
Ronald mengantar Jesslin ke rumah orang tuanya, disana nampak sepi sekali.
"Terima kasih pak, bapak sudah mengantar saya sampai disini, di rumah sepertinya tidak ada siapa siapa, tidak enak kalau memasukkan orang luar." Jesslin mengucapkan terima kasih pada Ronald dan meminta Ronald pulang.
"Tadi katanya mau tempat pak Josh, biar aku tunggi di sini saja." jawab Ronald.
"Nanti saya naik taksi online saja pak, terima kasih." Jesslin turun dari mobil Ronald, dia takut terkana serangan jantung kalau lama lama bersama Ronald, kerena sedari tadi di dalam mobil, suasana menjadi canggung dan kaku, bahkan tidak ada yang bisa mengeluarkan kata kata.
Ronald akhirnya setuju dan mobil mewah tersebut pergi keluar, Jesslin berjalan masuk ke dalam rumah, tapi dia berpapasan dengan Jason, pria paruh baya itu berdiri di ujung tangga terbawah.
"Kamu habis darimana Jesslin, dan dimana mama dan kakak kamu?" tanya Jason.
"Maaf om, saya tidak tahu, saya baru saja mengerjakan tugas di rumah teman." jawab Jesslin dengan tangan gemetar.
"Kenap pria ini yang ada di rumah tahu begini aku mau di temani pak Ron." Batin Jesslin.
Jesslin hendak naik ke atas, tapi tangannya di cekal dan di tarik oleh Jason sampai tubuh Jesslin limbung dan menabrak ke dada Jason
"Ukurannya pas, Tidak besar dan tidak kecil." gumam Jason saat dada itu menabrak dadanya. Jesslin meronta untuk du lepaskan, tapi Jason malah mendekapnya.
" Apa yang kamu lakukan?" sentak Jesslin.
" Aku hanya ingin memeluk putriku, sudah sangat lama, ingin rasanya memeluk kedua putriku" Jawab Jason.
" Tapi tidak begini caranya." Jesslin terus meronta, tapi tenaganya kalah dengan tenaga Jason.
" Lepaskan saya, dan di mana mama?"Jesslin terus mengelak.
__ADS_1
" Tidak ada siapa siapa sayang, entah dimana mereka, dari tadi malam kalian semua tidak pulang, tapi tidak apa apa, suasana aman, kita akan bersenang senang." Jason tersenyum mesum, tangannya mulai meraba raba wajah Jesslin, dan tangan satunya masih mendekapnya erat.
" Lepas, apa yang mau anda lakukan, ingat aku putri kandung anda." Jesslin meninggikan suaranya, berharap ada pelayan yang mendengarnya.
" Tidak perlu berteriak keras, tidak akan ada yang mendengarnya, aku akan mengajarimu menjadi wanita hebat, dan aku bisa membuat dirimu terbang melayang, sepertinya bermain dengan yang muda muda akan lebih menyenangkan, Mamamu sudah tua dan kendur." Bisik Jason.
"Tolong toloong, siapapun tolong akuuu." Jesslin terus meronta, dia menendang ************ Jason, hingga pusakanya yang kena. Jason mengaduh kesakitan, dia melepas cengkeraman tangannya dan memegangi asetnya.
Sementara, Ronald kembali ke rumah tersebut, karena handphone Jesslin terjatuh, serta ada telpon dari Joshua.
" Halo om, ini Ronald." jawab Ronald.
" Dimana Jesslin pak Ron, kenapa belum pulang?" tanya Joshua dengan nada khawatir.
"Nona Jesslin baru pulang dari rumah sakit, yadi katanya mau pulang ke rumah nyonya Yola, untuk ambil pakaian, ini ponselnya jatuh di mobil saya tuan." Jawab Ronald.
"Baik pak Ron, saya cuma khawatir saja, dan perasaan saya tidak enak." jawab Joshua.
Sementara Jesslin setelah menendang burung kakak tua Jason segera berlari menuju keluar, dia segera berlari, dan tidak peduli harus menabrak apa saja karena gugup.
