GADIS BADUNG DAN CEO KILLER

GADIS BADUNG DAN CEO KILLER
BAB 82


__ADS_3

Alex mengemudi mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju Ke SMU Garuda. Alex memarkirkan mobilnya tepat di tempat parkir khusus guru, mobil mewahnya mengundang banyak perhatian warga sekolah.


"By kok tidak tempat biasa sih parkirnya, lihat itu jadi pusat perhatian kita." kesal Jeni.


"Memang kenapa, aku akan menemui guru olahraga kamu dan langsung memintakan ijin, kalau cuma kamu sendiri yang minta ijin, pasti masih ribet." jawab Alex santai.


"Tau ah gelap." sewot Jeni. Dia meminta tangan Alex untuk pamitan, tak lupa pemuda itu mengecup dahi Jeni.


Jeni segera keluar dari mobil, diikuti Alex tak lama kemudian, tapi Alex akan menggunakan masker serta kacamata hitam , saat berkunjung ke sekolah.


Ketika melihat Jeny Keluar mobil, para Siswi yang syirik langsung berbisik bisik, entah apa yang mereka bicarakan, apalagi setelah melihat Alex juga keluar.


Dengan gagah dan berwibawa, Alex masuk ke ruang guru.


" Siapa guru olahraga kelas 12 , yang hari ini mengetes ujian praktek?" Tanya Alex dengan tegas, dia tidak perlu basa basi dulu dan langsung to the poin mencari guru olahraga Jeni.


"Saya Tuan." jawab pak Rudi.


"Ke ruangan saya sebentar!" pinta Alex pada guru tersebut. Pak Rudi segera mengikuti Alex, dengan perasaan berdebar debar, takut kalau dia melakukan kesalahan dalam menjadi guru di sana.


" Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Pak Rudi.


"Maaf, pagi pagi sudah mengganggu jadwal bapak,. saya cuma mau meminta kepada anda untuk tidak mengijinkan siswi yang bernama Jenifer, anak 12 Ipa 1, ikut Ujian olahraga apapun." ucap Alex.


"Maaf, apa ada alasan khusus, sebab saya harus memberi alasan yang tepat pada Jeni dan juga murid saya yang lain." Ucap pak Rudi.


"Dia istri saya, dan kemungkinan sedang mengandung anak saya, jadi saya tidak mau terjadi apa apa pada bayi dan istri saya." Jawab Alex dengan jujur dan lugas.


Pak Rudi juga kaget, kalau ternyata pemilik yayasan ini sudah menikah dengan murid sekolahnya sendiri.


" Maaf, kalau membuat anda kaget, pernikahan kami memang sifatnya rahasia, istri saya takut kalau akan di DO, jadi saya mohon bapak cari alasan yang tepat, atau bapak diam diam dulu, biar dia minta ijin dulu, dan beri saja tugas lain, seperti membuat makalah atau apa sebagai gantinya, perlakukan dia sam dengan murid bapak yang lain cuma jangan diijinkan ikut olahraga. " Ucap Alex berikutnya, dia berdiri dari tempatnya, memakai kembali masker dan kaca mata hitamnya, lalu keluar.


Meski sudah memakai masker dan kacamata tetap saja pesonanya tidak berubah tubuh atletisnya menjadi perhatian para Siswi.

__ADS_1


"Eh siapa sih dia, lihat bodynya bagus banget pasti dia ganteng." kepo si mona.


"Oh orang itu tadi datang bersama dengan Jeni." bisik temannya.


"Ih, Jeni lagi Jeni lagi." kesal Mona.


Sementara Jesika dan ibunya membuat sebuah rencana akan mencelakakan Jeni, mereka menyewa orang supaya menyamar sebagai murid SMU Garuda.


" Lo harus membuat dia celaka, kalau perlu mati sekalian." ucap Jesika dengan kesal.


" Tapi tarifnya beda ya bos, di buat cacat, tarif 2 juta, kalau di bikin mati, tarifnya 10 juta, bagaimana, kalian tidak perlu lagi meragukan kemampuan gue, kalau soal ini, selama ini tingkat kegagalan misi gue cuma 0,1 %. Jawab si pembunuh bayaran tersebut.


