GADIS BADUNG DAN CEO KILLER

GADIS BADUNG DAN CEO KILLER
BAB 58


__ADS_3

Jenifer memasuki kamar Alek yang tidak jauh berbeda dari kamarnya, selera mereka bisa dibilang mirip suka warna hitam dan warna gelap.



"Wah kamar om Alex keren, ternyata selera kita tidak jauh beda, abu, hitam." Jeni menelusuri kamar tersebut, menuju ke ruang ganti, Jeni mengambil handuk dan baju santai.


"Lebih baik gue mandi dulu, dan istirahat. nanti sore harus naik pesawat dengan waktu yang lama." gumam Jeni.


Jeni menuju kamar mandi mengisi bathtub dengan air hangat dan mengambil aroma terapi coklat milik Alex, Jeni merendam tubuhnya disana supaya rileks, tapi ada kesalahan yang dia perbuat.Jeni lupa mengunci pintu kamar mandi.


Tak lama kemudian Alex juga masuk ke kamarnya, dia melihat kamar itu kosong, dan tidak nampak Jenifer disana.


" Paling dia masih ngobrol dengan mama, biasa wanita kalau sudah menggosip pasti kemana mana." gumam Alex.


Alex melepas pakaiannya di masukkan ke tempat baju kotor, dia masuk ke kamar mandi hanya dengan handuk melilit di pinggang ke bawah sedikit.


Jeni yang sudah selesai berendam, dia membilas tubuhnya di shower, pada saat itu Alex masuk ke dalam, Jeni belum mengetahui kedatangan Suaminya itu sementara Alex yang melihat pemandangan indah itu yang kedua kalinya meneguk saliva nya dengan kasar, ini yang kedua dia melihat tubuh polos Jeni, Apalagi si Juna, dia langsung bereaksi dan berdiri tegak di balik handuk Alex.


"Astaga, dia tidak mengunci pintunya, ini suatu kode apa bocah ini memang ceroboh." gumam Alex. Alex mendekati pintu kaca tersebut dan ikut masuk ke dalam, awalnya ingin menggoda Jeni tapi dia malah yang tergoda dengan mulusnya tubuh Jeni.


"Kenapa pintunya tidak di kunci hmm?" tanaya Alex pelan ,tepat di belakang Jeni.


"Arghh." Jeni berteriak kencang dan reflek menoleh kebelakang. Dada Jeni menabrak dada bidang Alex yang kotak kotak, idaman para wanita banget.


Alex menangkapnya. Dada mereka saling bertabrakan, bukit kecil itu menempel di dada Alex.


"Om, bagaimana om bisa masuk?" tanya Jeni sangat gugup, jantungnya berdetak sangat kencang, apalagi posisi mereka sangat dekat dan tidak ada jarak.


"Kamu tidak menguncinya, sengaja ya hmm?" suara Alex sangat berat, pemuda itu sudah menahan sesuatu yang sama seperti kemaren.

__ADS_1


Rencananya Jeni ingin melepaskan diri dari Alex, tangannya menyentuh roti sobek itu, sangat keras, Jeni bisa merasakan detak jantung Alex yang berdetak sekarang miliknya, tak terasa tangan itu malah meraba dada Alex.


"Kamu suka?_ bisik Alex di telinga Jeni, Tubuh Jeni meremang, bulu kuduknya berdiri, dan di bawah sana dia merasakan ada benda keras yang bergerak.


"Ah," sebuah suara indah lolos dari bibir Jeni seketika dia menutup bibirnya rapat, Tangan Alex mulai nakal, bergerilya di punggung Jeni. Gadis itu menutup matanya, merasakan sensasi luar biasa yang selama ini. belum pernah dia rasakan, dia ingin berhenti tapi tubuhnya berkata lain, bahkan meminta lebih.


Alex menggiring Jeni ke tembok kaca, shower terus menyala mengguyur tubuh mereka. mungkin handuk Alex juga sudah jatuh dimana, Alex mendekatkan wajahnya ke wajah Jeni yang terpejam itu, dengan perlahan Alex mencumbu Bibir mungil itu, manis, dan masih sama seperti waktu itu, awalnya hanya kecupan singkat, tapi lama lama menjadi panas, bahkan Istri kecilnya itu juga sudah merasa rileks dan mulai menerima serangan Alex, tangan Jeni Melingkar di leher Alex, membuat pemuda itu makin melancarkan aksinya, bahkan tangannya sudah berkelana di bukit kembar kecil dan padat menantang itu.