Dengan nafas terengah engah Jesslin berhasil menggapai pintu Depan, Jason dengan langkah terseok mengejar dirinya. Saat membuka pintu Ronald sudah berdiri di depan hendak mengetuk pintu tersebut, tapi tiba tiba terbuka, jadi tangan Ronald malah mengetuk dahi Jesslin.
"Hah hah, p pak tolong saya." Jesslin dengan nafas terengah engah, dan penampilan yang acak acakan berlindung di belakang Ronald.
"Orang itu akan memperkosa saya pak." Adu Jesslin. Dari dalam Jason memanggil nama Jesslin .
"Jess tunggu." suara Jason dari dalam rumah, lalu nampak pria paruh baya keluar sambil berjalan mengangkang, sambil memegangi burungnya.
__ADS_1
Ronald langsung memukul Wajah Jason dengan sekuat tenaga, hingga pria brengsek itu Terhuyung dan bibirnya berdarah, tidak hanya itu saja, Ronald menghajarnya dengan membabi buta. Sampai Jason pingsan, Ronald begitu geram dan kalap.
"Dasar brengsek, bajingan, anak sendiri juga mau di embat." Ucap Ronald dengan muka memerah.
Ronald menelpon polisi, di saat Jason pingsan. Pemuda itu beralih menatap Jesslin yang gemetar ketakutan, dia melepas jasnya dan memakaikannya pada Jesslin.
"Terima kasih pak, dia itu manusia apa bukan sih." ucap Jesslin.
"saya sudah telpon polisi, nanti saya akan bantu kamu untuk membuat dia di penjara dalam waktu yang lama, kalau perlu dia akan mendapat perlakuan yang sangat buruk disana." Ronald menarik tubuh Jesslin di pelukannya, dan menenangkannya. Ronald mengantarkan Jesslin ke rumah Joshua, dia menelpon anak buahnya, mengurus Jason, sambil menunggu polisi datang.
Skip perjalanan.
Sampai di rumah Joshua, Ronald mengetuk pintu rumah sederhana terebut, muncullah Yulia dari dalam, Jesslin segera memeluk tubuh Yulia dengan, dia menumpahkan segala tangis ya di pelukan Yulia.
"Hik hik hik, bun." yulia membalas pelukan putri tirinya, atau lebih tepatnya putri angkat dia dan menenangkan Jesslin, lalu memapahnya ke dalam.
"Pak Ronald, masuklah, dan jelaskan semuanya pada kami." ucap Joshua pada Ronald.
Yulia membawa Jesslin ke kamar, sementara Joshua dan Ronald menuju ke sofa ruang tamu.
"Sekarang jelaskan pada om, apa yang terjadi padanya!" pinta Joshua.
"Tadi sewaktu Saya kembali kesana untuk mengembalikan ponsel nona Jesslin, dia keluar dengan nafas terengah engah, bahkan penampilannya sudah berantakan tuan, nona Jesslin meminta tolong pada saya, dan tak lama kemudian, muncul si Jason dengan langkah mengangkang, dan memegangi cucak Rowo nya, mencoba mengejar Jesslin. si brengsek itu akan memperkosa nona Jesslin tuan." Ronald menjelaskan semuanya tanpa ada yang di tutupi.
"Astaqfirullah, kok ada ayah kandung mau memperkosa anaknya sendiri, benar benar iblis itu orang, lalu?" penasaran Joshua.
"Saya sudah menghajarnya sampai pingsan, maaf kalap tuan, sekarang di bawa ke kantor polisi." Jawab Ronald.
__ADS_1
"Kurang ajar, aku tidak akan membiarkan dia selamat begitu saja." geram Joshua
"Iya tuan, ini tidak bisa di biarkan terus, dulu karena nona Jeni yang meminta membebaskan mereka, jadi sampai sekarang mereka bebas, tapi tidak ada kapok kapoknya, lebih baik orang itu membusuk di penjara." imbuh Ronald. Kemudian mereka berbincang membicarakan cara supaya Jason akan di jerat hukuman yang paling berat.