
Akhirnya Bu Sindy masuk keruang perawatan Elena, disana Elena sangat terkejut dengan kedatangan Bu Sindy. Setelah Bu Sindy mulai masuk dan berjalan ke arahnya, Elena langsung berusaha untuk bangun dari tidurnya dan segera duduk disana.
"Sudah-sudah kamu tiduran saja Elena." Dengan ramah Bu Sindy berucap, disana Elena mulai heran biasanya Bu Sindy akan sedikit ketus pada dirinya. Disana Elena hanya bisa tersenyum dan memberi sebuah anggukan untuk menyapa Ibu dari Pak Evan.
"Sore Bu, terimakasih Ibu sudah repot-repot datang kesini."
"Iya El, oiya bagaimana keadaanmu apa sudah membaik?" Tanya Bu Sindy yang mulai mendekati Elena.
Pak Renaldy masih berdiri dan terdiam disana mendengarkan Sindy dan putrinya saling berbicara.
"Sudah mulai membaik Bu."
"Oya, ini ada sesuatu buat kamu." Dengan memberikan sebuah parsel yang berisikan buah-buahan Bu Sindy memberikannya pada Elena.
"Terimakasih banyak Bu, anda sudah repot-repot menjenguk saya dan malah membawakan sesuatu juga buat saya."
"Tidak apa-apa, saya tidak merasa di repotkan."
Disana Pak Renaldy mulai mendekati putrinya, dan segera mengambil bingkisan itu untuk di letakannya di atas meja.
"Biar Papa yang menyimpannya, terimakasih banyak ya Sin, Nak, Bu Sindy ini adalah teman Papa waktu semasa sekolah." Ucap Pak Renaldy, disana Bu Sindy pun tersenyum ramah. "Pantas saja Bu Sindy bersikap lain tidak seperti biasanya" gumam Elena.
Tiba-tiba ruangan di kamar perawatan Elena kembali terbuka, ternyata yang datang adalah Evan, disana Evan kaget didalam sudah ada Ibunya yang datang.
"Ibu, kapan Ibu datang?" Tanya Evan yang langsung masuk dan mendekati Ibunya disana.
"Baru saja Van, kamu sudah pulang dari kantor?"
"Sudah Bu." Disana Evan sempat melirik ke arah Elena.
"Oya Van, kamu tau ternyata Pak Renaldy ini adalah teman Ibu waktu masih sekolah."
"Oya, ternyata kalian sudah pada kenal?".
"Tentu saja Pak Evan, Ibumu ini adalah teman baik saya, Oya mumpung kalian sedang ada disini saya mau tanya pada Pak Evan. Apakah Pak Evan dan putri saya ada sesuatu hubungan?" Disana baik Evan maupun Elena saling berpandangan.
"Benar Pak saya dan Elena memang sedang menjalin hubungan." Ucap Evan yang sedikit gugup.
__ADS_1
"Oya!, sebenarnya sejak awal saya sudah curiga . Sekarang sudah terjawab semuanya, Sin, apa kita mau jadi besan?" Bu Sindy pun tersenyum disana.
Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan tiba-tiba sudah datang Mario yang masuk keruangan itu.
" Sore Pak, Bu Sindy, Pak Renaldy, El." Mario akhirnya menyapa semua yang ada disana.
"Sore ada apa Mario, apa kamu memberikan informasi!" tanya Evan.
"Benar Pak, saya sudah membawa informasi tentang siapa penculik Elena." Disana Pak Renaldy mulai sedikit panik, sebenarnya dia akan mengatakannya kalau Elena sudah benar-benar sembuh.
"Katakan!" disana Evan sudah tak sabar untuk mendengarnya.
"Ternyata penculiknya, Tania Pak!".
"Apa!!!!!" Evan sungguh terkejut, dia tidak menyangka kalau Tania di balik penculikan Elena.
Tidak jauh berbeda dengan Bu Sindy, dia pun sangat kaget mengetahui kalau Tanialah dibalik semua ini, selama ini dia mengenal Tania sangat baik, bahkan dia sudah menganggap Tania sudah seperti anaknya sendiri.
Elena juga sangat kaget setelah mendengar ucapan dari Mario, ternyata Tanai yang sudah menculiknya, apa salah dia pada Tania? Kenapa Tania berusaha untuk menculiknya.
"Em...Begini Pak Evan bisa kita bicara sebentar!" Ucap Pak Renaldy yang tak ingin semua masalah ini jadi semakin keruh. Evan akhirnya menoleh ke arah Pak Renaldy dia juga menjadi heran kenapa Pak Renaldy seperti biasa-biasa saja mendengar siapa penculik putrinya.
"Ini sedikit penting bisa kita bicara di luar, dan Mario juga boleh ikut, Sin saya titip Elena sebentar ya!" Bu Sindy hanya menganggukan kepalanya.
