang lucu dan ceria." Ucap Ronald.


Muka Jesslin sudah sangat merah, baru pertama kali ini ada seorang pria yang memujinya secara tulus, biasanya dia dulu yang mengejar seorang pemuda untuk menjadi pacarnya, jantung Jesslin berdebar sangat kencang, sampai keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.


Ronald mengambil sebuah tisu dan mengelapnya dengan lembut.


" Aku sangat mendukung pilihanmu ini, semoga impianmu segera terlaksana ya, dan anak yang kamu bicarakan itu adalah anak kita nanti." Ucap Ronald.


" Maksud kak Ronald?" Heran Jesslin.


" Setelah kamu keluar dari pondok, maukah kamu nanti menjadi istriku, aku akan menunggumu, tapi ya beginilah keadaanku, umurku sudah tua, susah 30 tahun, dan pekerjaanku cuma seorang asisten, bukan bos seperti tuan Alex yang menjadi idaman setiap wanita."Ucap Ronald.

__ADS_1


Jesslin meraih tangan Ronald.


" Kak, aku sadar kalau harta tidaklah menjamin kebahagiaan setiap keluarga, aku sudah mengalaminya, demi harta dan kepuasan, mama selalu menekan papa untuk mencari dan mencari uang, tapi mereka tidak pernah bahagia, setiap hari rumah itu penuh dengan pertengkaran, cek cok, dan akhirnya hancurlah semuanya, dulu sewaktu papa bangkrut, kami pernah tinggal di rumah yang sederhana, tapi menurut Lin, rumah itu lebih nyaman daripada rumah mewah itu, Aku juga belajar semuanya dari Jeni. Jesslin menjeda ucapannya sebentar.


" Setelah Jeni keluar rumah, aku sering mengunjungi rumah tersebut, apalagi saat mama dan kak Jesi mengacuhkan aku, rumah itulah yang menjadi tempat ternyaman bagiku." Imbuhnya lagi.


" Lalu apa keputusanmu, aku tidak akan lernah memaksamu, dan akan memberimu waktu yang panjang untuk menjawabnya, karena kesannya ini memang terlalu buru buru." Jawab Ronald.


" Kak Ronald benar mau menungguku lulus, paling 2 tahun, aku akan belajar giat supaya bisa segera lulus?" Tanya Jesslin.


Ronald mengangguk, dia setuju dengan waktu yang diminta Jesslin.


" Aku akan menunggumu kapanpun itu." Jawab Ronald.


" Aku mau kak, aku mau menjadi istri dan ibu dari anak anak kita kelak, aku akan menjaga diri dan pandanganku, selama kakak siap meminangku." jawab Jesslin Malu malu.


Ronald menggenggam tangan mungil itu dan mengecupnya.


Ronald mengeluarkan sebuah cincin sederhana untuk mengikat mereka. memakaikan di jari nanis Jesslin, dia juga mengambil paper bag yang tadi dia bawa kepada Jesslin.


" Ini untukmu, aku ingin kamu memakainya."ucap Ronald. Jesslin membuka paper bag tersebut dan tersenyum lebar, baju seperti itulah yang dia butuhkan saat ini untuk melengkapi hijrahnya.


"Terima kasih kak, aku ke kamar mandi sebentar ya, kak Ronald tunggu ya!" pinta Jesslin. Ronald menyetujui.


Jesslin segera ke toilet, dia membawa paper bag tersebut bersamanya. Jesslin mengganti pakaiannya yang semula dengan gamis cantik dari Ronald, dan memakai kerudung untuk pertama kalinya.Jesslin hanya menyampirkan Pashmina tersebut di bahunya. dia melihat dirinya ke dalam cermin, Jesslin makin imut dan cantik dengan penampilan barunya ini.


Jesslin kembali menemui Ronald di tempatnya, dia sudah memesan beberapa menu makanan untuk mereka.


" Kak Ron." panggil Jesslin.

__ADS_1


Ronald mendongakkan kepalanya dan terpana melihat Jesslin yang imut dan cantik alami. Ronald sampai tidak berkedip melihatnya.


"Aneh ya kak?" Heran Jesslin


" Kamu sangat cantik dengan pakaian ini." jawab Ronald. Dia melepas pin di jasnya, dan menyelamatkan pin tersebut di kerudung tersebut sehingga rambutnya tidak kelihatan lagi.


" Begini lebih cantik lagi, dan auratnya sudah tertutup." ucap, Ronald.


" Ayo, kita makan, setelah ini aku akan mengantarmu membeli beberapa perlengkapan untuk besok." kata Ronald lagi.


Mereka segera menikmati makan sore yang romantis itu, dan selanjutnya Ronald membawanya ke sebuah Mall di jakarta, mereka asyik memilih barang barang yang di perlukan Jesslin ke pondok.


Tidak lupa dia menelpon yulia kalau keluar bersama Ronald, supaya bundanya tidak cemas.


Sementara itu Bella dan Soraya memutuskan zntuk bekerja sama memisahkan Jeni dan Alex, saat ini mereka bertemu dan membicarakan rencana mereka ke depan.


" Apa rencana lo ?" tanya Bella yang sudah frustasi karena usaha dia mendekati Alex selama ini selalu gagal, bahkan Sedikitpun Alex tidak mau meliriknya.


" Kita bunuh saja tunangannya itu." jawab Soraya tersenyum miring.


Bella bergidik ngeri mendengar kata kata pembunuhan.


" Apa tidak ada jalan lain, kabarnya sudah ada yang mencoba membunuhnya tapi gagal?" tanya Bella.


" Tidak, hanya itu satu satunya cara, buat Daniel depresi dengan kematiannya dan kita yang akan menghiburnya." ucap Soraya. Tapi di dalam hatinya Soraya punya rencana lain.


" Setelah bocah itu yang mati, lalu giliran lo yang mati, kalau gue tidak bisa memiliki Daniel, maka yang lain juga tidak." Batin Soraya.


Sementara itu, Bella menelan salivanya kasar, dia tidak menyangka kalau Soraya Begitu kejam.

__ADS_1


" Ih membunuh, gue tidak mau terlibat pembunuhan, atau gue laporkan saja rencana Soraya ini, gue tidak mau di penjara, lebih baik gue tinggal di luar negeri saja daripada mendekam di penjara." Batin Bella


__ADS_2