Gadis Miskin Kesayangan CEO

Gadis Miskin Kesayangan CEO
Bab 39 #Putri Tidur


__ADS_3

Setelah dua jam mereka ada di panti akhirnya baik Evan dan Elena segera berpamitan pada Ibu panti dan juga anak-anak panti untuk segera pulang.


"Terimakasih banyak Nak Evan, atas kedatangannya dan juga oleh-olehnya buat anak-anak panti." Ucap Ibu panti


"Sama-sama Bu, lain kali saya akan datang kemari lagi." disana Bu panti sungguh sangat senang mendengarnya.


"Anak-anak, Pak Evan dan kak Elena pulang dulu ya lain waktu kakak pasti akan datang lagi!" Ucap Elena dengan senyum manisnya.


Anak-anak disana dengan segera memberikan pelukan hangat untuk Elena dan Evan, rasanya Elena tak ingin meninggalkan suasana panti yang dulu setiap harinya dia berada disana.


Akhirnya Evan dan Elena segera masuk kedalam mobil, dan dengan segera meninggalkan panti, di sepanjang perjalanan Elena masih terdiam, entah apa yang sedang ia fikirkan. Evan yang melihatnya segera bertanya pada Elena.


"Kamu kenapa El, apa kamu sedih meninggalkan panti?" tanya Evan pada Elena.


"Saya sedih karena banyak kenangan saya ada disana Pak." Ucap Elena dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


"El...Apa kamu tidak ingin mencari dan mengetahui keberadaan orang tuamu?" Elena yang mendengar ucapan Evan langsung menatap ke arah Evan.


"Apa saya harus mencarinya Pak, mencari orang tua saya yang sudah tega membiarkan anaknya dititipkan di panti asuhan?"


Evan sungguh sangat kaget dengan ucapan Elena padahal niat Evan ingin mencari keberadaan Ibu dari Elena, karena itu jalan satu-satunya untuk mendapat restu dari Bu Sindy.


"Apa kamu tidak ingin mengetahui siapa orang tuamu?" Evan pun kembali bertanya pada Elena.


"Saya tau arah pembicaraan Pak Evan, itu karena permintaan Bu Sindy bukan?"


"Itu juga salah satunya, tapi walau pun kamu tidak mau mencari tau siapa orang tuamu saya tetap akan memperjuangkan hubungan kita sampai Ibu merestui kita!" Evan dengan segera memegang tangan Elena dan berusa memberi ketenangan pada Elena disana.

__ADS_1


Disana Elena juga sempat berfikir, apa seharusnya dia mempertimbangkan ucapan Pak Evan untuk mencari tau siapa orang yang sudah melahirkannya.


"Em...Pak apa seandainya kalau saya mencari orang tua saya Bapak mau membantu saya?" Evan yang sedang fokus melihat jalan pun langsung menoleh ke arah Elena.


"Tentu saja saya akan membantumu, apa kamu benar-benar mau mencari tahu siapa sebenarnya orang tuamu?" Elena hanya memberi jawaban dengan sebuah anggukan.


Di dalam hati, Evan berjanji akan segera menemukan siapa sebenarnya orang tua Elena yang sudah tega meninggalkan Elena di panti asuhan, dengan bekal nomor telepon dari salah satu pengasuh dari panti, Evan sedikit punya celah untuk segera mengetahui identitas keluarga Elena.


Akhirnya mobil Evan mulai masuk ke jalan perkotaan, perjalanan kali ini sungguh melelahkan disana Elena terlihat sudah tertidur di dalam mobil. Evan dengan sengaja membiarkan Elena tidur, mungkin dirinya sangat lelah hari ini.


Setelah hampir satu jam mobil Evan akhirnya sampai di apartemen Elena, hari pun sudah mulai malam. Didalam mobil Evan, Elena masih tertidur sangat pulas. Bahkan Evan tidak berani membangunkannya.


Akhirnya Evan dengan segera membopong tubuh Elena untuk segera masuk ke apartemen, disana tanpa malu Evan membawa Elena dalam dekapannya.


Orang-orang yang melihatnya sungguh kagum dengan kemesraan mereka berdua, bahkan disana Elena nampak semakin nyaman dalam gendongan Evan.


