
Twins D Mendekati jeni yang baru saja memasukkan ponselnya di dalam tasnya.
"kita cariin dari tadi, tak tahunya baru nongol, mojok lagi sambil senyum senyum melihat ponsel, ada apasih dengan ponsel lo, heran gue!" canda Dina.
"Mau tah, apa mau tahu banget?" balik Jeni menggoda mereka.
" huh, dasar ratu ngeles, ayo kita kumpul, sudah di tunggu pak Farid!" ucap Dona mengajak mereka berkumpul, karena pelatih mereka, sudah menunggu.
"Siap kakak Dona." jawab Jeni tangannya juga hormat seperti hormat bendera.
Jeni melepas jaketnya, dia sudah memakai kaos olahraga khusus untuk tim basket
Mereka bergabung dengan yang lain,menunggu instruksi dari Pak Farid. Pak Farid memberi mereka masing masing sepasang pelindung siku dan lutut, dan mengingatkan kembali strategi mereka kemaren serta harus mengutamakan kekompakan.
" Oke anak anak, kunci kesuksesan kita adalah kekompakan, jangan bermain sendiri sendiri oke, kesampingkan ego kita, jika ingin tim kita menang, karna bekerja sendiri tidak akan membuahkan hasil, dan merugikan kita semua." Jelas pak Farid.
"Siap pak." jawab mereka kompak.
Mereka menyatukan tangan mereka, tangan Pak Farid yang berada paling bawah diikuti Jeni dan lainnya. Mereka juga menyanyikan Yel yel sekolah, untuk memberi semangat pada diri sendiri.
Tim Dari SMU Wijaya sudah berada di lapangan, mereka tersenyum sinis dan meremehkan kemampuan lawan, tim ini juga jago membuat mental lawan mereka down.
__ADS_1
Di lihat dari postur tubuh, tim SMU Garuda kalah tinggi, tapi mereka lincah dan gesit, tampang musuh begitu suram dan sombong,mereka yakin bakalan menang telak. Tapi mereka lupa, semakin mereka menghina lawan, dan tidak mau memandang kebawah, maka kehancuran sudah diambang mata.
"Hei bocah kecil, sebaiknya kalian pulang saja, mimik ***** ibu kalian saja,haha." ejek mereka yang ingin membuat mental lawan menciut.
"Iya tuh, bagaimana kalau jatuh, atit lho haha, lebih baik main boneka saja, anak kemaren sore saja mau melawan tim nasional." sindir mereka.
"Tidak ada kamus menyerah di diri kami, kalah maupun menang kita akan tetap berusaha, jadi ayo kita mulai saja pertandingan kita kakak, bongsor, kalau kalian kalah, jangan menangis ya, malu dong sama badan yang Segede gaban." Balas Jeni dengan Santai.
wasit memasuki lawan, dia membawa koin meminta kapten untuk memilih gambar atau angka. SMU Wijaya memilih angka, yang selama ini menjadi keberuntungannya, dan Jeni memilih gambar Garuda.
Koin sudah di lempar ke udara, melayang ke bawah dan mendarat di atas telapak tangan wasit, dan gambar Garuda yang ada di atas, jadi Tim Garuda yang memulai pertandingan, semua penonton tegang, mereka berdoa supaya keberuntungan berada di pihak mereka.
Pertandingan itu sangat seru, mereka saling berusaha menjatuhkan mental lawan, sang kapten Jeni ahlinya kalau soal itu, dia punya banyak tipuan untuk membuat lawan emosi dan melakukan kesalahan sendiri, dan kesempatan itu di gunakan dengan baik oleh Twins D dan lainnya mengambil bola dari lawan, di babak satu SMU GARUDA unggul 5 angka, sekarang mereka break sebentar untuk istirahat dan mengatur permainan.
Tim Wijaya mengubah haluan permainan mereka, kini yang ditargetkan adalah Jeni, mereka akan membuat Jeni cidera, kalau dia sudah cidera maka timnya akan kendor.
