GADIS BADUNG DAN CEO KILLER

GADIS BADUNG DAN CEO KILLER
BAB 61


__ADS_3

Jeni penasaran siapa perempuan yang Bernama Cintya itu, secantik apa dia.


"By, mana yang bernama Cintya, penasaran gue?" tanya Jeni.


"Sama suami tidak boleh, panggil lo gue lagi hmm." bisik Alex. Mereka masuk ke dalam lift khusus. Jeni cemberut karena Alex belum menjawab pertanyaannya.


" Pak Ron, katakan mana yang bernama Cintya?" tanya Jeni ngegas ke Ronald.


"Wanita di garis terdepan non, eh nyonya muda, yang memakai baju merah jambu." jawab Ronald.


"Istriku mulai cemburu Ron!" goda Alex dengan menyindir Jeni.


"Iya bos gue mau lihat bagaimana cara istri kecil bos menghadapi mantan, hehe." canda Ronald.


"Siapa juga yang cemburu, cuma pengen tahu saja siapa tahu nanti ada ClBK, kan harus ada persiapan." jawab Jeni ganti menyindir alex.


"Haha, clbk benar tu bos?" Ronald tertawa geli.


"Apa Itu CLBk, sampah yang sudah di buang tidak akan gue pungut lagi, ibarat menjilat ludah sendiri." kesal Alex yang merasa di pojokkan.


"Oke, aku mau lihat, seberapa kuat om suami menahan godaan mantan." ucap Jeni, sambil memainkan dasi Alex.


Alex malah mengunci tubuh istrinya ke dinding lift.


"Aku bisa tahan godaan mantan, tapi aku tidak bisa tahan godaan istri nackal." ucap Alex mendekatkan kepalanya ke Jeni, tapi lagi lagi Ronald mengganggunya.


"Bos, ingat ada obat nyamuk disini mau di basmi!" sewot Ronald. Dia melengos ke arah lain.


"Makanya cari pasangan!" sindir Alex, dia merangkul Jeni mesra.


"Mentang sudah ada pawangnya, coba saja kalau kemaren kemaren, ngomongnya pasti begini ehm ( Ron, perempuan itu sangat merepotkan, banyak maunya, jadi tidak perlu pacaran, daripada patah hati, gue takut lo akan bunuh diri)." Ronald menirukan kata kata Alex waktu itu.


"Bhahaha, benar itu pak Ron?" tanya Jeni sambil menertawakan gaya Ronald. Jeni memandang Alex dengan intens, dia akan balas mengerjai suami mesumnya. Jeni menempelkan tubuhnya ke Alex.

__ADS_1


"Oh, jadi perempuan itu merepotkan, trus banyak maunya, lalu sekarang siapa yang banyak maunya hemm." Goda Jeni


"Hahaha, mati kutu dia." Ronald kembali tertawa melihat Alex yang sudah mati kutu di depan istri bar barnya.


"Ron awas lo ya!" Alex mengalihkan perhatian dengan Ronald yang menjadi kambing hitamnya.


Nasib Alex tertolong, karena lift mulai terbuka. Dia merapikan jasnya yang sedikit berantakan.


Tiga orang yang di tunggu tunggu itu keluar dari lift dan langsung ke pusat pameran.


Alex memberikan beberapa sambutan untuk membuka pameran kali ini.


"Terima kasih, sudah hadir dalam pameran kali ini, seluruh hasil dari pameran ini akan saya dedikasikan untuk orang terkasih saya, dia adalah warna dalam hidup saya, sekaligus yang berhasil menciptakan karya karya indah ini, dialah...!


Dari sudut Ruangan Cintya, segera maju ke depan, berharap namanya yang akan di panggil.


"Dia adalah istri saya, Jenifer." Alex merangkul dan mengecup pucuk kepala Jeni di depan hadirin semuanya. Tubuh Cintya oleng ke belakang, sampai dia mundur beberapa langkah, pupus sudah harapannya untuk memiliki Alex kembali, ingin rasanya dia pergi dari sana, tapi pekerjaan menuntut dia untuk profesional. Jadi Cintya akan tetap di sana dan melakukan pekerjaannya sampai selesai, walaupun dadanya sesak dan amarah sudah berasa di ubun ubun nya.


