
Berlari dan dengan cepat mendekati mobil Roy, asisten Tania sungguh sangat panik, dia segera mengetuk kaca jendela mobil milik Roy.
"Pak....Tolong saya!" Roy yang melihat pintu kaca mobilnya di ketuk dari luar segera menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Ada apa Bi?"
"Tolong saya, tolong Non Tania!!"
"Kenapa dengan Tania!" Roy segera membuka pintu, dan dia segera turun dari mobilnya.
"Non Tania dari tadi berteriak-teriak sampai sekarang masih berteriak, saya sudah mencoba mengetuk pintunya tapi Non Tania tidak mau membukakan pintu!"
"Baiklah, bawa saya ke sana!" Dengan cepat asisten Tania berjalan dengan di ikuti Roy di belakangnya.
Masuk ke rumah itu, berjalan dan mulai menaiki tangga Roy sudah mulai mendengar teriakan Tania. Dia sempat menghentikan langkahnya setelah mendengar dari dalam kamar Tania bunyi benda seperti kaca terlempar dan pecah di lantai, akhirnya Roy segera berlari melewati asisten Tania menaiki tangga dengan cepat ke lantai dua.
Sesampainya di depan pintu kamar Tania Roy berhenti sejenak, dia mulai memasang telinganya ke arah pintu disana. Disana masih terdengar suara Tania yang berteriak.
"Aku tidak mau di penjara!, Elena pantas mati, dia sudah merebut semua yang aku punya Elena harus matiiii!! Setelah itu sudah tidak terdengar suara Tania lagi.
Roy sedikit panik dengan heningnya suara dari kamar Tania dia mulai menggedor pintu disana, satu kali, dua kali , sampai tiga kali tak ada pergerakan dari pintu itu. Akhirnya dia mencoba mendobrak pintu kamar Tania, Pintu itu terbuat dengan kayu yang sedikit tebal sehingga Roy sedikit sulit mendobraknya.
Tidak berapa lama pintu yang di dobrak Roy akhirnya pecah dan membuat celah sedikit lebar di dekat kunci , disana dia mulai memasukan tangannya kecelah pintu yang sedikit pecah atas aksi dobrakannya tadi, dia meraba disana ternyata kunci itu masih tergantung dari dalam.
Roy berusaha mengambil kunci yang tergantung disana, dengan segera dia melepas kunci itu dan mengambilnya, dan dengan cepat dia segera membukanya dari luar dengan pelan-pelan, dan??
Cklekkkkk......
__ADS_1
Pintu itu akhirnya bisa terbuka, dengan cepat Roy membuka pintu matanya mulai menyusuri semua sudut di kamar itu, dia tidak menemukan Tania disana, disana barang-barang terlihat sangat berantakan sekali, bunyi pecahan kaca tadi ternyata dari kaca rias milik Tania yang sudah hancur berkeping-keping.
Roy melihat ke sudut pintu kamar mandi milik Tania disana pintu itu terbuka sedikit, Roy yang di temani asisten rumah tangga Tania mulai berjalan dan mendekati pintu kamar mandi itu.
Roy mulai mengintip dari luar, tidak ada suara sama sekali. Dia membuka pelan-pelan pintu itu dan akhirnya brakkkk.....dia dengan cepat membuka pintu itu setelah terlihat di balik kaca kamar mandi disana dia melihat Tania tergeletak di lantai kamar mandi.
Roy sangat kaget, setelah masuk dia mendapati Tania dengan pergelangan tangannya yang bersimbah darah, sepertinya Tania ingin bunuh diri.
"Non....Non Tania....!!! Asisten rumah tangga Tania begitu histeris melihat majikannya bersimbah darah di pergelangan tangannya, di lantai itu pun berceceran bayak darah yang mengalir dari pergelangan tangan Tania.
"Tania....Tania....kenapa kamu sangat bodoh melakukan hal ini!" Ucap Roy sambil memeriksa denyut nadi Tania, disana dia masih menemukan detak jantung, dengan Tania yang sudah dalam keadaan pingsan.
Dengan segera Roy membopong tubuh Tania, dia ingin segera membawanya ke Rumah sakit.
"Bi, tolong bantu saya tolong bukakan pintu mobil saya!" Dengan memberikan kunci mobilnya Roy berlari menuruni tangga, demikian juga sang asisten rumah tangga Tania yang mendahului mereka untuk segera membukakan pintu mobil.
