GADIS BADUNG DAN CEO KILLER

GADIS BADUNG DAN CEO KILLER
BAB 84


__ADS_3

Dokter membawa Jeni ke ruang operasi, karena lukanya cukup dalam, dan di temukan fakta kalau pasien dalam keadaan hamil muda, nadi mereka tidak mau mengambil resiko terlalu besar, jadi jalan satu satunya adalah operasi.


"Tuan, kami akan melakukan operasi pada pasien, dan mohon di tandatangani surat persetujuan ini, karena lukanya cukup dalam serta ada fakta baru yang kami temukan, bahwa pasien saat ini sedang hamil muda jadi kami harus mengutamakan nyawa keduanya." kata dokter.


"Lakukan yang terbaik untuk mereka dokter, kalau perlu saya akan memanggil tim dokter dari RS internasional Alexander." ucap Alex.


"Kalau harus menunggu bantuan, maka akan memakan waktu, jadi kami akan melakukan sendiri operasi ini sebaik mungkin, oh ya tambah satu lagi tuan, tolong carikan kami darah A+, sebagai cadangan, stok darah tersebut sangat menipis." kata dokter berikutnya.


"Kebetulan golongan darah saya juga A+ dokter, saya yang akan menjadi pendonornya." jawab Alex.


"Oke bagus, anda bisa mempersiapkan diri, permisi, akan ada petugas yang akan membantu anda." Alex mengangguk mengerti.


Di perjalanan, Dina juga sudah menghubungi Joshua dan Aleena, mertua dari Jeni. jadi mereka segera menuju ke Rumah sakit yang terdekat dari SMU Garuda.


5 remaja itu mencari informasi tentang pasian.


" Mbak mau tanya, pasien atas nama Jenifer di rawat dimana ya, dia baru masuk, korban percobaan pembunuhan?" tanya Dona pada resepsionis.


"Sebentar di cek dulu ya mbak!" Petugas tersebut mencari data Jenifer di komputer. tak lama kemudian dia menemukan data Jeni.


"Pasien atas nama Jenifer, korban tusukan, saat ini sedang menjalani operasi." jawab petugas.


"Di mana ruang operasinya?" Tanya dona lagi.


"Kalian lurus saja notok nanti belok ke kanan kurang lebih 19 meter belok lagi ke kiri, disana ruang operasinya." jawab petugas


"Terima kak." Mereka segera menuju ke ruangan yang di tunjuk oleh petugas tadi. Di ruang tunggu tidak ada siapa siapa bahkan Alex juga tidak nampak batang hidungnya.


"Om Al dimana ya?" penasaran Rendi.


Saat itu ponsel Dina berdering, panggilan dari Aleena.

__ADS_1


"Di rumah sakit mana Jeni di rawat nak?" tanya Aleena📲


" Di rumah sakit umum pondok indah tante." jawab Dina.


Yulia juga menelponnya, menanyakan alamat rumah sakit tempat jeni di rawat.


Alex keluar dari sebuah ruangan tidak jauh dari ruang operasi.


"Om ,darimana? bagaimana keadaan Jeni om?". kepo Dona dan yang lainnya.


"Masih kritis, dan masih di dalam, saya baru selesai memberikan darah saya padanya, semoga dia bisa selamat." jawab Alex. wajahnya kuyu, kemejanya masih berlumuran darah Jeni.


Sementara Aleena dan David juga sudah sampai. Aleena langsung memeluk putra semata wayangnya itu dengan Erat.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Aleena.


"Ma, hik hik, Alex tidak mau kehilangan mereka ma, mereka harta Alex yang paling berharga." Alex menangis di pelukan mamanya.


Semua menyaksikan kerapuhan Alex, ternyata laki laki dingin dan killer itu, bisa juga menangis. Aleena meminta Alex duduk di kursi dan membiarkan putranya itu memeluknya kembali. David meminta keterangan dari sahabat Jeni tentang kronologi kejadiannya. David sangat geram dengan kejahatan ibu dan ini itu. Dia menelpon orang kepercayaannya untuk menangkap mereka, dan akan memberi pelajaran dulu sebelum di serahkan ke kantor polisi.


