GADIS BADUNG DAN CEO KILLER

GADIS BADUNG DAN CEO KILLER
BAB 83


__ADS_3

Dita, mulai percaya apa yang di katakan Jesslin, dan dia menelpon sekretaris Alex.


"Sebentar ya dek, saya hubungi Sekretaris Mr Daniel dulu" ucap Dita.


"Iya kak terima kasih."


Dita menelpon lantai teratas Joni sedang keluar, untung Ronald lewat ruangan Joni dan menerima sambungan telpon dari Dita.


"Halo, pak Jon ini ada tamu ingin bertemu dengan Tuan Daniel dia mengaku sebagai kakak istri mr Daneil, dia bilang nyawa nyonya dalam bahaya." mata Dita.


"Dimana dia sekarang?" tanya Ronald penasaran.


"Ada di sini pak Ron." jawab Dita.


"Oke suruh tunggu di rang tamu, kami akan segera turun." jawab Ronald.


"Siap pak." jawab Dita.


"Dek, tuan Daniel akan segera turun, adik bisa menunggu di ruang tunggu." Dita Menunjuk ke sebuah ruangan di pojok lobi.


" Terima kasih kak." kata Jesslin. Gadis itu meras remas jari tangannya, harap harap cemas.


Roni Segera menuju ke ruangan Alex dan menyampaikan semuanya.


" Di mana dia, bukannya kakak Jeni itu si muka tembok itu." kesal Alex.


" Masih ada satu lagi bos." jawab Ronald. Seketika Alex bangkit dari singgasananya dan mereka langsung turun ke bawah, menemui Jesslin yang masih duduk di sana.


" Nona, ini tuan Daniel, apa yang mau anda sampaikan?" Tanya Ron.


"Mr Daniel, anda harus ke sekolah Jeni sekarang, tadi saya mengikuti kakak dan mama, ternyata mereka menyewa pembunuh bayaran untuk mencelakakan Jeni, anda harus menyelamatkannya, mereka sudah keterlaluan." ucap Jesslin dengan Gemetar, apalagi menghadapi Pandangan tajam Alex.


"Son, ayo, kamu juga ikut! ucap Alex, tampak jelas, kalau Alex sangat khawatir.

__ADS_1


Mereka bertiga langsung ke tempat parkir dan Ronald mengemudikan Mobil Alex dengan kecepatan tinggi.


Sementara di sekolah, Jeni dan Lusi tampak sibuk Mencari bahan makalah, tapi tiba tiba Jeni merasa pengen pipis.


"Lus, gue ke toilet sebentar ya, kebelet nih." ijin Jeni pada lusi.


Buru buru Jeni menuju ke toilet dan menuntaskan hajatnya, suasana toilet nampak lengang, karena semua pada ikut pelajaran.


di luar bilik ada seorang perempuan mencuci tangannya di wastafel.


" Kakak, guru baru disini ya, kok belum pernah lihat?" tanya Jeni. Tapi perempuan tadi tiba tiba menyerang Jeni, dan akhirnya terjadi perkelahian di dalam toilet, pintu Toilet juga terkunci rapat, jadi hanya ada dua perempuan yang sedang bertarung itu yang ada.


Sementara Mobil Alex sudah sampai di sekolah, dia langsung berlari menemui pak Rudi yang tidak jauh dari gerbang, mengabsen muridnya yang sudah berhasil sampai di sekolah duluan.


" Pak Rudi, dimana Jeni?", tanya Alex dengan khawatir, sementara pasa siswi malah memandang Alex dan Ronald dengan terpesona.


"Mungkin di perpustakaan tuan, mencari bahan makalah." jawab Rudi. Tanpa permisi lagi, Alex segera ke perpus, yang ada cuma petugas dan beberapa murid yang membaca.


Lusi yang paling dekat posisinya dengan Alex angkat suara.


" Jeni ke toilet Tuan." jawab Lusi.


Alex segera berlari ke toilet diikuti Ronald dan juga Pak Rudi di ikuti twins D Rendi dan sofyan, mereka penasaran saat melihat Alex serta Ronald berlarian dan sangat khawatir.


Dengan langkah lebar, Alex memanggil manggil nama Jeni.


