Gadis Miskin Kesayangan CEO

Gadis Miskin Kesayangan CEO
Bab 64 #Kedatangan Pak Renaldy


__ADS_3

Disana Elena sudah mulai terbangun, matanya pun mulai terbuka dia merasakan tangannya susah untuk di gerakan, akhirnya dia segera melihat kearah tangan kanannya, ternyata Evan sedang tertidur dengan bersandar di kursinya, dengan posisi tangannya yang masih terus menggenggam jemari lentik milik Elena.


Elena hanya bisa tersenyum melihat wajah tampan kekasihnya yang tertidur sambil duduk di kursi disampingnya. Dia membiarkan tangannya masih dalam genggaman Evan.


Tak berapa lama akhirnya seorang suster datang untuk memeriksa selang infus Elena.


"Pagi Bu Elena saya periksa infusnya dulu ya?"


"Iya sus." dengan suara pelan Elena menjawabnya, dia takut membangunkan Evan disana.


"Wah kekasih anda benar-benar romantis ya, dalam posisi tidur saja tangannya masih tetap menggenggam tangan anda." Sambil tersenyum suster itu melihat kearah gengaman kedua sejoli itu, suster itu malah jadi malu sendiri dan akhirnya segera pergi setelah mengecek infus Elena.


Disana lagi-lagi Elena hanya bisa tersenyum, Evan benar-benar membuatnya sedikit malu pada suster tadi.


Setelah suster itu keluar tiba-tiba Pak Renaldy sudah muncul dari balik pintu, dia datang dan segera masuk ke ruangan tempat Elena berada, dipintu itu mata Pak Renaldy dan juga Elena sempat saling bertukar pandang, Elena heran kenapa rekan bisnis Pak Evan bisa tau kalau dia disini.


"Pagi Elena."


"Pagi Pak." Dengan terpaksa akhirnya Elena melepaskan tangannya dari genggaman Evan, merasa tangan Elena terlepas akhirnya Evan pun terbangun dari tidurnya.


"Kamu sudah bangun sayang?" Ucap Evan begitu saja tanpa tau kalau Pak Renaldy sudah berada disana.


Pak Renaldy mulai berfikir "Sepertinya Pak Evan ada hubungannya dengan putriku, terbukti baru saja dia memanggil Elena sayang" gumamnya.


"Ehem....Pak Evan maaf kalau kedatangan saya mengganggu anda!" Mendengar suara disana Evan langsung menoleh ke arah Pak Renaldy.


"Pak Renaldy kapan anda datang!" Dengan segera Evan akhirnya bangun dari tempat duduknya.


"Baru saja!" Elena disana merasa bingung, sebenarnya ada apa antara Evan dengan Pak Renaldy sepertinya mereka ada sesuatu.


"Silahkan duduk Pak!" Ucap Evan santun.


"Terimakasih, sepertinya Pak Evan kurang istirahat dari semalam, Oya saya ucapkan terimakasih karena sudah membawa Elena ke Rumah sakit."


Disana Elena langsung tercengang apa hubungannya dengan dirinya yang dibawa ke Rumah sakit dengan Pak Renaldy. Elena akhirnya segera bertanya.

__ADS_1


"Tunggu, maaf sebelumnya. Maksud Bapak apa ya? kenapa Bapak berterimakasih pada Pak Evan?"


Disana Pak Renaldy dan juga Evan saling pandang, Pak Renaldy juga bingung dengan apa yang harus dia katakan dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Pak Renaldy dengan cepat berjalan mendekati Elena, disana Elena juga bingung kenapa Pak Evan membiarkan Pak Renaldy mendekatinya, biasanya dia akan marah kalau melihat ada orang yang memujinya apalagi ini mendekatinya.


"Mas!" Elena akhirnya memanggil Evan agar segera mendekat ke arahnya.


"Ya El...Em..Ada sesuatu yang akan Pak Renaldy sampaikan padamu.


"Apa?" Elena masih belum mengerti arah pembicaraan Evan, dia berusaha meminta penjelasan Evan.


"Maaf Pak, kalau begitu silahkan anda berbicara sendiri pada Elena saya akan pergi sebentar ke kantin!" Disana Elena semakin bingung tidak seperti biasanya Evan tiba-tiba bersikap seperti itu.


"Mas?, Kamu mau kemana?"


