Gadis Miskin Kesayangan CEO

Gadis Miskin Kesayangan CEO
Bab 22 #Sebuah Apartemen


__ADS_3

"Pak apa Bapak lupa jalan menuju tempat kos saya?, kita mau kemana Pak??" ucap Elena yang bingung Evan membawanya bukan menuju ke arah kosnya.


Evan menatap Elena dan tersenyum, dia sana dia tidak menjawab pertanyaan Elena. Hingga sampailah mereka di depan sebuah gedung mewah yang menjulang tinggi.


"Pak kita akan pergi kemana?" ucap Elena yang masih bingung.


"Saya akan membawamu kesuatu tempat!" ucap Evan. Akhirnya Evan memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran yang di sediakan di gedung itu.


"Ayo kita keluar, saya akan mengantar kamu pulang!" Elena pun semakin bingung ini bukan tempat kosnya." Tapi Pak Evan bilang dia mau mengantarkannya pulang"


"Pak tolong jelaskan ke saya, sebenarnya kita mau kemana Pak!" ucap Elena meminta penjelasan.


"Ini apartemen saya, mulai sekarang kamu akan tinggal disini!" Elena benar-benar sangat kaget mendengar jawaban dari bosnya.


"Tapi Pak, saya di sana tinggal bersama Siska!" Elena mencoba mengingatkan pada Evan.


"Mulai sekarang kamu adalah kekasih saya, saya ingin memberikan yang terbaik untuk pasangan saya!" Elena tak habis pikir dengan jalan pemikiran bosnya.


"Oya, Siska juga boleh tinggal disini, kamu tidak usah khawatir." ucap Evan pada Elena.


"Tapi Pak apa ini tidak berlebihan buat saya?"


ucap Elena yang merasa belum siap di berikan fasilitas oleh Evan, Evan pun berhenti di sebuah lift dan segera memencet nomor disana. Elena pun masih belum mendapat jawaban hingga mereka masuk kedalam lift menuju ke lantai 12.


Di dalam lift Evan mendekati Elena, dia pun akhirnya berbisik di telinga Elena yang membuat bulu kuduk Elena sampai merinding.


"Kamu tidak boleh menolaknya, apartemen ini milik saya, dan sekarang saya berikan untukmu!" Evan pun tersenyum setelah berbisik pada Elena, Elena pun tercengang mendengarnya.


Akhirnya mereka sampai di lantai 12 dengan Elena yang masih tidak bisa berkata-kata, disana Elena sempat berhenti sejenak setelah keluar dari lift itu, tapi Evan segera mendekatinya dan meraih tangan Elena.


"Apa kamu tidak menyukainya?" ucap Evan yang merasa Elena tidak suka dengan pemberiannya.


"Bukan begitu Pak, saya sepertinya belum pantas Pak. Kemarin saya masih tinggal di sebuah kos bersama Siska, tapi sekarang saya disuruh menempati apartemen Bapak, apa kata orang nanti dikira saya memanfaatkan Bapak!" ucap Elena dengan wajah sedihnya.


Evan pun semakin mengagumi Elena, biasanya perempuan akan senang bila di beri fasilitas mewah seperti itu, tapi berbeda dengan Elena. Evan semakin yakin dengan pilihannya.


Evan pun tanpa ragu meraih kedua tangan Elena dan mengecup punggung tangan Elana, di perlakukan sedemikian rupa oleh Pak Evan membuat aliran darah Elena berdesir hebat, dirinya merasa tersanjung.

__ADS_1


"Saya harap kamu tidak menolak pemberian saya, saya tidak ada maksud lain kamu mengerti!" Elena pun tidak bisa berkata apa-apa.


Akhirnya Evan membawa Elena kedepan sebuah pintu apartemen, Evan pun segera membuka pintunya dengan access card miliknya.


Akhirnya pintu apartemen itu terbuka, Evan segera berjalan dan segera masuk dengan menggandeng tangan Elena di gengamannya, Elena pun hanya bisa pasrah mengikuti bosnya.


Setelah masuk ke ruangan apartemen milik Evan, Elena kini di buat kagum dengan fasilitas di dalam apartemen milik Evan. Semua isinya sangat mewah, Evan memang sudah menyuruh Mario untuk menyiapkan semuanya sebelum kepulangan Elena.


Elena hanya bisa tertegun dengan semuanya, baru pertama kali ini Elena di beri fasilitas yang tentunya tak terhitung harganya untuk seukuran dia. Evan yang melihat Elena terdiam pun takut seandainya Elena tidak menyukainya.


"Elena, apa kamu tidak menyukai ruangan ini?, Apa yang kamu tidak sukai, katakan pada saya nanti saya akan menggantinya atau kamu membutuhkan sesuatu?" cerca Evan yang tidak ingin Elena sampai tidak nyaman.


"Tidak perlu Pak, ini sudah terlalu lengkap saya pun bingung harus mengatakan apa." ucap Elena, Evan disana sungguh sangat senang mendengarnya.


"Kamu tau, entah mengapa saya sangat mengagumi kamu, Elena?" disana Evan mulai mendekati Elena, mata yang biasanya tajam kini meredup, menatap sayu perempuan mungil yang kini ada di hadapannya.


Melihat bos di hadapannya berubah, Elena berlahan memundurkan badannya, kakinya terus mundur, seiring dengan langkah Evan yang terus memaju.