Sampailah Evan membawa Elena masuk ketempat tidur yang berada diapartemen, dengan sangat hati-hati Evan meletakkan Elena di tempat tidurnya. Tapi tiba-tiba Elena malah membuka matanya, dia pun kaget dengan posisinya yang berada dalam dekapan Evan.


"Apa yang mau Bapak lakukan!" Suara Elena benar-benar mengagetkan Evan. Sampai Evan pun tersandung dan jatuh menindih tubuh Elena.


Mereka sama-sama terdiam, deru nafas mereka saling beradu, jantung Elena pun memacu lebih kencang dari biasanya, di sana Evan juga merasakan tiba-tiba sekujur tubuhnya mulai memanas darahnya mulai berdesir setelah berada di atas tubuh Elena.


Dengan cepat Elena segera mendorong tubuh Evan, akhirnya Evan segera bangkit dari posisinya. Mereka masih saling terdiam sambil mengatur nafas mereka masing-masing.


"Maaf El saya tadi hanya berusa meletakanmu ketempat tidur, kamu tadi tertidur di dalam mobil. Saya tidak tega membangunkannya dan akhirnya saya menggendong kamu sampai di kamar ini."


Elena yang mendengarnya sungguh sangat kaget, jadi tadi Pak Evan sudah menggendongnya dari mobil sampai ke kamar apartemen. Itu jauh dari pemikiran Elena, aku sangat bodoh sekali bisa-bisanya menduga Pak Evan akan berbuat sesuatu.

__ADS_1


"Maafkan saya Pak, saya sudah merepotkan, seharunya tadi Bapak membangunkan saya jadi Bapak tidak capek menggendong saya sapai ke sini." Ucap Elena dengan rasa malunya. Disana Evan hanya mampu tersenyum mendengarnya.


"Mana mungkin saya tega membangunkan putri tidurku." Ucap Evan sambil menatap wajah Elena.


Wajah Elena seketika berubah menjadi semerah tomat, dia benar-benar sungguh sangat malu serta bahagia mendengar ucapan dari Evan.


"Kenapa, apa kamu masih malu dengan saya, harus berapa kali saya katakan kita sudah menjadi sepasang kekasih apa kamu masih akan tetap malu dengan saya?" Elena segera mengangkat wajahnya dia mencoba menatap wajah Evan.


"Maafkan saya Pak." Ucap Elena yang tidak tau harus mengatakan apa.


"Dengar El..Saya sangat menyayangimu sampai kapan pun, jadi mulai sekarang kamu sangat penting di hati saya. Jadi sekarang saya ingin kamu tidak memberikan jarak diantara kita!"


"Baiklah Pak saya akan berusaha lagi, maafkan atas kekurangan saya Pak dan terimakasih Bapak sudah memberikan perhatian serta cinta untuk saya." Evan pun tersenyum mendengar ucapan Elena.


"Baiklah sekarang kamu segera beristirahat saya akan segera pulang kerumah." Ucap Evan yang langsung berdiri dan berjalan keluar menuju pintu. Tapi belum sempat Evan membuka pintu tiba-tiba Evan di kejutkan dengan pelukan Elena dari belakang tubuhnya.


"Pak saya mencintai Bapak, saya mohon Bapak tidak mempermainkan cinta saya." Ucap Elena yang masih memeluk Evan disana.


Disana Evan tidak bisa berkata-kata sentuhan Elena sudah membuat darahnya kembali berdesir hebat, dia pun segera membalikan tubuhnya dan segera memeluk Elena.


"Apa kamu takut saya hanya mempermainkan kamu saja, dengarkan saya, itu bukan sifat Evan Mahendra!" Ucap Evan yang meyakinkan pada Elena disana.


Tanpa terasa air mata Elena pun jatuh begitu saja, tangisannya adalah tangisan haru, baru kali ini dia merasakan di cintai serta di sayangi oleh seseorang.


Sementara itu di sebuah rumah mewah seorang wanita sedang duduk termenung di depan sebuah kaca, dia sedang memikirkan nasib anaknya yang sudah ia tinggalkan di sebuah panti asuhan. "Bagaimanakah nasib putriku sekarang, apakah sekarang dia sudah remaja?"


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2