Mereka terkesima mendengar setiap penjelasan Jeni yang lugas dan menyentuh hati mereka. Apalagi yang bernama Blue diamond, itu menceritakan sebuah berlian yang sangat berharga tapi tertimbun oleh ribuan Jerami. Ada juga yang berwarna pink, melambangkan cita rasa perempuan yang menampilkan emosi dan karakter perempuan itu sendiri.


Pengunjung sangat puas dan akan memesan berlian berlian yang harganya selangit. Serta melelang Blue diamond di penghujung pameran besok.


Alex mengajak Jenifer keluar dari sana.


"Kemana by?" tanya Jeni heran.


"Kita jalan jalan saja yuk, sambil berbulan madu." bisik Alex.


"Acaranya menyelam sambil minum air begitu, dan hemat biaya begitu, haha." Jeni berlari meninggalkan Alex duluan.


Alex segera berlari menyusul istri kecilnya tersebut, dan mengangkatnya.


"Haha, geli by, turunin!" pinta Jeni.

__ADS_1


Alex mengemudikan mobilnya ke kensington garden, sebuah taman di istana ratu victoria, disini beliau di lahirkan, mereka menikmati suasana taman bunga yang sejuk, tapi Jeni kurang begitu suka, menurutnya tempat ini kurang seru.


" by memang tidak ada yang seru seru begitu?" tanya Jeni sambil bergelayut manja pada lengan Alex.


"Maunya kemana, jam big ben , london eyes, tapi disana bagusnya sore hari, kita bisa melihat gemerlap kota london dari atas, atau ke borough market, kamu bisa berburu makanan disana dan...!" belum selesai Alex bicara Jeni langsung setuju mendengar kata akan berburu makanan.


"Setuju ke pasar makanan itu, ayo!" Dengan semangat 45, Jeni mengajak Alex ke borough market, sebuah pasar makanan tertua di london.


Alex tahu kalau Jeni pasti setuju kalau di ajak ke tempat makanan.


Benar saja, Jeni seperti orang kalap saat melihat berbagai macam makanan yang di jual disana, untung bahasa inggrisnya lumayan bagus, jadi dia bisa menawar harga berbagai makanan tersebut.


"Ini baru keren, by perutku jadi mules nih, sepertinya kekenyangan." ucap Jeni yang mulai memegangi perutnya.


"Haha, kamu lucu sayang, lihat mukanya merah seperti tomat." Ejek Alex.


"By, segera tutup hidungnya ,sudah tidak tahan nih."


Alex segera menutup hidungnya sesuai instruksi Jeni. pruut pruuut, Jeni mengeluarkan gas di sembarang arah, karena sudah tidak bisa di tahan lagi.


" Ah lega." Jeni juga mengibas kibaskan kedua tangannya, mengusir parfum alami dari kenalpotnya.


Alex hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan absurt Jeni. Sementara orang orang lain yang lewat di sekitar mereka malah mencari cari sumber aroma tak sedap tersebut, sementara yang membuat kegaduhan cuma nyengir tanpa merasa berdosa.


"Antar ke toilet yuk, rasanya masih ada yang mau keluar!" ucap Jeni memohon dengan memelas.


"Ayo cepat." Alex segera menggandeng tangan Jeni dan menariknya ke arah toilet umum.


Jeni segera masuk ke dalam toilet wanita dan membuang hajat yang tertunda tadi. Di luar Alex sungguh tidak habis fikir, kenapa dirinya bisa menyukai gadis aneh itu. Alex melihat ada beberapa perempuan yang buru buru keluar dari toilet, mungkin mereka tidak tahan dengan parfum yang di keluarkan dari kenalpot Jeni.


"MasyaAllah apa yang dia lakukan di dalam sana hingga mereka pada kabur begitu." Alex tersenyum geli menyaksikan semuanya. Dia pasti akan jadi bahan ledekan Ronald kalau asistennya itu tahu semua ini.


" Kalau Ronald tahu semua ini, bisa di bully gue nanti." batin Alex.

__ADS_1


__ADS_2