GADIS BADUNG DAN CEO KILLER

GADIS BADUNG DAN CEO KILLER
BAB 77


__ADS_3

Jeni mendapati tubuh Alex yang panas saat memeluknya.


"Kamu kenapa kok bisa panas begini, panggil dokter ya." Ucap Jeni.


"Dokternya sudah ada di sampingku, asal kamu ada disini aku pasti akan sembuh." jawab Alex, yang masih memeluknya erat.


Setelah Lift Terbuka di lantai atas, Jeni meminta ke sekretaris Alex untuk mengambilkan air panas dan kompresan serta parasetamol.


"Pak ,tolong bawakan air hangat untuk mengompres pak Alex serta parasetamol ya, bawa ke ruangan pak Alex!" perintah Jeni pada sekretaris Alex.


" Baik nona." jawab Joni.


Pemuda tersebut segera ke pantry mengambil air hangat dan juga menelpon klinik perusahaan, meminta parasetamol dosis tinggi. Joni langsung membawa pesanan Jeni ke ruangan Alex.


Sementara Jeni melepas jas Alex dan juga dasinya.


"Sayang kamu mau apa, aku masih sakit, Juna juga masih tidur." ucapan Alex ngaco saj, Jeni membuka jas dan melepas dasinya, untuk mengurangi panas di tubuh Alex dia juga membuka beberapa kancing kemeja Alex.


"Kamu mulai nakal istriku."


" By, jangan mesum deh, ini di buka supaya tidak gerah, ayo ke kamar!" ajak Jeni untuk ke kamar istirahat, supaya Alex bisa istirahat dan minum obat.


"Ayo, aku masih kuat kok, kalau cuma satu ronde." jawab Alex.


"Hubby, ke kamar itu supaya kamu istirahat tidak kerja terus, biar pak Ron dan pak Joni yang menghandle semuanya, malah ini mau sayu ronde." kesal Jeni.


"Lha tadi sudah ngode ngajak ke kamar." Alex membela diri. Jeni memutar bola matanya jengah, mendengar kata kata mesum Alex.


Setelah membawa Alex ke kamar, Joni masuk dengan semua pesanan Jeni tadi.


"Nona ini pesanannya, bagaimana keadaan tuan?" tanya Joni sambil menyerahkan baskom dan juga obat pesanan Jeni.


"Badannya sangat panas, biarkan dia minum obat dan istirahat, kamu batalkan dan tunda saja kalau masih ada meeting, untuk hari ini pak Ron, dan tolong pesankan saya sop iga 1 porsi. Dan pentol pedas ya, yang pentolnya buat saya, setelah itu pak Joni bisa istirahat." ucap jeni, ia juga menyerahkan selembar uang merah pada Joni.

__ADS_1


"Baik nona, sebentar lagi pesanan akan saya antar kemari, permisi." Joni segera undur diri, dan segera ke kantin memesan kedua menu pesanan bosnya.


Di kantin, Jesika heboh dengan gosip barunya


"Guys tahu tidak tadi gue lihat mr Daniel masuk ke lift dengan anak SMA, mana gadis itu memeluknya dengan erat, tadi gue sempet menghadang tu gadis, tapi mr Daniel membawanya masuk lift. " Jesika mulai mengumbar gosip miring pada Alex.


" Eh jangan membicarakan bos kita sendiri bisa bisa kita yang di pecat." ingat salah satu karyawan yang lewat di meja mereka. Tapi gadis gadis yang semeja dengan Jesika tidak menggubrisnya.


"Berarti selera mr Daniel itu yang masih remaja ya, kalian ingat tidak waktu itu ada anak anak sma juga kemari dan di tampar mr Daniel, tapi dia malah di bela mr Daniel dan mr Ronald." jawab anak magang satunya.


"Ya itu perempuannya, enak banget dia, datang seenaknya kesini. apa dia sugar baby mr Daniel ya." Bisik Jesika.


"Kalian bisa bantu gue tidak, untuk memberi pelajaran perempuan ganjen itu." usul Jesika.


" oke setuju." jawab yang lain.


