
Jeni segera menuju kamar mandi dan tidak lupa untuk menguncinya, dia takut kalau suami mesumnya itu masuk dan membuatnya goyah seperti tadi.
"Apa yang kulakukan tadi sudah benar, aku takut kalau segera hamil, padahal tinggal beberapa bulan lagi aku lulus, ya Allah semoga saja aku tidak hamil dulu, tapi kata bunda jika aku menolak ajakan suami akan berdosa bahkan dilaknat Allah, kalau di tolak juga sayang, enak rasanya, hihi." Jeni cekikikan sendiri melihat kelakuannya sendiri.
"Pantas saja banyak pelajar yang hamil di luar nikah ternyata mereka tidak kuat menahan godaan ini semua." gumam Jeni lagi.
Alex mengetuk pintu kamar mandi, memastikan kalau istri kecilnya ada di dalam.
Tok tok tok
"Iya om sebentar." jawab Jeni dari dalam.
"Om, heh aku sudah seperti sugar daddy saja, Lex apa kamu ini pedofil? lihat saja istrimu masih sekolah dan masih kecil, tapi kecil begitu sudah bisa di ajak membuat anak kecil, hehe." Alex tersenyum sendiri mengingat takdirnya, ternyata hanya seorang gadis kecil yang urakan yang berhasil menghancurkan tembok Berlin itu. Alex duduk di sofa meletakkan makan siang sekaligus sore Jeni. Alex sudah berpakaian rapi dan siap untuk berangkat.
Tak selang lama, istri kecilnya itu keluar dari kamar mandi dengan kemeja yang lebih feminim serta celana blisket yang lagi viral saat ini. Alex memperhatikannya mulai dari atas sampai bawah, pemuda itu senang akan perubahan fashion Jeni yang tidak terlalu b aja.
"Ayo makan dulu, dan kita berangkat, Ronal juga sudah menunggu di bawah!" Ajak Alex.
Jeni mengangguk setuju dan memakan semua yang Alex bawakan untuknya, dia tida mau menyia nyiakan semua yang sudah ada.
Setelah semua beres pasangan pengantin baru tersebut segera berangkat ke London dengan, jet pribadi Alex.
Jeni berpamitan dengan Aleena dan David mertuanya.
"Ma, pa, kami berangkat ya, doakan kami selamat sampai di tempat tujuan."
"Iya sayang, kalian hati hati, dan kalau Alex nakal kamu jewer saja kupingnya itu, mama rela." Goda Aleena.
"Ma, jangan menggodanya, kita sudah telat nih." kata Alex.
"Biarin. Lex kamu jaga istrimu dengan baik, jangan sampai hilang, awas kalau sampai hilang." pesan Aleena pada Alex.
setelah basa basi sebentar pasangan pengantin baru ini segera berangkat, Ronald mengemudikan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi.
Sampai di bandara, mereka segera menuju ke jalan khusus untuk menuju ke pesawat. Biasanya jalan itu di peruntukkan untuk penumpang dengan pesawat pribadi, jadi mereka tidak perlu antri.
__ADS_1
Jeni sangat kagum dengan jet pribadi milik keluarga Alexander itu, di dalamnya terdapat fasilitas yang lengkap dan mewah.
"Wah om, pesawat sebesar ini cuma kita yang naik?" heran Jeni.
"Jangan panggil om dong, layaknya seperti sugar daddy saja." kesal Alex.
"Lha memang iya, lihat kita, Om menikah dengan anak sekolahan apa coba kalau bukan sugar daddy." canda Jeni.
Ronald yang mendengar semua itu hanya tertawa dalam hati, takut dosa dan potong gaji.
"Iya, tapi jangan om juga dong!" pinta Alex.
"Trus apa dong, paman, tuan, Suami, lokong, honey, hubby, atau sayang?" celoteh Jeni.
"Lha itu, honey juga boleh, hubby atau sayang, boleh banget!" kata Alex tersenyum.
"Cie yang tersenyum, tapi terlanjur nyaman panggil om!" ucap Jeni manja.
"Ayolah, masak suami sendiri di panggil om, bagaimana kalau punya anak nanti, kamu suruh panggil om papa begitu?" kesal Alex.
