
Jeni melepaskan diri dari dekapan Alex.
"Bagaimana nasib Jeni, papa pasti marah besar, dan mengira anaknya ini adalah wanita tidak benar, dan Jeni masih sekolah, bagaimana kalau Jeni hamil, dan bocil menggendong bocil, hu huhuu." Jeni masih saja menangis, baru kali ini dia menangis hebat, biasanya dia tangguh walaupun Mamanya menghajar atau bahkan menghina dirinya, gadis itu tidak menangis sehebat ini.
Alex menangkupkan kedua tangannya di pipi Jeni.
" Maafkan aku, aku akan menikahi mu, dan aku adalah ayah dari anak yang kelak kau kandung, sekarang mandi besar dulu hmm, aku akan mengantar kamu pulang, aku akan minta ijin pada om Josh untuk menikahi mu, kalau perlu sekarang juga kita bisa menikah, mama kamu sekarang juga sedang di hukum, di luar hotel sana, istri dari selingkuhannya memergoki dia berbuat mesum di hotel ini juga, setelah menjebak kamu, kini dia mendapat batunya." Alex menenangkan hati Jeni dan meyakinkan gadis, eh mantan gadis itu, kalau dia akan bertanggung jawab.
Jeni mengangguk lemas dia membungkus tubuhnya dengan selimut tebal, dia bangun perlahan, saat ingin melangkah ke kamar mandi, area intinya masih perih dan bengkak. Jeni kesulitan untuk berjalan. Alex yang melihatnya merasa tidak tega, dia turun dari ranjang dan segera menggendong Jeni ala bridalnya menuju ke kamar mandi.
"Auh, om mau apa?"Jeni kaget dan meronta.
"Aku cuma mau mengantarmu ke kamar mandi, maaf semua ini akibat ulahku tadi malam, dan jangan bergerak nanti kita bisa jatuh." ucap Alex sambil membawanya ke karah kamar mandi.
Alex menurunkan Jeni di tepi bathtub, pemuda itu mengisi bathtub tersebut dengan air hangat dan aroma terapi.
"kamu mandi, dan berendam saja dulu, supaya lebih enakan badannya, aku akan ambil pakaian gantimu, serta ada obat pereda nyeri, nanti diminum ya." Alek mengacak rambut Jeni lalu keluar dari kamar mandi.
Jeni segera merendam tubuhnya di dalam bathtub, merilekskan tubuh dan otaknya, dia menerawang arah langit langit kamar mandi tersebut. Jeni tidak menyangka, ibu kandungnya tega merusak anaknya sendiri demi kepentingan diri sendiri. Semuanya sudah terjadi, ibarat nasi sudah menjadi bubur, tidak bisa dikembalikan seperti semula, mau di tangisi berjam jam atau mengamuk heboh, juga tidak bisa mengubah semuanya.
"Ma, kenapa, mama tega sekali padaku, apa sebenarnya yang terjadi, apa karena aku adalah anak kandung papa josh, seperti yang mama katakan di video tersebut" gumam Jeni.
Alex melihat noda merah yang sudah mengering di sprei tempat tidur tersebut, dia menghampiri dan menyentuhnya, Alex tersenyum, dulu dia pernah melakukannya sekali dengan tunangannya sebelum bella, tapi wanita itu sudah menyakitinya terlalu parah, dia juga pernah membuka diri, menerima perjodohan yang orang tuanya buat, tapi Bella juga sama saja dengan dia, jadi mulai saat itu Alex tidak percaya lagi dengan yang namanya perempuan, sampai dia bertemu dengan gadis tengil ini, walaupun dia barung, urakan. Tapi dia menjaga mahkotanya dengan baik, sampai akhirnya Alex Lah yang mengambilnya.
__ADS_1
"Terimakasih, dan maaf, kau sudah menjaganya untukku, walau caranya yang salah, dan berdosa." Gumam Alex.