" oke, lo bunuh dia, kalau bisa hari ini juga. kalau berhasil, jangankan 10 juta, lo akan gue bayar 20 juta." Jesi bahkan akan memberi dua kali lipat dari tarif yang di tawarkan orang itu.


" beres bos, berikan foto orangnya!" Si pembunuh, meminta foto Jeni pada mereka.


Jesika segera mengirim foto Jenifer ke hp orang tersebut.


" Guys, gue tidak bisa ikut ujian hari ini, bisa bantuin gue tidak minta ijin ke pak Rudi." Bisik Jeni pada twins D.


"Memang kenapa?" tanya Dona.


"Om Al, melarang, beberapa hari ini dia sakit, dan malah mengira gue hamil, jadi sebelum di periksa, gue tidak boleh ikut olahraga dulu." bisik Jeni lagi.


"What, ha..." teriak Dona, dan sebelum dia melanjutkan kata katanya Jeni segera membungkam mulut Dona.


" Emhh" Dona mengangguk faham, dia tahu maksud Jeni. barulah Jeni melepasnya.


"Sudah berapa?" bisik Dona.


"Belum tahu, masih nanti sore periksanya, atau habis sekolah." jawab Jeni.


"Berarti gue mau punya keponakan dong, dan anak dan adik lo ntar sepantaran dong?" Bisik Dona lagi. Jeni hanya mengangguk saja karena pak Rudi sudah sampai di lapangan.

__ADS_1


" Pagi anak anak, bagaimana sudah siap dengan kegiatan kita hari ini." salam dari pak Rudi.


"Pagi dan siap Pak." jawab semuanya kecuali Jeni. Pak Rudi memperhatikan mimik Jeni yang nampak kebingungan, dia nampak pucat , tidak seperti biasanya.


"Jeni kamu kenapa, sakit? muka kamu juga pucat?" tanya Pak Rudi.


"I iya pak, saya tidak enak badan, boleh ikut ujian susulan atau mengerjakan tugas yang lain." kata Jeni lirih.


" Siapa lagi tang saat ini sakit selain Jeni?" tanya pak Rudi.


"Saya pak." Lusi mengacungkan tangannya, dia baru saja pulang dari rumah sakit.


" Oke, karena Jeni dan lusi sakit, dan tidak memungkinkan untuk mengikuti ujian, maka saya akan memberi keringanan, tapi bukan berarti tidak mendapatkan tugas, kalian berdua harus membuat makalah tentang olahraga, besok bisa di kumpulkan." ucap pak Rudi.


" Yah ini mah malah lebih parah lagi." keluh Lusi.


" Tidak perlu mengeluh, kalian berdua bisa mencari bahannya di perpustakaan, untuk yang lainnya kita mulai saja dengan olahraga lari." Pak Rudi tidak menerima protes dan pura pura tidak tahu siapa Jeni.


Hari ini Jesslin sengaja ke kantor Alex, dia tidak menyerah walau mendapat penolakan dari resepsionis.


"Pagi kak, saya ingin bertemu dengan pak Daniel, ada sesuatu yang penting yang ingin saya sampaikan." Jesslin menemui Resepsionis itu.


" Maaf dik, apa adik sudah ada janji Dengan Tuan Daniel?" tanya Dita resepsionis yang shift pagi itu.


"Belum, tapi ini penting sekali." ucap Jesslin.


"Maaf, kami tidak bisa mengijinkan siapapun juga bertemu Mr Daniel tanpa ada janji." jawab Dita.


" Tapi mbak, ini menyangkut nyawa istri beliau, saat ini nyawanya dalam bahaya." ucap Jesslin, dia tidak punya pilihan, dan mengatakan pada Dita siapa tahu diijinkan.


" Kalau boleh tahu anda siapanya istri Mr Daniel?".tanya Dita.


" Saya kakaknya, saat ini kakak pertama kami dan ibu kami sedang merencanakan sesuatu, tolong hubungi mr Daniel, atau antar saya ke tempat tuan Daniel." Jesslin terus berusaha meyakinkan Dita dan berharap kalau dia tidak terlambat.

__ADS_1


__ADS_2