
Alex mengambil ponselnya dia atas meja hotel dan menghubungi seseorang.
"Ada tugas untuk kamu, selidiki wanita bernama Cintya mawarni, sekaligus anaknya yang bernama bulan, saya mau besok laporannya sudah ada!" perintah Alex melalui telpon.
"Wanita itu mau menjebak gue melalui anaknya, gue yakin seratus persen dia bukanlah anakku, lihat saja besok nona Cintya, drama apa lagi yang akan lo mainkan." gumam Alex.
Alex menoleh ke arah pintu kamar mandi, Jeni keluar sudah lengkap dengan baby doll gambar beruang, istri kecilnya langsung naik ke ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Alex menggelengkan kepalanya, tidak percaya pada dirinya sendiri bisa menyukai gadis labil yang nakal seperti dia.
Alex juga kagum padanya, karena gadisnya memiliki pandangan yang luas, dia juga memiliki sifat yang dewasa, selain Jeni pasti sudah marah besar bahkan meminta cerai saat mendengar suaminya memiliki anak dari wanita lain.
Alex kemudian memutuskan untuk segera mandi dan kemudian menyusul sang istri pergi ke alam mimpi, Alex menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.
"Sayang, percayalah padaku, aku tidak pernah melakukan itu padanya, apalagi punya anak, aku akan membuktikannya padamu." Alex berbicara sendiri, mengelus rambut Jeni, terakhir mengecupnya. Alex memeluk tubuh ramping itu erat, seakan tidak akan dia lepaskan sama sekali.
Sebenarnya Jeni belum tidur, dia mendengar semua pembicaraan Alex tadi.
"Oke suamiku, aku percaya padamu, karena ini masa lalu, tapi jika suatu saat kau berkhianat, aku tidak akan memaafkan kamu." batin Jeni, kemudian dia ikut Alex pergi ke alam mimpi.
Pagi sebelum subuh dia sudah bangun, Jeni mengambil nisa dari dalam koper, rencananya dia akan menggunakan Nisa untuk mencari tahu tentang cintya, Jeni memasukkan Nisa dalam tasnya, baru dia mandi dan membangunkan Alex.
"By, sudah subuh bangun yuk, aku tunggu kamu menjadi imamku." Jeni membangunkan Alex dengan perlahan. Hati Alex sangat adem mendengar panggilan Jeni untuk menjadi imamnya.
Alex merentangkan tangannya, merenggangkan ototnya, baru dia mengambil wudhu.
Setelah sarapan rencananya mereka akan pergi ke Rumah sakit dimana Bulan di rawat.
Sementara Cintya sudah siap di rumah sakit, dia yakin kalau Alex akan datang kemari sesuai dengan arahannya.
"Ma, aku mau pipis!" Bulan meminta pipis.
"Mana pengasuhmu, jangan suruh mama, kamu itu sudah besar, berat tahu, menyusahkan saja." dengus Cintya.
__ADS_1
Cintya memanggil pengasuh Bulan untuk segera mengurusnya.
"Mandikan dia ganti bajunya dengan yang baru, aku tidak mau anak itu seperti gembel!" bentak Cintya pada Mona pengasuh anaknya.
Ternyata, selama ini Mona lah yang mengurus Bulan, wanita tengah baya itu dia bawa dari jalan, karena diusir oleh suami bulenya dan bekerja untuk Cintya mengasuh Bulan. apalagi sebulan yang lalu Bulan mengalami kecelakaan dan harus dioperasi, tapi Cintya tidak mau, dengan alasan biaya sangat mahal, ini saja dia masuk Rumah sakit baru dua hari yang lalu, karena Cintya tahu kalau Alex akan datang.
Setelah memandikan dan mengurus Bulan selesai. Cintya memperingati mereka untuk mengikuti apa yang mau dia.
"Hei kamu bulan, hari ini akan ada seorang laki laki yang tampan datang kemari, mama mau kamu panggil dia papa!" ucap Cintya dengan nada tinggi.
"Apa papa Robert sudah pulang ma, Bulan kangen papa." jawab Anak itu.