"Tunggu ya, saya akan membeli sesuatu." Dengan segera Evan memberi ruang agar Pak Renaldy bisa menjelaskan sesuatu tentang sebenarnya siapa dirinya.


Setelah Evan keluar barulah disana Pak Renady mulai duduk di sebelah Elena. Elena benar-benar sangat risih.


"Elena ada yang mau saya bicarakan denganmu Nak!" Elena sempat tercengan mendengar Pak Renaldy memanggilnya "Nak".


"Begini waktu itu kamu mau mengatakan siapa nama Ibu kamu bukan?, apakan nama Ibumu Rita Rosalina?"


Elena semakin terperangah kenapa Pak Renaldy bisa tau, memang benar adanya nama Ibunya Rita Rosalina itu juga dia mengetahuinya setiap Ibu panti mengisi nama orang tuanya selagi waktu sekolah.


"Kenapa Bapak bisa tahu kalau Ibu saya Rita Rosalina!"


Disana Pak Renaldy tidak bisa menjawab pertanyaan putrinya, hatinya sudah sangat bergemuruh ingin rasanya dia memeluk putrinya sekarang juga. Tapi apakah Elena mau langsung percaya kalau dia adalah Ayah kandungnya.


"Kamu tau, tidak ada orang tua yang ingin meninggalkan putrinya kalau tidak tanpa sebab Nak."


"Maksud Bapak?"


"Ibumu meninggalkan dirimu karena dia telah di usir oleh kedua orang tuanya."

__ADS_1


"Kenapa sepertinya Bapak tau semua tentang Ibu saya, apa hubungan anda dengan Ibu saya?" Tanya Elena yang benar-benar penasaran.


"Saya....Saya adalah Ayah kandungmu Nak!"


"Apa!!! ,Bapak jangan bercanda dengan saya!"


"Papa tidak bercanda Nak, kamu adalah anak kandung Papa yang selama ini Papa cari."


Disana Elena sedang mencerna semua ucapan dari Pak Renaldy, dia tidak begitu saja percaya dengan semuanya.


"Maafkan Papa Nak."


"Apa buktinya kalau anda adalah Papa saya?" Elena mulai mencari tahu.


"Sebenarnya ceritanya panjang, Papa hanya mempunyai foto Mamamu saja."


"Lantas kenapa sampai Ibu saya meninggalkan saya begitu saja di panti asuhan, lalu kalau benar anda Papa saya, dimana saat itu anda berada?, Bukankah saya adalah anak yang tidak diinginkan.  Hingga kalian dengan sengaja membuang saya dari kehidupan kalian ke panti asuhan!"


Pak Renaldy sudah tidak bisa membendung air matanya, pertanyaan putrinya benar-benar membuatnya terpukul sangat keras.


"Jangan katakan itu Nak, Papa akan menjelaskan semua tentang apa yang terjadi dulu."


Disana Elena masih terdiam, dia tidak bisa menerima semua tanpa ada penjelasan. Rasa yang selama ini dia simpan sangat membekas dalam hatinya, kenapa sampai orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya, hingga mereka tega menitipkan bayi tak berdosa itu di sebuah panti asuhan.


Sekarang tiba-tiba datang seseorang yang mengaku kalau dirinya adalah Papa kandungnya, bagaimana dia bisa percaya setelah sekian lama, sekarang usia Elena sudah dua puluh dua tahun mereka baru datang.


Apa yang sebenarnya mereka harapkan dari seorang putri yang telah mereka buang di panti asuhan. fikiran Elena benar-benar sedang berperang dengan kenyataan.


"Apa yang perlu kalian jelaskan, apa sebenarnya mau kalian?, sudah dua puluh dua tahun kalian baru mau mencari saya!, apa yang bisa diharapkan dengan putri kalian yang sudah kalian buang begitu saja di panti asuhan!"


Elena pun tak bisa membendung air matanya, setelah dia mengingat waktu itu dimana seorang anak kecil yang mengharapkan kedatangan orang tuanya tapi semua itu tidak pernah ia rasakan.


Disana Pak Renaldy masih terdiam mendengarkan amarah dari putrinya, memang dia pantas mendapatkan itu semua. Melihat putrinya menangis rasanya Pak Renaldy ingin sekali memeluk dan menghentikan air mata yang berjatuhan di pipinya.


"Sekarang jelaskan pada saya, apa mau kalian!"

__ADS_1


Bersambung....


TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA READERS...


__ADS_2