" Jeni, kamu dimana?"


" By, tolong." panggil Jeni dari dalam toilet.


Alex dan Ronald mendobrak pintu kamar mandi tersebut. Saat bersamaan dengan itu, si pembunuh bayaran itu mengambil pisau kecil dan menusuk Jeni, mengenai dada kanannya.


"Auh." teriak Jeni. dia memegangi dadanya yang masih tertancap pisau.

__ADS_1


Alex menerobos masuk dan langsung memburu ke arah Jeni. sedang Ronald dan pak Rudi mengatasi Perempuan pembunuh itu.


"Sayang." Alex merengkuh tubuh Jeni yang oleng, dan mencabut pisau itu dari dada Jeni. Alex segera menggendongnya dan membawa Jeni ke rumah sakit, sementara Ronald di bantu Satpam dan pak Rudi meringkus pembunuh bayaran yang gesit itu, serta langsung membawanya ke kantor polisi.


Sementara Alex mengemudikan mobilnya seperti pembalap f 1 saja dia tidak mempedulikan umpatan pengemudi lainnya, yang penting sekarang adalah keselamatan Jeni.


"Bertahan sayang, demi aku dan anak kita, please."


" By, maafkan aku, jika selama ini aku belum bisa menjadi yang kamu inginkan." ucap Jeni lirih, dia terus memegangi dadanya yang di tutup sapu tangan Alex, supaya darahnya tidak terlalu banyak yang keluar.


"Sayang, kamu jangan bilang seperti itu, tidak ada wanita yang lebih baik darimu sayang, aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku."


Jeni merasakan ,perih dan ngilu yang amat sangat, dia juga mulai batuk batuk. Alex segera membelokkan mobilnya ke rumah sakit terdekat dari sekolah, pemuda itu memarkir mobilnya dengan Asal, yang penting sekarang adalah Jeni.


" Dokter, suster." Teriak Alex di depan ruang IGD, dia mengeluarkan istrinya dari dalam mobil, dua orang perawat dengan cekatan mendorong brankar rumah sakit mendekat ke arah Alex, mereka segera membawa Jeni masuk. ke dalam melakukan pertolongan pertama pada pasien.


"Cepat lakukan yang terbaik untuk istriku, kalau sampai terjadi apa apa padanya akan ku ratakan Rumah sakit ini." Teriak Alex di sana.


"Tenang tuan, kami akan melalukan yang terbaik untuk pasien." Seorang dokter yang hendak masuk ke ruangan, menenangkan Alex yang kalut.


Twins D, Rendi, sofyan serta Jesslin menuju ke rumah sakit terdekat, Dona yakin kalau Alex aka membawa ke tempat yang paling cepat di jangkau.


" Kak, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kak Jesslin bisa datang bersama on Alex?" Heran Dina.


"Aku datang ke perusahaan mr Daniel dan melaporkan kalau kak Jesika menyewa pembunuh bayaran untuk mencelakakan Jeni. " jawab Jesslin.


"Terima kasih kak, berkat kak Jesslin mereka datang tepat pada waktunya, meskipun Jeni sempat terluka, tapi gue yakin, dia anak yang kuat, pasti bisa bertahan." jawab Dona.


"Kenapa kak Jesslin berubah fikiran, bukannya kakak berada di kubu mereka?" Tanya Dina lagi.


"Iya benar, tapi setelah kepergian Jeni, gue yang jadi sasaran emosi mereka, dan Gue lebih menyayangi papa Josh di banding orang itu, gue berharap kalau papa Josh adalah ayah kandung gue Din, tapi semua itu hanyalah mimpi, serta ini lah satu satunya jalan untuk menebus semua kesalahan gue, tindakan mama dan Kak Jesika sangat keterlaluan, mereka bahkan sampai ingin melenyapkan nyawa orang lain, demi obsesi Jesika." Jawab Jesslin sambil mendesah panjang.


"Gue takut, dosa gue sudah banyak, dan tidak mau menambahnya lagi." Jesslin menundukkan kepalanya, dia benar benar menyesal, karena ikut ikutan kakak dan mamanya dalam membully Jeni.

__ADS_1


__ADS_2