GADIS BADUNG DAN CEO KILLER

GADIS BADUNG DAN CEO KILLER
BAB 80


__ADS_3

Jeni memutar bola matanya jengah.


"Makanya cari pacar pak Ron, biar bisa mojok, atau mau di carikan?" tawar Jeni, dia juga menyenggol Alex memberi kode supaya membantunya.


"Iya Ron, tuh ada temen Jeni cantik cantik, bisa pilih salah satu, sayang ada tang jomblo tidak temannya, biar bisa kita jodohkan pada Ron?" Kata Alex.


"Ada tuh si Dona, dia anaknya lebih dewasa, aku sering curhat sama dia by, beda sama kembarannya yang masih centil dan labil, Dona sama seperti ku, belum pernah pacaran, jadi masih ori pak Ron." Jeni merekomendasikan Dona pada Ronald.


"Saya sudah tua nona, apa masih pantas mendapatkan yang masih remaja dan ori, bahkan saya sudah sering di khianati nona." Jawab Ronald.


"Pak Ron, itu namanya pesimis, optimis dong, masak sudah kalah sebelum berperang, lihat tuh pak Ronald kan ganteng, rajin, pekerjaan mapan apalagi coba yang kurang." ucap Jeni.


"Sayang jangan memuji pria lain di depan suamimu sendiri." kesal Alex.


"By ini cuma untuk menyemangati pak Ron, bukan memujinya, sayang, buat aku Suamiku yang paling ganteng sedunia." bisik Jeni.


" Iya deh percaya, benar Ron, ternyata kesalahan masa lalu itu perlu, untuk pelajaran buat kita, tidak untuk di pendam dan di sesali terus, dan kalanya kita mencoba sesuatu yang baru, lihat contohnya gue Ron, begitu mengenal gadis aneh dan bar bar, hidupku lebih berwarna." Alex membumbui kata kata Jeni , dan meminta Ronald untuk membuka hatinya


" Iya yang ada sekarang bucin, tu bos killer nya." jawab Ronald.


Jesika langsung pulang ke rumah, dia teriak teriak dan marah marah, Jesi bahkan membanting barang barang di ruang tamu, jesslin yang baru pulang dari kampus kaget melihat kakaknya yang menggila. Yolanda juga turun menemui putri sulungnya itu.


" Ada apa ini pulang pulang membanting barang barang, teriak teriak. Bikin pusing saja." bentak Yolanda.


Jesslin mengurungkan niatnya untuk masuk, dia lebih memilih mendengarkan ibu dan anak itu dari luar.


" Ini semua gara gara bocah sialan, murah han itu ma, Jesi di pecat dari kantor Daniel, Jesi tidak akan bisa lulus tahun ini ma, huhuu." Jesika mengadu pada ibunya.


" Kenapa bisa di pecat, apa yang sudah kamu lakukan ha?" Yolanda ikut ikutan marah.

__ADS_1


" Bukan Jesi ma, tapi Jeni ma Jeni yang menyebabkan semuanya, semua ini gara gara mama juga arggh." Jesika mengacak rambutnya.


" Kok mama yang disalahkan, bicara yang jelas!" bentak Yola.


" Ini juga gara gara si bodoh Jason itu, bagaimana bisa kalian yang berada di kamar itu bukan Jeni, lihat sekarang bocah murah han itu malah dinikahi Daniel Alexander, dan hari ini gue di pecaaat."


Yolanda juga ikut Syok mendengar kalau Jenifer dinikahi oleh Alex.


" Apa, dinikahi mr Daniel, dan bocah itu memecat kamu." Yola memastikan sekali lagi ucapan Jesi.


" Iya ma, dan Daniel memeluknya di depan Jesi, sakit ma sakit, hik hik hik." tangis Jesika juga mulai terdengar.


" Bukannya hari ini bocah itu di hadang anak buah Jason, bagaimana caranya dia bisa lolos, Jason Jason turun!" perintah Yola pada Jason.


" Kenapa sih teriak teriak seperti towa di mushola saja." Kesal Jason. hari ini mereka sudah bertengkar karena Jason belum juga mendapat pekerjaan.


