
Mereka menyetujui syarat dari Jenifer untuk merahasiakan pernikahan Alex dan Jeni.
"Baik nak, kami mengerti perasaanmu, kami setuju nanti kalian ijab qabul dulu, kalau soal pesta, biar nanti menyusul setelah Jeni lulus sekolah." ucap David.
"Trus kapan akad nikahnya?" tambah Alex.
"Cie yang sudah tidak sabar lagi mau menikah?" Goda mama Aleena.
"Bukan begitu ma, tapi Al tidak mau saja nanti Jeni berubah fikiran, serta ada halangan lainnya." ucap Alex menjelaskan.
"Bagaimana kalau hari minggu saja, jadi Jeni tidak perlu ijin tidak masuk sekolah." usul Joshua.
"Berarti lima hari dari sekarang, oke saya setuju, biar Alex mempersiapkan semuanya, dan akad nikah di adakan di kediaman Alexander, supaya aman dan tidak terendus media." David memutuskan nanti mereka akan menikah di keluarga Alexander.
Setelah semua setuju, saatnya untuk menikmati sarapan dulu di hotel tersebut.
Di luar polisi sudah melepaskan ikatan Yola dan Jason,memberi mereka pakaian serta membawanya ke kantor polisi.
Yolanda awalnya tidak mau di bawa ke kantor polisi, dia terus meronta dan bicara kalau dia di jebak oleh Jenifer. Tapi tenaga polosi lebih kuat dan tetap membawa yolanda.
Jeni ikut pulang bersama Joshua, di kursi belakang dia masih terus menangis, dan tidak menyangka kalau mamanya sendiri tega berbuat itu. Bi surti terus membelai rambut Jeni dengan lembut, sambil menenangkannya.
"Non harus kuat dan sabar, semoga setelah ini hidup non akan berubah, semoga tuan Alexander adalah pria yang bertanggung jawab dan bisa menjadi kepala keluarga yang baik, dia sudah dewasa jadi bisa membimbing nona kelak." suara bi Surti lembut dan menenangkan hati Jeni, sampai dia tertidur. Bahkan tidak tahu kalau sudah sampai rumah.
Joshua menggendong putrinya dan membawanya ke kamar, menyelimuti tubuh Jeni, lalu mengecup pucuk kepalanya putri semata wayangnya itu.
"Maafkan papa nak, papa tidak bisa menjagamu dengan baik, semoga tuan Daniel bisa membahagiakan dirimu dan menjagamu dengan baik putriku."
Joshua keluar kamar dan berbincang sejenak dengan Yulia sebelu ke restoran, Joshua memutuskan untuk membantu usaha istrinya tersebut, dan kini mulai membuka cafe baru.
"Sabar mas, dibalik semua musibah yang kalian alami, Allah akan menggantinya dengan limpahan rahmat yang berlebih, ini adalah takdir Allah untuk Jeni putri kita, jodohnya juga sudah tertulis." Yulia mengusap punggung Joshua dengan lembut, menenangkannya, karena memang beberapa hari ini ujian itu silih berganti seakan tidak ada habisnya.
Mereka berangkat ke restoran, dan menitipkan Jeni pada bi Surti.
Di SMU Garuda, sahabat sahabat Jeni sudah kebingungan karena tidak hadirnya bocah itu, twins D apalagi soalnya tadi malam Joshua menghubungi mereka menanyakan soal Jeni.
__ADS_1
"Jeni kemana ya Din, sudah pulang apa belum, mana di telpon juga tidak diangkat." keluh Dona.
" Iya benar, bagaimana kalau kita coba sekali lagi , siapa tahu bisa!" Dina mengusulkan kalau mereka mencoba sekali lagi menghubunginya.
Dona mangambil ponselnya dari dalam tas, mereka masih di kelas, dan siap siap mau pulang. Tut tut tut, panggilan tersambung, dan diangkat oleh Jeni sendiri yang belum lama bangun.
"Halo Don." 📲
"Ya Allah bestie lo dimana? kita semua khawatir tahu nggak, tadi malam om Josh juga nyari, kita telpon juga tidak diangkat." heboh Dona.