Alex mengambil sprei tersebut di masukkan ke kantong sebagai kenangan, dia juga memanggil layanan kamar untuk membereskan semuanya. setelah itu Alex mengambil paper bag, berisi pakaian Jeni dan sebuah salep kiriman dari Ronald semalam.
Alex mengetuk pintu kamar mandi.
"Jen, aku bawakan pakaian dan salep untukmu." ucap Alex.
"Om taruh saja di depan pintu, nanti Jeni ambil." ucap Jeni.
"Baiklah ,aku tinggal dulu ke mushola! " pamit Alex. Pemuda itu keluar kamar menuju ke mushola, setelah itu dia melihat kondisi Yola Dan Jason yang di hukum sadis Monika. Alex melihat dua sejoli yang masih diikat di sana, keadaannya sungguh memprihatinkan. Alex mendekati keduanya.
"Bagaimana nyonya dengan karma instan yang anda dapatkan?" tanya Alex sambil tersenyum miring.
"Belum juga sadar dia, terbuat dari apa sebenarnya hatinya itu, atau otaknya sudah konslet." batin Alex.
"Siapa itu Jesika saya tidak kenal, sya cuma kebetulan lewat saja."Ucap Alex, lalu dia berbalik arah, kembali ke kamar, sambil membawa sebuah mukena dari mushola.
Sebenarnya Alex akan membebaskan mereka, karena dia tidak mau kalau Jeni melihat keadaan mamanya, tapi ternyata wanita itu masih belum sadar, jadi dia kembali lagi, dan mengurungkan niatnya itu.
Yulia yang sudah bangun dan memeriksa kamar Jeni makin cemas , bagaimana kabar anak tirinya itu, tadi malam josh juga sudah menghubungi Dona dan Dina, tapi disana tidak ada. Yulia membangunkan Joshua.
"Mas mas bangun, sampai sekarang Jeni belum juga pulang, bagaimana ini, aku takut mas." ucap Yulia penuh dengan ke khawatiran.
__ADS_1
"Apa kita lapor polisi saja ya bun, telponnya juga tidak aktif, tidak biasanya dia tidak memberi kabar, kalau tidak pulang."Josh juga sangat khawatir dengan kabar putrinya, mana semalam dia mimpi buruk.
Bi Surti mengetuk kamar mereka, wanita tua dari semalam, tidak bisa tidur, dia sangat khawatir sebab Jeni keluar menemui Yolanda. Tok tok tok .
" Tuan, nyonya ini bu Surti, ada yang ingin saya bicarakan tuan!" ucap bi surti dari balik pintu.
Yulia dan Josh segera keluar menemui bi surti, wajahnya pucat dan lesu.
"Non Jeni tuan, saya takut terjadi sesuatu, tadi malam dia diundang nyonya Yola, dan lainnya di Hotel Golden." ucap bi Surti dengan gemetar. Joshua dan Yulia kaget dengan pernyataan bi Surti.
"Apa, menemui wanita ular itu di hotel, kenapa bibi tidak bicara pada saya, kenapa bibi diam saja bi." suara josh meninggi sambil mengguncang bahu bi Surti, kemudian Josh memijat pelipisnya.
"mas, bagaimana kalau kita ke hotel itu mas!" Yulia menarik tangan Josh.
Mereka segera menuju ke hotel yang di sebut bi Surti tadi.
"Tuan, nyonya saya juga ikut, saya orang yang pertama kali memukul Si Yola itu kalau sampai terjadi sesuatu pada bon Jeni tuan." Bi Surti memohon untuk ikut mencari Jeni.
Joshua mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke hotel Golden.
Jeni sudah selesai mandi, mengoleskan salep itu ke intinya serta memakai pakaian yang di pilihkan Ronald, semuanya pas di tubuhnya, tapi ini baru pertama kalinya Jeni menggunakan dress, dia merasa rikuh dengan roknya, dan sesekali menarik ke bawah dress sebatas lutut itu.
Jeni keluar kamar mandi dengan canggung. Alex sudah menunggunya dengan mukena di tangannya.
__ADS_1