"Dap"


Elena tak lagi dapat melarikan diri.


Elena memejamkan mata, saat tubuh Evan menariknya mendekat, jatuh kedalam dekapan pria itu. Hangat, Aroma Evan begitu memabukkan, membuat Elena tanpa sadar menutup mata, menikmati relaksasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Karena kamu menarik, Elena. Belum ada perempuan yang membuat saya tergila-gila selain kamu". Evan kembali menggumam. Dekapannya atas tubuh mengerat, seiring dengan kepalanya yang tiba-tiba tenggelam dalam leher Elena. Mengendus aromanya dengan rekus.


"P-pak!" Elena menjerit.


Evan pun kembali merasakan desiran darahnya yang mulai memanas ketika dia memeluk Elena tanpa jarak, badannya pun bergetar hebat entah dorongan apa yang begitu menggebu yang akhirnya Evan mendaratkan ciuman di kening Elena.


Elena sungguh kaget dia merasakan jantungnya berdetak tak beraturan, dia dapat merasakan bibir Evan berada di keningnya, hembusan nafas Evan pun bisa ia rasakan. Evan menciumnya dengan sangat lembut membuat Elena tidak berdaya, dengan cepat Elena menghentikan aksi bosnya sebelum terjadi hal-hal diluar kendali.


"Maaf Pak!" Elena segera melepaskan diri dari pelukan bosnya.


Evan pun baru sadar apa yang telah dia lakukan mungkin sangat berlebihan, dia sendiri sebenarnya tidak menyangka atas aksinya. dorongan itu muncul secara sendirinya, Evan yang menyadari Elena menjauh pun akhirnya menyesali perbuatannya.


"Elena maafkan saya, bukan Saya bermaksud tidak sopan, entah mengapa tiba-tiba saya melakukan itu!" ucap Evan yang begitu menyesal, jujur baru pertama kali ini Evan berani melakukannya.

__ADS_1


Elena pun disana masih merasakan getaran hebat, jantungnya terlalu cepat memompa dan setiap tarikan nafasnya pun belum kembali normal, wajah Elena masih memerah karena malu dan seperti mimpi, seorang Pak Evan melakukan hal itu terhadapnya.


"Elena apa kamu marah pada saya?" ucap Evan yang menyesali perbuatannya, Elena pun hanya mampu menggelengkan kepalanya tanpa berucap satu kata pun membuat Evan sangat mengutuk perbuatannya.


Tanpa mereka sadari di luar sudah ada mata-mata suruhan seseorang untuk mengawasi mereka disana, orang itu pun menelepon seseorang.


"Halo, Evan membawa teman wanitanya ke sebuah apartemennya Bu!"


"Terus awasi mereka jangan sampai lengah!" ucap seseorang di ujung telepon.


Sementara itu Evan dan Elena masih sama-sama canggung dengan kejadian yang baru saja terjadi.


"Oya, saya akan menyuruh orang untuk membawakan barang-barangmu kesini, untuk yang di mobil juga, di lemari pendingin pun sudah saya isi dengan berbagai makanan dan sayuran kamu bisa masak juga disana!" Elena pun kembali ceria setelah mendengar kata masak dia memang hobi sekali masak.


"Pak apa saya boleh membawa Siska untuk tinggal disini?" Evan pun tersenyum dan mengangguk.


"Tentu saja, ajak Siska tinggal disini juga biar kamu ada temannya." ucap Evan yang tak ingin melihat Elena kesepian.


"Terimakasih banyak Pak, Bapak sudah mengijinkan saya tinggal disini dan juga Siska.


"Kenapa kamu masih memanggil saya Bapak?, Bukankah kita sepasang kekasih?" ucap Evan pada Elena.


"Lalu saya harus memanggil Bapak apa?" ucap Elena yang sedikit malu-malu.


"Panggil saya Evan saja!" ucap Evan


"Saya tidak terbiasa Pak, lagian sangat aneh kalau saya harus panggil Bapak dengan nama saja, tidak apa-apa kan kalau saya panggil Bapak saja?" ucap Elena dengan senyuman yang teramat manis membuat Evan candu melihatnya.


"Kalau di kantor kamu boleh panggil saya Pak, tapi kalau sedang berdua seperti ini kamu panggil saya Evan saja!" ucap Evan memberi perintah pada Elena.


"Baiklah kalau begitu saya pamit dulu ya, kamu bisa beristirahat, kalau kamu ada apa-apa dan mungkin membutuhkan sesuatu kamu bisa menghubungi saya." ucap Evan yang segera bangkit dari tempat duduknya.


"Pak kapan saya bisa bekerja kembali?" ucap Elena yang memang sudah merasa terlalu lama meninggalkan pekerjaannya.


"Kalau kamu sudah membaik, kamu bisa kekantor. Tapi untuk saat ini kamu saya ijinkan beristirahat sampai kamu benar-benar pulih!"


Akhirnya Evan pun berpamitan setelah menjelaskan tentang akses kunci yang harus Elena ketahui, barang-barang Elena pun sudah di bawa oleh orang suruhan Evan. Evan sudah menunjukan semua ruangan disana serta memberi petunjuk pemakaian barang-barang yang mungkin asing bagi Elena.

__ADS_1


Sementara itu dibawah orang yang sedang memata-matai Evan pun segera memberikan informasi, bahwa Evan sudah turun dari apartemennya tanpa wanita yang dia bawa.


__ADS_2