"Wah si om, sudah mikir anak juga, Jeni kan masih sekolah." Cemberut Jeni.
"Au" Alex mengaduh.
"Sekarang om Al, sudah pandai menggombal." ucap Jeni malu, bahkan pipinya memerah.
"Mau mencoba, bagaimana rasanya saat di udara." Bisik Alex lagi yang senang melihat Jeni malu dan kesal.
Ronald berdehem.
"Ehm, mau godain pramugari saja ah, siapa tahu ada yang nyantol, disini jadi obat nyamuk." sindir Ronald, sambil berlalu, dia memberi waktu untuk pasangan pengantin baru tersebut mengenal satu sama lain. Ronald juga tersenyum bahagia, ternyata bosnya bisa tertawa bahagia hanya dengan kepolosan seorang remaja urakan seperti Jeni.
"Ternyata kebahagian tuan bos sungguh sederhana, tidak perlu model cantik maupun seksi, bersama dengan nyonya bos dia sudah sebahagia itu, semoga saja kebahagiaan mereka, akan abadi." Ronald mendoakan pasangan tersebut dengan tulus.
Ronald baru ingat kalau Chintya, cinta pertama Alex akan ada di pameran tersebut. wanita itu menjadi pemandu di sana, semua itu kebetulan dan tidak ada yang di rencanakan sama sekali.
__ADS_1
Cintya di tinggalkan ayah tirinya, setelah mereka berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan dari Alex. Keberhasilan Cintya tidak berlangsung lama, perusahaan yang sudah ada ditangan di bawa kabur oleh ayah tiri yang cuma memanfaatkan dirinya, serta di campakkan begitu saja. Padahal cintya baru saja melahirkan buah hati mereka.
"Gue harus bicara pada bos dan nyonya bos, sebelum terjadi ke salah pahaman diantara mereka nanti" gumam Ronald.
Sementara Alex dan Jeni memperhatikan kepergian Ronald dengan senyum masing masing.
"Bagaimana, Ronald sudah tidak ada lho?" goda Alex.
"Apaan sih, apa hubungannya coba antara ada tidaknya pak Ron?" heran Jeni.
Alex mendekat dan merapatkan tubuhnya pada Jeni. Jeni segera menghindar, tapi tangan Alex lebih cepat, tangan kanan Alex berhasil merengkuh pinggang istrinya dan menariknya ke depan. Tubuh ramping Jeni mendarat di dada Alex yang keras, Jeni mencoba menghindar, karena di masih capek karena baru saja sebelum berangkat tadi mereka sudah anu di rumah.
"Om, jangan mesum begini, malu dilihat orang."ucap Jeni.
Katanya malu, tapi dia malah membenamkan kepalanya di pundak Alex dan bergerak gerak terus.
"Jangan bergerak terus, bisa bisa Arjuna memakan mu disini." bisik Alex.
"Siapa lagi tuh Arjuna?" heran Jeni dan mendorong tubuh Alex.
Tangan Alex yang kekar menghentikan usaha Jeni dan mengarahkannya ke Arjuna.
"Mau tahu siapa Arjuna hemm?" suara berat Alex terasa sangat seksi di pendengaran Jeni.
Alex meletakkan telapak tangan Jeni di balik celana Alex, dan Jeni merasakan ada yang bergerak gerak di balik itu.
"Itu adalah Arjuna, yang akan selalu membawamu ke surga, kamu akan ketagihan pasti." bisik Alex.
Jeni yang merasa geli, langsung meremas terong belanda itu dengan keras.
"Auh, sakit yang, memegangnya yang lembut, dia sangat sensitif, tapi kamu boleh menggigitnya seperti tadi." ucap Alex.
Sungguh dia ingin terjun saja dari pesawat mendengar gombalan Alex dan sangat malu, karena tadi dia menggigitnya Arjuna waktu anu tadi.
"Om,ih." manyun Jeni.
__ADS_1
Alex tidak menyia nyiakan kesempatan itu tapi lagi lagi Ronald mengganggu moment romantis mereka.
"Ehm." deham Ronald