Akhirnya Evan, Mario dan Pak Renaldy keluar dari ruangan itu. Mereka mencari tempat yang sedikit sepi di Rumah sakit itu, akhirnya Pak Renaldy mulai berbicara.
"Begini Pak Evan, sebenarnya saya sudah tau siapa penculik Elena. Saya ingin menyampaikan semua ini sampai Elena benar-benar sembuh."
"Kenapa harus menunggu Elena sembuh Pak, saya akan segera menjebloskan Tania kepenjara!". Entah mengapa tiba-tiba hati Pak Renaldy seperti di hantam batu yang sangat keras setelah mendengar ucapan Evan. Mau bagaimana pun dia tetap menyayangi Tania, meskipun Tania adalah anak angkatnya.
"Pak, sebenarnya, Tania adalah anak angkat saya!" disana Evan dan Mario benar-benar sangat kaget mendengar pernyataan Pak Renaldy.
"Apa!! jadi Tania??"
"Ya, sebenarnya saya sangat marah sekali pada Tania, setelah anda membawa Elena ke Rumah sakit saya langsung menemuinya. Saya benar-benar marah dengan ulahnya yang sangat fatal dengan menculik Elena, saya sudah menyuruhnya untuk segera menyerahkan diri kekantor polisi, tapi mungkin sedikit sulit, karena dia sangat keras kepala dengan pendiriannya. Tapi mau bagaimanapun Tania adalah putri angkat saya kakak angkat dari Elena."
Disana mereka masih sama-sama terdiam, Evan sebenarnya ingin segera menyeret Tania kejalur hukum, tapi sepertinya Pak Renaldy ingin menyelesaikan kasus Tania sendiri.
__ADS_1
"Apa motif Tania menculik Elena Pak?" Tanya Evan disana.
"Itu karena rasa cinta Tania pada Pak Evan yang membuatnya lupa segalanya."
"Apa!!, Cinta macam apa seperti itu?" Tania benar-benar sudah kelewatan, dia hampir saja membuat Elena kehilangan nyawanya!"
"Saya tau Pak, saya mohon ijinkan saya menyelesaikan kasus Tania, saya tidak akan membela Tania, saya akan memberikan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya. Bagaimana Pak?, Apa boleh saya yang menangani kasus Tania?"
Evan sempat berfikir sejenak, mungkin dia akan memberi kesempatan pada Pak Renaldy untuk menghukum putri angkatnya, tapi kalau sampai semua tidak adil untuk Elena dia yang akan memegang kendali sendiri untuk menyelesaikan kasus Tania.
"Baiklah Pak, tapi saya harap jangan campur adukkan hubungan kekeluargaan ini pada kasus Tania, Tania harus di hukum, karena dia memang sudah melakukan kesalahan pada Elena. Mario tolong serahkan kasus ini pada Pak Renaldy!"
"Baik Pak!" Kalau begitu saya pamit dulu, saya harus kembali kekantor masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan Pak!"
"Baiklah, silahkan!"
Setelah kepergian Mario, Evan akhirnya meminta ijin untuk segera masuk keruangan Elena. Disana Pak Renaldy segera mengambil ponselnya dan segera menghubungi asistennya.
"Halo Roy!"
"Halo Pak!"
"Tolong kamu datangi rumah Tania, berikan sedikit ruang untuk Tania agar Tania bisa mengakui kesalahannya, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya!"
"Baik Pak, saya akan segera ke rumah Tania!" Dengan cepat Roy memutar arah mobilnya untuk menuju ke rumah Tania, kebetulan dia sedang berada di jalan sepulang dirinya dari kantor, hati Roy sempat terasa sakit kala mendengar Tania harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, dia sungguh tidak tega, sebenarnya Roy sudah lama menaruh hati pada Tania, tapi sampai saat ini dia belum bisa mengungkapkan perasaanya.
Setelah beberapa lama menempuh perjalanan akhirnya Mobil Roy semakin mendekati ke arah rumah Tania, perasaannya sudah mulai campur aduk, antara tugas yang dia bawa dan tentang masalah hatinya.
Sesampainya di rumah Tania seorang security segera membukakan pintu gerbang untuk Roy masuk.
"Sore Pak!"
"Sore, saya ada tugas dari Pak Renaldy. Apa Tania ada di dalam?"
"Sepertinya ada Pak, sejak kemarin Non Tania tidak pernah keluar dari rumah."
"Baiklah Terimakasih atas informasinya." Mobil Roy segera memasuki halaman rumah milik Tania, disana seorang asisten rumah tangga terlihat berlari mendekati mobil Roy, dia terlihat sedikit panik.
__ADS_1
Bersambung.....