Jesika tersenyum miring.


Di ruang CEO Jeni dengan telaten mengompres Alex, serta mengelus Alex sudah meminum obat dari istrinya.


"Ternyata begini ya rasanya punya istri, ada yang memperhatikan." ucap Alex, dia meletakkan kepalanya di pangkuan Jeni yang duduk selonjor di tepi ranjang, tangan Alex Melingkar di pinggang Jeni sementara dia mendusel di perut Jeni.


" Bu geli, bagaimana mengompresnya kalau kepalanya begitu, basah ni seragamku." cemberut Jeni.


"Tapi ini lebih nyaman dibanding kompres itu sayang, jadi kamu diam dan elus saja kepalaku supaya lebih nyaman." kata Alex


" Iya bayi besar ku sayang, mama pijitin ya supaya pusingnya hilang." ucap Jeni dan mulai memijit Kepala Alex.


Pemuda itu merasa nyaman dengan perlakuan Jeni yang lembut.


Kita tengok dulu papa Josh dan Yulia yang sudah sampai di rumah dengan selamat.


"Bun." panggil Joshua dengan lembut.

__ADS_1


" Iya pa." jawab Yulia.


"Apasih sebenarnya yang kalian rahasiakan, dari tadi nanti kalau sudah sampai rumah, dan ini kita sudah sampai rumah, ayo tunjukkan ke papa dong." melas Joshua.


"Ya sudah sekarang papa tunggu di ruang keluarga, bunda akan ambil kejutannya."bisik Yulia malu malu.


"Oke, jadi tidak sabar melihatnya" jawab Joshua, dia berjalan ke ruang keluarga dan duduk disana harap harap cemas dengan kejutan yang akan dia dapatkan.


Yulia menuju ke kamar, mengambil testpack yang ada garis dua merahnya, perempuan tengah baya itu memasukkan testpack tersebut ke dalam kotak kecil dan di hiasi pita kecil. Yulia membawa kotak tersebut keluar kamar dan mendekati Joshua yang sedang mengotak atik, ponselnya.


" mas." panggil Yulia.


Joshua segera mematikan ponselnya dan berdiri menghampiri Yulia, yang masih berdiri di ujung Sofa. wanita paruh baya itu sudah deg degan takut kalau Joshua tidak senang dengan kabar kehamilan dia.


"Bun, kenapa? katanya may memberi kejutan, tapi kok sekarang seperti takut begitu." ucap Joshua.


Yulia menyerahkan kotak itu pada Joshua dengan ragu. Joshua segera menerimanya, dia juga,deg degan seperti Yulia.


Joshua membuka kotak tersebut perlahan, penasaran banget isinya, begitu kotak tersebut terbuka, Joshua melihat testpack dengan dua garis merah. Dengan tangan gemetar Joshua mengambil test tersebut matanya berbinar bahagia, bahkan lelaki paruh baya itu sampai meneteskan air matanya, baru kali ini dia merasa sangat bahagia melihat alat tersebut.


" Bun, bunda hamil?" tanya Joshua. Yulia mengangguk malu.


" Alhamdulillah ya Allah, engkau masih memberiku kesempatan untuk menimang anak lagi." Joshua mengucap Syukur pada Allah atas karunia yang dia dapatkan.


" Mas, tidak marah?" tanya Yulia.


"Kok marah, mas bahagia sekali sayang, ini buah hati kita, anak pertama kita. Jeni akan punya adek. Antusias Joshua, tapi Yulia malah mencubitnya.


"Mas tidak malu, masak nanti kalau Jeni punya anak, berarti omnya sepantaran dong dengan ponakannya." kata Yulia.


"Ya tidak apa, kan nanti mereka bisa main bareng, biar tambah seru sayang."kata Joshua dengan narsis, rasanya dia seperti muda lagi dan akan tambah semangat mencari nafkah untuk anak bungsunya.


"Semoga yang ini laki laki bun, kan kita sudah punya anak perempuan, ditambah satu laki laki kan pas." Joshua berharap supaya anak keduanya laki laki.

__ADS_1


__ADS_2