Jesslin, bernafas lega, selain bisa menggagalkan rencana ibu dan saudaranya, dia juga bisa lepas dari segala hukuman


" Tenang sayang, kita berdoa saja supaya Jeni selamat, laly siapa mereka nak, apa ada korban yang lain lagi?" Tanya Aleena penasaran.


" bayi yang ada di kandungan Jeni ma, dia hamil Anakku." jawab Alex.


"Jeni hamil sayang, kenapa tidak cerita mama, sudah berapa minggu?" kepo Aleena.


" Entahlah, Alex baru tahu sekarang, dan tadi pagi kami sudah berencana mau periksa ke dokter, tapi sekarang." ucap Alex.


" Sabar ya nak, Mama yakin mereka kuat, istrimu wanita yang kuat." Aleena mengelus punggung Alex dengan lembut.

__ADS_1


"Lihat tidak malu apa Sama mereka, masak sudah segede ini nangis." hibur Aleena.


Tak lama kemudian Joshua dan Yulia yang datang, mereka juga sangat khawatir dengan keadaan Jeni. Joshua juga melihat Jesslin di sana.


"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Alex pada Jesslin.


" Pa." Jesslin menghambur ke pelukan Joshua, dia sangat kangen pada Joshua, biasanya dia manja pada Josh, tapi setelah kejadian waktu itu, baru kali ini Jesslin merasakan kembali dekapan papanya.


"Pa, kak Jesi dan mama, ingin membunuhnya, hik hik, tadi jesslin ke kantor Mr Daniel, untung mereka percaya pada Jesslin pa, hik hik, Jesslin juga kangen papa, cuma papa Joshua lah papa Jesslin." Jesslin menangis sesenggukan di pelukan Joshua.


"Iya sayang, papa ada di sini, Jesslin putri papa nak, putri kesayangan papa." Joshua membelai Rambut Jesslin dengan lembut dan mengecupnya.


Jesslin terus nempel ke Joshua seolah dia akan kehilangan Papanya lagi.


Satu jam berlalu, barulah lampu di ruangan tersebut mati, dokter keluar dari sana.


" Dokter bagaimana keadaannya?" Tanya Alex.


" Alhamdulillah operasi berjalan dengan baik, dan pasien sudah melalui masa kritisnya. kami akan pindahkan ke ruang Rawat." Jawab Dokter. Mereka semua bernafas lega.


"Dokter, sebelumnya mohon maaf, apa boleh pasien kami pindahkan ke rumah sakit keluarga, supaya kami bisa memantaunya dengan baik." David mengusulkan untuk memindahkan menantunya ke rumah sakit swasta milik sendiri.


"Tentu saja tuan David, disana perlengkapan dan fasilitasnya juga lebih bagus, kami malah sangat senang, dan juga bangga, bisa membantu keluarga Alexander." jawab Dokter dengan berbesar hati.


" terima kasih juga, atas usaha tim dokter semuanya, karena sudah menyelamatkan menantu saya, kami akan memberi bonus khusus untuk kalian semua, biar asisten saya nanti yang mengatur." Jawab David.


David juga menelpon Rumah sakit International Alexander untuk memindahkan Jeni ke sana, dan menyiapkan ruangan khusus untuk keluarga.


Alex segera masuk ke ruang operasi tersebut, karena tidak jadi di pindah ke ruang Rawat, sementara David segera mengurus Administrasinya. Ambulan dari RSI Alexander sudah tiba. Banyak yang menyaksikan kedatangan Alphard putih yang bertuliskan RSI Alexander, mereka nampak kagum ,ambulance nya saja mobil Alphard, lalu seperti apa fasilitas rumah sakitnya. kebanyakan kaum menengah belum mengenal rumah sakit tersebut, mungkin karena mahal atau apa ya.


Alex ikut ke dalam ambulance, dia tidak mau jauh sedikit saja dari Jeni, sementara mobilnya di kemudikan oleh Sofyan.

__ADS_1


"Ren, bagaimana nyetirnya ini kok tombol semua." ucap Sofyan masih kebingungan.


Untung sopir dari David mendekat, dan mengajari sofyan memahami fungsi masing masing tombol tersebut.


__ADS_2