GADIS BADUNG DAN CEO KILLER

GADIS BADUNG DAN CEO KILLER
BAB 38


__ADS_3

Josh bersyukur, di tengah kemelut hidupnya muncullah sosok Yulia yang selalu bisa mengerti dirinya, walaupun pernikahan mereka salah, tapi josh akan selalu melindungi Yulia seandainya Yolanda tahu kalau josh menikah lagi, dengan dukungan Yulia ini membuat josh memantapkan hatinya untuk menceraikan Yolanda, dia akan meninggalkan hartanya untuk anak dan istrinya tersebut. sudah lama sebelum bertemu dengan Yulia, bahkan sebelum Jeni lahir mereka sudah sering cek cok, masalah utamanya adalah uang, pernah josh berfikir apakah anak pertama mereka itu adalah anak kandungnya, mengingat kalau yolanda melahirkan jesika baru di bulan ke tujuh, dan bayi itu normal, bukan termasuk bayi tabung. Dari dulu yolanda memang mengejar dirinya tapi joshua tidak pernah merespon sampai suatu saat dia diberi obat tidur, tahu tahu paginya dia sudah tidur dengan yolanda dengan keadaan yang sama sama polos.


Hari ini Joshua akan menginap di rumah istri keduanya tersebut. Joshua menerawang langit langit kamar itu, mengingat kembali kisah masa lalunya.


Nengok perjalanan jeni dan Alex kembali ya, mereka sudah setengah jalan lebih, jalanan makin berkelok kelok, hamparan sawah yang luas sudah terlihat.


"Sebenarnya gue lebih suka pemandangan disini daripada di kota, lihat mereka meski hanya petani biasa hidup mereka seperti sudah bahagia, mereka tidak memikirkan bagaimana menghidupi anak buah yang beribu ribu, asal besok bisa makan dan tidak memiliki hutang saja sudah sangat bahagia.


Alex menunjuk ke arah para petani yang mulai meninggalkan sawah mereka, pemandangan yang sungguh apik. Jeni menoleh ke arah telunjuk Alex, jarak mereka lumayan dekat, Alex menoleh untuk memastikan apakah Jeni melihat pemandangan tersebut, pas dia menoleh jarak mereka ternyata sangat dekat, jarak wajah mereka sangat dekat hanya tinggal berapa inci saja, hidung Alex sudah hampir menempel ke arah hidung mancung milik Jeni, hembusan nafas mereka bisa saling tercium, Ronald yang melihat hal tersebut dari kaca spion, memiliki ide jahil, dia malah melewati lubang di tengah jalan sehingga mobil bergoyang ke kiri, sehingga tanpa keseimbangan yang cukup Alex tidak sengaja mencium bibir mungil Jenifer. Jantung keduanya berdetak begitu kencang, seperti suara genderang yang ditabuh. Alex merasakan sesuatu yang lain, bibir gadis ini terasa manis dan bagaikan magnet yang tidak ingin di lepas, lumayan cukup lama dia menikmatinya walaupun cuma menempel saja tidak ada yang lebih.


Jeni yang tersadar segera mendorong dada Alex untuk menjauh. Alex segera meringsetkan tubuhnya dan agak menjauh, dia mengalihkan mukanya ke depan sambil membenahi.kemejanya.


"Maaf tadi kecelakaan." ucap Alex begitu canggung. sementara Ronald tersenyum sangat tipis.


"Maaf tuan, nona, tadi ada lubang di tengah jalan dan tidak sempat menghindar." Ronald minta maaf pada mereka.


Di kursi penumpang itu suasana berubah menjadi sunyi, Jeni mengalihkan pandangan matanya ke arah keluar jendela, menutupi kalau mukanya saat ini memerah, dia juga menetralkan detak jantungnya yang masih dag dig dug.


"Begini Kah rasanya berciuman, pantas saja banyak yang kecanduan, rasanya aneh dan tidak bisa diungkapkan, dada juga menjadi berdebar tidak karuan." batin jeni.