"Ada di rumah, gue tidak enak badan ini saja baru bangun. kalian kesini saja ." jawab Jeni 📲.
"Ya lo tahu sendirikan nyokap lo, mana mungkin diijinkan."
"Gue sudah pindah, sekarang tinggal di rumah bu Yulia, habis ini gue share lock." jawab Jeni📲
"Siapa itu bu Yulia?" kepo Dona.
"Nanti gue tahu, kalian kesini saja, masih pusing gue." 📲
"Bagaimana?" tanya Dina.
"Kita ke tempat Jeni, dia lagi sakit" ucap Dona sambil menarik tangan Dina.
"Tunggu gue, sepatu gue yang satu ketinggalan tuh." ketus Dina sambil menunjuk ke salah satu sepatunya yang tertinggal di dekat meja. Dona melepas tangannya, membiarkan Dina kembali mengambil sepatu itu.
"Kebiasaan deh " gerutu Dona.
"Sori, tadi gerah banget ."
Akhirnya mereka segera ke tempat parkir dan menuju ke lokasi dimana Jeni berada.
"Don, lo yakin mau ke rumah Jeni, pasti anjing galaknya itu sudah menggonggong keras." Dina bingung sendiri karena tadi juga tidak mendengar pembicaraan mereka di telpon.
"Dia berada di rumahnya bu Yulia katanya, ini sedang mengikuti arahan geogle." Dona menunjuk ke ponsel pintarnya.
__ADS_1
"Siapa itu bu Yulia, kok baru tahu ?" heran Dina.
"entahlah makanya kita kesana saja, untuk memastikan, perasaan gue kok tidak enak." jawab Dona, dia fokus menyetir dan ganti Dina yang membaca petunjuk Google.
Tak begitu lama, dua gadis itu sampai di sebuah perumahan yang asri, mobil Dona menelusuri perlahan jalanan di perumahan itu , mencari rumah yang cocok.
Dona menghentikan mobilnya di sebuah rumah sederhana tapi unik, mereka kembali melihat alamat yang di berikan oleh Jeni tadi.
"Bener Don ini alamatnya kok sepi ya?" heran Dina.
"Kita turun saja dulu,dan mengeceknya!" ajak Dona. twins D turun dari mobil memencet bel yang berada di luar pagar.
ting tong 3x. Bel berbunyi, tak lama muncullah wanita tua yang sangat mereka kenal, Dina langsung memanggilnya.
"Bi Surtii !" panggil Dina.
Bu Surti langsung bergegas membuka gerbang rumah.
"Wah neng gelis rupanya, ayo masuk neng!" bi Surti mengajak mereka masuk.
"Jeni mana bi, tadi katanya tidak enak badan, kami langsung meluncur kesini?" Tanya Dona.
"Ada neng dikamar, iya non Jeni lagi sakit, siapa tahu dengan datangnya kalian , nona Jeni bisa segera sembuh!" Bi Surti mengajak mereka masuk ke dalam rumah, suasananya tampak, nyaman dan sejuk, gaya dekorasinya ke jawa banget. Setelah sampai bi Surti membuka handle pintu kamar tersebut, dan Jeni sedang melamun di tepi jendela.
"Non, ada twins D dateng!" bi Surti memberitahu kedatangan mereka.
Jeni menoleh dan tersenyum ke arah mereka, Twins D segera berlari dan memeluk sahabat mereka itu.
"Sepi tahu gak, gak ada lo, gue sendirian, tu si Dina mojok terus dengan Rendi!" Adu Dona, sambil cemberut.
"Cari tu pacar, atau lo sama Sofyan saja atau si ketos, bukannya lo suka tuh sama ketos kita Raihan." jawab Dina tak mau kalah.
"Si rehan sih mana mau, lha dia ngefans sama Jeni, ogah ah bersaing dengan beasti gue." Jawab Dona.
"Eh dodol, beasti kita ini incarannya kan om Alex, jadi jangan takut kalau mau bersaing, dia mah pasti mundur, iyakan Jen?" tanya Dina ke Jeni, sekaligus mencari dukungan.
__ADS_1
Jeni mengacungkan jempolnya tanda setuju.