" Apa yang dilakukan teman lo itu kenapa bocah sialan itu bisa lolos." marah Yola.


"Sialan, bocah itu memang pembawa sial bagi kita, bagaimanapun caranya kita harus bisa menghabisinya, barulah hidup mama akan tenang." ucap Yolanda.


"Iya ma, Daniel harus jadi milik gue, tidak akan gue biarkan dia hidup enak di balik penderitaan gue." geram Jesika.


Jesslin mendengar semuanya, rencana mama dan kakaknya sangat mengerikan, dulu dia tidak menyetujui saat mereka memberi obat laknat itu pada Jeni, dan jadi mereka yang kena karma.


" Aku tidak mau ikut ikutan rencana jahat itu, tapi aku harus bagaimana, kalau pergi dari sini aku tidak punya uang, trus bagaimana dong, hanya Jeni satu satunya jalan keluarnya, aku harus bicara padanya sebelum semua terjadi dan sekarang lebih baik pura pura Tidak tahu saja, supaya lebih aman." gumam Jesslin.


Lalu dia membuka pintu Rumah ,pura puranya baru pulang.


"Ada apa ini ma, kok rumahnya berantakan begini?" tanya Jesslin.

__ADS_1


" Darimana saja kamu, jam segini baru pulang?" Yola malah membentaknya, melampiaskan kemarahan yang tersisa.


"Maaf, hari ini ada tugas dari kampus untuk mempromosikan kampus kami ma." jawab Jesslin.


"Promosi promosi, memang dapat uang dengan mempromosikan kampus sialan itu." kesal Yola.


"Ya tidak ma, tapi ini tugas kampus, paling kamu akan dapat bonus nilai dan uang saku ma." jawab Jesslin.


"Mumpung kamu masih tingkat 2 lebih baik kamu keluar atau pindah kampus saja, kuliah disana juga tidak bikin pinter dan kaya, lihat kaka mu, tinggal magang saja malah tidak di luluskan." Ucap Yola.


"Lho memang kenapa kak, kakak sudah magang dua bulan lo, tinggal Dua bulan lagi memang kak Jesi ada masalah di tempat magang kakak , atau dengan pihak kampus.?" tanya Jesslin.


"Bukan urusan lo, masuk sana, yang ada lo cuma ngrecohi saja seperti waktu itu." dengus Jesi.


Jesslin diam saja dan langsung ke atas menuju ke kamarnya. mending cuma di cuekin saja, kalau itu Jeni yang jadi Jesslin, sudah di pukul atau di jambak, sebagai bahan pelampiasan.


"Si Jesslin lama lama juga ngeselin ma, sekarang dia suka menasehati gue, memang sudah jadi ustadzah, jadi rencana kita jangan sampai ketahuan Jesslin, bisa bisa dia mengacaukan semuanya." ucap Jesika


"Iya sayang, ya sudah kamu sebaiknya mandi sana, nanti kita bicarakan rencana yang bagus dan matang." ucap Yola.


kembali ke Alex.


Sesampainya di rumah Alex memerintahkan Ronald untuk menyelidiki geng motor yang tadi membuntuti Jeni.


"Ron, lo bantu gue mencari tahu geng motor yang tadi menghadang Jeni, tadi siang nyawanya terancam, dia di cegat segerombolan geng motor dan terus di kejar, untung segera sampai di kantor, gue takut kalau kalau itu utusan Ibunya atau si soraya." Ucap Alex.


"Ya Allah ribet amat hidup kalian, ada saja masalah tiap harinya, mana pelakor juga di mana mana." Sindir Ronald.


"Ini juga bukan keinginan gue, mereka saja yang terlalu terobsesi bahkan membahayakan nyawa orang lain. " jawab Alex.

__ADS_1


kedua pemuda itu langsung menuju ke ruang kerja Alex mencari tahu Penguntit Jeni. Alex dan Ronald mulai menyadap cctv jalan raya di sepanjang jalan mulai dari pengadilan sampai kantor.


__ADS_2