"Jangan pernah mengungkit nama Robert, ini nanti yang datang adalah Daniel, kamu maukan punya papa kaya dan bisa menyembuhkan kakimu!" sentak Cintya.
Bulan mengangguk setuju, kakinya patah karena di tabrak mobil, uang untuk operasi kakinya tidak Cintya gunakan untuk Bulan, tapi untuk kebutuhan dia sendiri.
"Kamu mona, ingatkan apa yang aku katakan padamu, kamu harus memainkan peran kamu dengan baik, atau aku pecat kamu dan aku kirim ke penjara.
Bulan memeluk Mona erat, dia juga tidak mau Mona pergi, karena hanya mona yang mau merawat dan menemaninya.
"Jangan ma, jangan pecat Mbak Mona, Bulan akan menuruti kata kata mama." Bulan takut kalau mamanya marah.
"Good ternyata kamu berguna juga, kalau Daniel mau menerima mama dan mengakui jamu sebagai anaknya, hidup kita akan berubah, kamu akan bisa jalan lagi dan tidak menyusahkan mama." kata Cintya dengan mata berbinar.
Alex dan Jeni sampai di Rumah sakit tersebut , mereka mencari kamar Bulan, Cintya yang sedari tadi mengintai keluar, langsung masuk ketika melihat Alex dan Jeni berada di lorong menuju ke tempat tersebut.
"Cepat mulai aktingnya, Kamu Bulan, kamu ingat harus bagaimana?" Cintya mengingatkan bocah berusia 6 tahun itu untuk berakting.
"Bulan sayang, kamu jangan pernah mencari papamu nak, dia masih bekerja di tempat yang jauh, kalau sudah punya banyak uang, papa akan pulang, menjemput kita dan mengobati Bulan, sabar ya nak." Cintya mengelus rambut putrinya dengan lembut.
"Papa, aku mau papa, hik hik." Bulan menangis.
__ADS_1
Alex dan Jeni mendengarkan percakapan ibu dan anak yang pilu itu.
Jeni menggenggam tangan Alex untuk menguatkan pria itu. mereka membuka pintu Ruangan Bulan. Nampak Cintya begitu menyayangi putrinya yang berbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Cintya menengok ke belakang, pura pura kaget melihat kedatangan Alex.
"Niel, akhirnya kamu datang juga, lihatlah putrimu, tiap detik, tiap saat dia selalu mencari papanya, aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan padanya." ucap Cintya haru.
Alex mendekati Bangkar Bunga.
"Papa, apa dia papaku ma?" tanya Bunga dengan mata berbinar melihat Alex.
Sementara Jeni pergi ke toilet, mengaktifkan Nisa.
"Nis kamu ikuti terus wanita berbaju hijau itu, rekam semua aktifitasnya!" pinta Jeni.
"Nisa menggerakkan jarinya tanda mengerti, dan mereka keluar dari toilet bersama sama, nisa menempel dan masuk ke saku Cintya, mengempis kecil supaya tidak ketahuan.
Jeni kembali menghampiri Alex yang berdiri terpaku melihat kondisi seorang anak perempuan yang berbaring lemas di bangkar.
Jeni menghampiri Bulan dan duduk di tepi Ranjang.
"Kamu Bulan?" tanya Jeni lembut, tidak ada kesan bar bar sama sekali.
Bulan mengangguk, tapi Cintya segera menarik kasar tangan Jeni supaya menjauh dari Bulan.
"Kamu tidak berhak menyentuh anakku, cuma Daniel papanya yang berhak atas Bunga." ucap Cintya.
Alex segera menolong Jeni yang sempat oleng.
"Apa maumu, dia istriku kamu juga jangan bertindak kasar padanya!" kata Alex dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Maaf Niel, bukan maksudku untuk kasar, aku cuma tidak ingin dia berbuat jahat pada Bulan. Selama ini dia tidak pernah dekat dengan orang lain, cuma aku dan pengasuhnya. hik hik, dia selalu jadi bahan olokan teman temannya, lihat keadaannya, dia cacat. Bahkan tidak bisa berjalan normal, hik hik." Cintya menangis tersedu sedu