GADIS BADUNG DAN CEO KILLER

GADIS BADUNG DAN CEO KILLER
BAB 87


__ADS_3

Yolanda membisikkan sesuatu pada Jesi, mereka akan mengelabuhi Penjaga kamar tersebut.


Yolanda akan pura pura sakit dan pingsan, nanti kalau pengawal datang, pasti akan memberi pertolongan pad Yola, barulah Jesi akan bertindak, memukul pengawal dengan kayu dan mereka akan keluar lalu mengunci pintu dari luar, itu rencana dari mereka berdua.


"Bagus ma, ayo kita lakukan sekarang, kok bisa bisanya kita tadi percaya pada mereka dan berdandan secantik mungkin, tapi mereka bilang nasib Jeni masih tanda tanya, berarti pembunuh bayaran tadi sudah berhasil , dan ada yang membantu bocah sialan itu ma." Jesi malah membicarakan Jeni, bukannya menjalankan misi untuk kabur.


"Kita fikirkan nanti saja, yang penting kita bisa keluar dulu dari sini, dan mereka sudah tahu kalau kita adalah otak dari pembunuhan itu, berarti kita harus bersembunyi dari kejaran orang orang Daniel itu." jawab yolanda.


Yolanda mulai mengacak rambutnya dan pira pura pingsan.


"Tolong, tolong ibu saya tuan, tolong." Jesika berteriak dari dalam kamar, tapi tidak ada yang masuk ke sana. Jesika mengintip Melalui celah lubang kunci, mengira di luar tidak ada orang, tapi ternyata masih ada beberapa orang di luar sana, yang dapat dia lihat dari lubang kecil tersebut.


Jesika pantang menyerah, dia masih berteriak teriak minta tolong, tapi kali ini Jesi juga menggedor pintu kamar tersebut dengan kencang.


"Tolong, tolong ibu saya sakit dan pingsan." Teriak Jesika. Salah satu pengawal itu masuk ke dalam tapi yang dua berjaga di luar pintu, untuk mengantisipasi kalau mereka akan kabur.


"Kenapa teriak teriak?" bentak pengawal.


"Ibu saya sakit, jantungnya kumat, tolong dong belikan obat,.atau di bawa ke rumah sakit, hik hik." Jesika memohon pada pengawal itu untuk memberi Yolanda obat atau membawanya ke Rumah sakit.


"Trik lama, memang kami orang bodoh yang bisa di kibuli, simpan saja tenaga kalian untuk menerima hukuman dari tuan Alexander." jawab Pengawal yang tidak percaya dengan drama Jesika.


"Saya tidak bohong, bagaimana kalau mama saya mati di sini, apa kalian mau bertanggung jawab." ucap Jesika.

__ADS_1


"bagus itu jadi tidak perlu di apa apakan sudah mati duluan." pengawal tersebut kekeh pada pendirian bahkan tersenyum sinis. Karena orang itu sudah memantau apa yang Jesi dan mamanya lakukan lewat rekaman cctv.


" Dasar tidak berperasaan, biadab, kejam." Jesika marah marah bahkan mencaci mereka.


"Oh ya, kami cuma mengikuti kekejaman kalian, mana ada seorang ibu kandung dan kakak kandung, menghabisi adiknya sendiri." Pengawal keluar dari tempat tersebut, Jesika masih saja terus berteriak seperti orang gila.


Tak lama kemudian pintu terbuka lagi, tapi pengawal yang tadi kini membawa selang air dan menyemprotkan Air tersebut ke sekujur tubuh yolanda, terakhir ke mukanya sehingga Yolanda gelagapan dan terbatuk batuk.


" UHuk uhuk." wanita tengah baya itu mengelap mukanya yang penuh Air. Tidak sampai di situ juga, Dia juga menyemprotkan Tersebut ke Jesika.


Baru pengawal tadi keluar dengan santainya.


" Sial, kita malah basah kuyup ma." cemberut Jesika. dia kesal sekali karena orang orang itu tidak dapat dia kelabui.


" Sekarang lo temani papa, memberi pelajaran dua ular tersebut, gue tidak mau tahu, buat mereka menderita kalau perlu bosan untuk hidup di dunia ini !" Alex memerintahkan Ronald membantu ayahnya.


" Siap bos." Jawab Ronald.


"Ayo om kita berangkat!" Ajak Ronald pada David.


Dua pria beda genre itu segera berlalu dari rumah sakit tersebut. Lalu Alex meminta teman teman Jeni untuk kembali ke sekolah, untuk meminta jadwal ujian ulang, karena ujian hari itu belum berakhir.


" Kalian sebaiknya kembali ke sekolah, buat permohonan untuk ujian alang, katakan pada kepala sekolah, aku yang memerintahkan, keadaan Jeni sudah stabil, dia sudah melewati masa kritisnya, besok kalian bisa datang lagi kemari setelah dari sekolah." ucap Alex.

__ADS_1


" Oke baik om, semoga Jeni dan calon keponakan kita baik baik saja, nitip Jeni ya om, dia bukan cuma sahabat kami tapi juga saudara kami." Dona menjawab perintah Alex.


Setelah kepergian 4 murid itu Aleena mendekati putranya, meminta Alex untuk mandi dan berganti pakaian, karena paksian Alex Masih sama dengan yang tadi dan masih penuh dengan darah kering.


" Sayang, kamu mandi dan ganti baju gih, mama dan yang lainnya yang akan menjaga Jeni, apa kamu ingin istrimu melihat dirimu yang seperti ini, tidak kan !" Ucap Aleena.


Alex mengangguk menyetujui kata kata Aleena, untuk mandi dan berganti pakaian. Alex mengambil paper bag yang tadi Ronald bawa untuknya.


" Aku mandi dan ganti baju di sini saja ma tidak usah pulang." jawab Alex.


"Terserah kamu nak, yang penting mandi dan ganti pakaian" ucap Aleena.


Skip mandi


Setelah mandi Alex meminta mertua dan kakak Jeni untuk pulang.


" Papa, bunda dan kak Jesslin lebih baik pulang duluan, kasihan bunda, tidak enak badan, wajahnya pucat pa, saya takut karena kelelahan nanti bahaya untuk om kecil." Ucap Alex.


Joshua memperhatikan muka Yulia yang memang pucat, jadi dia menyetujui usul Alex.


" Baiklah nak, nanti hubungi papa kalau Jeni sudah sadar, terima kasih." ucap Joshua.


" ini sudah kewajiban Alex sebagai suami Jeni pa, jadi jangan berterima kasih lagi." jawab Alex.

__ADS_1


Joshua kemudian mengajak istri dan anaknya untuk pulang, Joshua membawa Jesslin pulang ke rumah mereka.


__ADS_2