
Alex menghempas tangan Cintya yang mulai memegang lengannya.
"Lepaskan tangan anda nyonya, lihat saya sedang bersama istri saya, apa anda tidak malu dikatakan sebagai pelakor!" tegas Alex
"Aku tidak peduli mau di panggil pelakor atau apalah, tapi aku hanya ingin kamu dan aku ingin hak Bulan." Manja Cintya.
"Maaf tante, saya lihat dari tadi tante hanya merayu suami saya, katanya mau memberikan hasil tes DNA bulan, tapi mana dari tadi anda hanya mengulur waktu saja." Ucap Jeni kesal dan menaikkan nada suaranya.
"Bocah ingusan, lo itu orang luar, dan tidak usah ikut campur urusan kami berdua. kalau lo tidak ada sudah dari kemaren Bulan bisa memeluk Ayah kandungnya." sewot Cintya.
"Oh ya, anda bilang orang lain, andalah orang lainnya nyonya, istri bukan, saudara bukan, dari kemaren anda Sudah mengganggu waktu kami saja, seharusnya kamu sudah honeymoon dengan puas, tapi karena anda suamiku yang gantengnya memang kebangetan ini harus puasa dulu, iya kan sayang, jadi anda lebih baik menyingkir jauh jauh." Ucap Jeni sambil tersenyum sinis.
Cintya mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan mengambil amplop putih berlogo Rumah sakit Royal.
"Nih baca sendiri hasilnya, dan lihat amplop ini masih tersegel, jadi diantara kita bertiga belum ada yang membukanya, jadi ini masih ori." Cintya meletakkan amplop putih tersebut dengan kasar di atas meja kafe.
Alex membuka amplop tersebut dan membacanya dengan singkat, serta hasil akhirnya adalah dia dan bulan memiliki kecocokan 99% ,.jadi terbukti bahwa Alex dan bulan adalah ayah dan anak.
Alex menunjukkan hasil tes tersebut ke Jeni sambil tersenyum.
"Wah by, kamu ini bagaimana sih katanya aku yang pertama merasakan Arjuna tapi lihat ini, kamu memiliki anak yang sudah besar apalagi memiliki kebutuhan khusus." Jeni memonyongkan bibirnya, membuat Alex ingin sekali menggigitnya.
"Sekarang kalian percaya kan bahwa memang Bulan anak Daniel, gue mohon lo yang masih muda, tinggalkan Daniel, ada yang lebih membutuhkan dia daripada kamu." bentak Cintya yang sudah merasa ungul.
"Eh tunggu tunggu, ini yang tanda tangan kok Dr thomas ya bukan Dr jhon yang kemaren?" Jeni bertanya pura pura bingung.
"Dr Jhon cuma membantu prosedurnya dan yang melakukan tes adalah Dr thomas dr Genetika di sini." jawab Cintya.
"Wah berarti dr Thomas itu yang biasanya mengidentifikasi korban korban mutilasi itu ya, wih keren jadi pengen kenal dengan dr itu, boleh dong by kan kamu punya yang lain." ucapan Jeni sungguh nggak nyambung.
__ADS_1
Alex pengen banget mencubit hidung mancung bocah lucu ini.
"Hei siapa tadi yang mau kenalan dengan Dr Thomas, ini orangnya!" Dr Gio datang bersama Dr Thomas.
"Gi Gio, dok dokter Thomas?" Heran Cintya.
"Halo, Cintya, hai Daniel sahabat lamaku." Alex dan Gio Berpelukan layaknya seperti teman yang lama tak bertemu.
"Gio, gila makin bening saja, dah jadi Dokter terkenal juga rupanya " Alex menepuk lengan Gio dengan kedua tangannya.
"Iya dong, Gio." Jawab Gio Narsis.
"Oh Ya kenalkan ini Dokter Thomas, aku dengar tadi ada yang pengen kenalan." Gio Mengenalkan Thomas pada mereka.
Thomas mengulurkan tangannya pada mereka berkenalan tapi saat bersalaman pada Cintya, dia ingat dengannya.
"Su sudah dok." jawab Cintya gugup.