Babak kedua tim Inti Wijaya terus memepet pergerakan Jeni, sehingga gadis itu tidak bisa mengambil atau menangkap bola, tapi metode itu sudah Jeni dan twins D kuasai waktu di SMP dulu.
"Girl, rencana 3 di jalankan!" teriak Jeni dari tengah lapang, seketika tim Garuda merubah formasi mereka dan di pimpin twins D mereka melaku ke ring musuh, seolah tidak mempedulikan keberadaan sang kapten.
strategi mereka ternyata meleset, tim Garuda malah menikmati permainan mereka dan dengan mudah mencetak angka demi angka.
__ADS_1
Tim Wijaya sudah down, mereka bahkan melakukan kesalahan demi kesalahan yang sangat menguntungkan tim Garuda, suporter tim Garuda sangat antusias dalama bersorak, pinggir lapangan penuh dengan anak anak SMU Garuda yang bergembira ria, mereka menyambut dengan gembira kemenangan tim sekolah mereka, ternyata tidak harus menggunakan cara licik untuk meraih kemenangan, cukup dengan strategi yang bagus dan kekompakan tim, yang menjadi kunci keberhasilan mereka, Rendi dan sofyan yang pertama kali masuk lapangan, Rendi tentu saja mengangkat Dina dan Sofyan memeluk Dona dan Jeni.
Reyhan juga mengikuti dua pemuda itu kedalam, sebagai ketua osis dia sangat bangga dengan keberhasilan mereka, dan semakin menaruh hati pada Jeni.
Pak Farid juga mentraktir mereka di sebuah kafe.
"Keren kalian keren, bapak bangga akan kekompakan dan formasi kalian, apalagi saat menipu mereka, ini bisa di jadikan rumus baru dalam per basketan sekolah kita." puji pak Farid.
🍁🍁🍁
Hari berganti, malam ini Jeni tidak bisa tidur, besok dia akan menyandang status baru, yaitu seorang istri. Istri dari Daniel Alexander.
"Pasti akan banyak tantangan dalam rumah tangga kami nanti, dan seperti yang bunda bilang, gue tidak boleh membiarkan pelakor mendekat, apalagi masuk dalam rumah tangga kami nanti, apalagi status kami masih rahasia, apa nanti dia akan mengajak itu, di malam pertama, eh kedua kita, ah bingung."
Jeni memukul mukul kepalanya, dia tidur tidak jenak,berguling ke kanan, kekiri, entah bagaimana kabar seprei di bawahnya. Barulah tengah malam dia ketiduran.
Sama halnya dengan Alex, dia juga tidak bisa tidur, pemuda itu menyendiri di balkon, ditemani dengan Rokoknya. Alex bukanlah pemabuk atau peminum, tapi dia kadang merokok kalau sedang galau, ataupun gelisah, Alex menatap bulan yang sangat indah, ditemani sebuah bintang yang sangat bercahaya.
"Ya Allah, semoga keputusanku kali benar, dan dia akan menjadi masa depanku, gadisku yang lucu, dan nakal, kau telah menjungkir balikkan duniaku, kau telah menghancurkan bongkahan gunung salju dengan tingkah konyol mu itu, Alex Alex, kau ini pedofil, dan kau Juna, kamu malah selalu bereaksi di hadapannya, dan malah tidur nyenyak, bila di suguhi sajian Gratis wanita wanita seksi itu." gumam Alex, dia tersenyum membayangkan saat saat bersama Jeni.
"Apa yang harus aku lakukan ya nanti, istriku masih sekolah, tak bisa ku bayangkan saat gadis itu menyiapkan makanan, apalagi dia seperti cowok, urakan, tengil dan bar bar. Ah entahlah, lex kita lihat saja nanti keseruan rumah tanggamu kelak." gumam Alex kembali.
__ADS_1