Sementara apa yang terjadi pada Alex, dia menerawang pandangan ke depan, di sandarkan nya kepala itu ke sandaran kursi, Alex meresapi apa yang barusan terjadi, dengan tidak sengaja mereka sudah berciuman, walaupun bukan ciuman panas tapi sudah membuat Seorang Alex menggigit bibir bawahnya pelan.

__ADS_1


"Bibirnya terasa manis, membuat tidak ingin lepas saja, kenapa jantungku juga berdebar sangat kuat, ini junior juga malah bangun lagi, ingat dia masih bocil, anak sekolah, lex sadar dia pantasnya jadi adik kamu." hati Alex dilema, dia menoleh ke arah gadis kecil yang masih melihat ke arah luar.


Suasana menjadi sunyi, lama lama Jeni sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya, dia memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya ke kaca jendela mobil. Tak butuh waktu lama jeni untuk tertidur, dia sudah terlelap, kepalanya juga sedikit oleng. Alex yang melihat hal tersebut menyandarkan kepala jeni ke pundaknya, tangan kirinya merangkul gadis tersebut, kemudian Alex juga akhirnya tertidur, tinggal Ronald sendiri yang masih terjaga.


Ronald tersenyum melihat bosnya yang kelihatannya sudah mulai membuka hatinya untuk seorang wanita. 3 jam mereka melakukan perjalanan tanpa suatu hambatan apapun, kira kira jam tujuh malam barulah dua mobil yang membawa rombongan Alex serta teman teman jeni tiba di sebuah villa yang Unik dan klasik.


"Bos, kita sudah sampai, bangun!" Ronald membangunkan Alex, memberitahukan kalau mereka sudah sampai.


Alex dan Jeni bangun bersamaan, Jeni kaget melihat bagaimana posisi tidurnya yang berada di pelukan Alex, sementara Alex pura pura tidak tahu.


"Om, perasaan Jeni tadi tidurnya bersandar di jendela mobil, kok ..! Jeni tidak melanjutkan perkataannya tapi memperhatikan Alex yang duduk santai di kursinya.


"Pak Ronald apa yang terjadi?" heran Jeni.


"Tuh kan dengar kata Ronald, dan lihat lenganku jadi kebas, dan kaku." Alex membela diri. dia tidak mengaku kalau sebenarnya dirinyalah yang merubah posisi tidur Jeni.


Jeni hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan segera keluar dari mobil. Tuan dan nyonya david menyambut dengan baik. Setelah makan malam dan istirahat sejenak Alex dan Jeni memeriksa keadaan motor mereka lalu menelusuri medan yang akan merek lalui



Jalan yang cukup menantang dan indah, ujung jalan ini menuju ke desa, jadi mereka balapan mereka berawal di perbatasan desa ini dan berakhir di villa Alexander.

__ADS_1


"Ayo kita uji kemampuanmu, apa gadis badung ini layak diperjuangkan." Alek keceplosan .


Jeni mengernyitkan keningnya, kaget dengan perkataan Alex, apa yang dimaksud dengan diperjuangkan oleh Alex.


" Diperjuangkan apa maksudnya?"


Alex sedikit salah tingkah dengan ucapan dia sendiri. tapi dia bisa segera mengubah ekpresinya.


"O, itu salah ucap maksudnya tadi bisa di pertimbangkan untuk modifikasi motor gue yang lain." ucap Alex menghindar.


"Oh, kirain ada yang lain, hehe." cengir Jeni.


"Memangnya apa yang lain itu?" ganti Alex membalikkan pertanyaan itu Ke Jeni.


"Ya siapa tahu om Alex menyimpan rasa ke Jeni, secara Jeni anak jenius, dan beda dari cewek cewek om Alex." ceplos Jeni.


"Cewek mana, gue tidak punya cewek, mereka cuma perempuan gatel, dan semua wanita sama saja, hanya melihat dari tampang dan uang, siapa juga yang suka dengan bocil labil , bodi juga rata." celetuk Alex.


"Enak saja bodi rata, mau gue buka om!" tantang Jeni.


"Buka apanya?" muka Alex memerah.

__ADS_1


"Ih om Al salting ya, yang di buka jaketnya om, gue masih pakai kaos ya om." semakin semangat untuk mengerjai Alex


__ADS_2