"Prosedur bukannya Dr sudah melakukan tes DNA pasien bernama bunga dan tuan Daniel alexander, ini hasilnya." jawab Jeni sambil menyerahkan kertas tersebut ke Dr Thomas.
Thomas mengambil kertas tersebut dan mengamati hasil tes tersebut, dia kembali membaca dan memeriksa juga tanda tangan atas nama dirinya tersebut, lalu dia memberikan kertas tersebut ke Gio.
"Prof, coba lihat hasil tes ini menurut anda aneh tidak hasilnya?" Thomas merasa aneh dengan presentasi kemiripan yang tertera di sana.
"Wau ini sangat sempurna, ini hasilnya bukannya 99% lagi tapi 100%, bagaimana sih kamu thom menganalisisnya." ucap Gio.
"Tapi saya belum pernah melakukan tes lab dengan nama ini prof, tapi ini ada tanda tangan saya di bawah." Thomas mengelak kalau dia belum pernah melakukan tes untuk tuan Daniel.
"Kok bisa, lalu apa ini ny Cintya ha, katakan padaku!" Alex murka pada perempuan di depannya tersebut. tapi Cintya malah menangis kejer.
__ADS_1
"Hik hik kalian sungguh kejam, bilang saja kalau kalian membenciku dan bermaksud menyamarkan buktinya, aku akan melaporkan ke kantor polisi, hik hik."Ancam Cintya.
"Wau keren tante, saya setuju. laporkan saja orang orang ini tante, ayo saya antarkan tante.!" Jeni berdiri dari tempatnya akan mengantar Cintya ke kantor polisi.
"Eh, tunggu. Bulan pasti mencari ku, dia tidak bisa lama lama kutinggalkan." Cintya mengelak untuk diajak ke kantor polisi. Mukanya sudah merah menahan malu.
"Sayang, tunjukkan hasil tes yang asli pada nyonya Robert ,eh mantan ny Robert maksudnya!" Alex meminta Jeni mengeluarkan hasil tes yang asli.
Jeni mengambil amplop yang sama seperti milik Cintya, kertas yang sama, nama yang sama, cuma yang berbeda adalah isi dari hasil tes tersebut.
"Coba Anda baca tante, ini adalah hasil tes dari dua orang yang sama, antara suami saya dan anak anda, baca juga isi dan siapa yang menandatanganinya, dia adalah profesor Giovanni, kepala Rumah sakit Royal internasional off british, sekaligus dr spesial genetika, beliau juga ada di sini sekarang." Jeni menjelaskan secara gamblang siapa yang melakukan tes tersebut.
"Kalian menjebak ku, arghh." Cintya menjambak rambutnya sendiri seperti orang gila, dan mengobrak abrik isi meja tersebut.
"Silahkan, mau ngamuk mau bunuh diri, semua itu tidak akan berpengaruh untuk kami nyonya Cintya, ada dua pilihan yang bisa anda pilih saat ini: 1 menyerah dan hiduplah dengan tenang bersama putrimu disini, jangan pernah menunjukkan mukamu pada kami semua.
Kalau anda masih nekad, kami akan menjebloskan anda dalam penjara seumur hidup, kasus lamamu juga akan kami kuak.Bulan akan kami serahkan ke mona, di obati, tapi anda tidak akan bisa bertemu dengannya lagi."
Jeni meremas rahang Cintya dan mengatakan semua itu, sorot matanya menyeringai tajam, sangat mengerikan. Seketika nyali Cintya menciut, dia lunglai, lemas seperti tak bertulang.
Jhon menghampiri dan menenangkannya.
"Sadarlah Cin, semua yang kita inginkan tidak akan selalu kita dapatkan, kasihan Putrimu, dia anak yang baik, aku akan mengoperasinya, dan siap menjadi ayahnya. hiduplah normal, jangan pernah menuruti hawa nafsu dan ambisi, karena bisa menghancurkan diri kita sendiri. tadi Prof Gio juga sudah memanggilku, memaafkan semua kesalahan kita, asal tidak akan mengulanginya lagi, lihatlah itu, bidadari kita sudah menunggu." Jhon menunjuk ke arah mona dan Bulan yang duduk di kursi roda.
__ADS_1