Alex menggendong tubuh itu keluar dari kamar mandi dan di merebahkan di atas kasur mewah itu perlahan seperti sebuah kaca yang mudah pecah.


" sudah siap?" bisik Alex lagi.


"Siap kenapa om?" tanya Jeni yang tidak mengerti arah pembicaraan Alex.


"Ternyata gadis badungku ini sangat polos, sudah siap ke surga sayang?" ucap Alex lagi.


" Ya Allah om apa itu, kenapa ada yang bergerak sendiri di sana?"


"Namanya Arjuna, apa kamu mau memegangnya?" goda Alex, dia mengarahkan tangan Jeni, supaya menyentuh Arjuna.


"Aa" Jeni berteriak lagi, tapi sekarang di bungkam dengan mulut Alex, merea kembali bercumbu panas, Jeni juga sudah bisa mengimbangi Alex walaupun masih kaku, Arjuna mencari sendiri rumah yang sudah pernah dia singgahi itu, dan .. Sensor ya kak hehe.


Mereka melakukan itu, di siang pertama setelah menikah, Alex untung banyak, akibat kelalaian Jeni yang tidak menutup kamar mandi dia mendapat bonus yang sangat banyak, bahkan tubuhnya makin Fresh. Kali itu Alex mengeluarkannya di dalam sana. Bahkan Alex berharap kalau Alex junior akan segera otw.


Alex mengecup pucuk kepala Jeni dengan lembut. Love my little wife,maaf aku tidak bisa menahan nafsuku untuk tidak memakan mu.


Alex menyelimuti tubuh polos istrinya sebatas leher, dan dia segera mandi, karena beberapa jam Lagi mereka harus berangkat ke London.


Satu jam kemudian dia membangunkan Jeni untuk mandi wajib, dan melaksanakan kewajiban sebagai muslim, semua sudah Alex siapkan.

__ADS_1


"Jen bangun, mandi ya, sebentar lagi kita hrus berangkat, kamu bisa tidur lgi di pesawat.


Jeni menggeliat dan mengucek matanya, selimut itu tersibak hingga bukir kembarnya terlihat sangat nyata.


"Jangan menggodaku lagi, bisa aku makan lagi kamu!" Alex mengingatkan.


Jeni yang baru sadar dengan keadaan dirinya langsung menutupnya lagi dengan selimut.


"Om Al mesum." kesal Jeni.


"Mandi ya, atau aku mandikan?" Alex menggodanya lagi.


"Enggak, Jeni bisa mandi sendiri, tapi om Al keluar dulu, malu tahu." jawab Jeni.


"Kenapa meski malu, aku sudah melihat semuanya bahkan memegang dan merasakannya" jawab alex. Sontak sebuah bantal melayang ke arah Alex dan dengan sigap, Alex menangkapnya.


"Oom."


"Oke, aku keluar dan akan mengambil makan siang untukmu, tadi kamu belum makan siang kan?"


Alex meletakkan bantal tadi di kasur dan keluar meninggalkan Jeni sendirian di kamar, membiarkan istri kecilnya itu bersiap siap, kalau dia masih disana, yang ada malah akan lama, dan tidak jadi berangkat.


Jeni masuk duduk termenung di ranjang pengantin itu, apa yang di takutkan ya kembali terulang.


" Tapi kenapa aku tidak bisa menolaknya ya tadi bahkan meminta lebih, ah bagaimana ini, mau menolak tapi kok rasanya enak ya, hihi."


Jeni memukul sendiri kepalanya.


"Ih dasar otak miring, apasih Jen yang kamu fikirkan, oke semua sudah terjadi, dan sekarang tugasmu jen, jauhkan rumah tanggamu dari para pelakor, basmi mereka sampai ke akar akarnya." Gumam bocah itu dan segera ngacir ke kamar mandi, tapi sekarang dia menguncinya dari dalam.

__ADS_1


__ADS_2