Sesampainya di lantai bawah Roy segera keluar dari rumah itu, dia segera menuju ke arah mobilnya, disana pintu mobilnya sudah di buka oleh asisten rumah tangga Tania.
Dengan cepat Roy, menidurkan tubuh Tania di bangku belakang dia benar-benar sangat panik, dia menutup pintu belakang, dan segera masuk kembali di kursi kemudi, dengan cepat dia menacapkan gas mobilnya dan segera melajukan mobilnya, disana seorang security langsung membukakan pintu saat melihat mobil Roy terlihat mau keluar.
Dengan cepat Roy menjalankan mobilnya, membelah jalanan yang sedikit ramai, hari pun sudah mulai malam dia sempat berhenti di sebuah lampu merah, dengan sangat kesal dia mengklakson terus mobilnya, hingga membuat pengguna jalan mulai kesal dan heran melihat mobil yang berada di dekat mereka sungguh sangat bising.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan hampir dua puluh lima menit mobil Roy sampai di sebuah Rumah sakit yang Elena juga dirawat disana, dia segera mengangkat tubuh Tania dan segera membawa masuk ke Ruang Gawat Darurat, disana dia meminta tolong kepetugas yang berjaga untuk segera membawa Tania ke dalam.
Setelah Tania dibawa kedalam, seorang Dokter terlihat berjalan ke ruangan itu. Roy yang melihat kedatangan Dokter itu akhirnya dengan cepat menghampirinya.
"Dok tolong Teman saya Dok, dia baru saja mencoba bunuh diri dengan melukai pergelangan tangannya!"
__ADS_1
"Baiklah, anda tunggu disini saya akan segera memeriksa teman anda!!" Dengan segera Dokter itu masuk ke ruangan tempat Tania berada, disana Roy hanya mampu melihat kepergian Dokter itu, dengan harapan Tania bisa diselamatkan.
**
Sementara itu di ruangan perawatan, Elena masih berada di bet tempat tidurnya, Elena sudah mulai sedikit membaik kepalanya sudah tidak pusing seperti kemarin, disana masih terlihat Evan yang masih setia menunggunya. Sedang Pak Renaldy sedang keluar mengambil hasil tes DNA di ruang laboratorium. Sedang Bu Sindy sudah pulang sejak tadi.
Disana Evan tak henti-hentinya memandangi Elena, hatinya sungguh bahagia sepertinya sebentar lagi dia akan mendapat restu dari kedua orang tua mereka, Elena yang melihat Evan senyum-senyum sediri mulai heran melihatnya.
"Kenapa Mas, kamu senyum-senyum gitu?"
"El apa kamu sudah siap menjadi istri saya?, Saya sudah tak sabar ingin memilikimu seutuhnya." Elena yang mendengarnya sedikit kaget dan sedikit malu-malu, bahkan dia belum sempat memikirkan hubungannya sampai kepernikahan.
"Apa Mas, sudah mau menikah?"
"Tentu saja, saya sudah tidak sabar menjadikanmu Ratu di kehidupan ku!" Mendengar ucapan Evan, hati Elena sungguh sangat bahagia "Ratu"??
"Apa kamu sudah yakin Mas dengan pilihanmu, apa itu tidak terlalu cepat, kamu belum mengenalku terlalu jauh."
"Saya sudah yakin dengan pilihan saya, kamu adalah wanita yang tepat untuk kelak jadi calon Ibu untuk anak-anak saya!"
Hati Elena sudah mulai terbang melayang mendengar kata "Menikah, ratu, anak" tiba-tiba Elena merinding sendiri. Tanpa dia sadari Evan sudah mendaratkan ciuman di bibir seksi milik Elena.
"Mas....!!"
Deru nafas mereka saling bertemu, mata mereka saling bertatapan disana Evan masih memandang lekat pada wajah Elena, entah mengapa ruangan yang tadinya dingin sekarang berubah menjadi panas.
"El saya sangat merindukanmu." Ucap Evan yang langsung mengunci bibir Elena dengan ciuman rakusnya, di sana Elena tidak bisa berbuat apa-apa dia malah semakin hanyut menikmati setiap sentuhan yang Evan berikan. Semakin dalam semakin lama, Evan belum mau melepaskan ciumannya, hingga membuat darah keduanya mulai memanas, Elena juga sudah mulai bisa mengimbangi ciuman Evan, walaupun nafasnya mulai terengah dengan ulah kekasihnya.
__ADS_1
Tiba-tiba ruangan itu mulai terbuka, baik Evan dan Elena segera menghentikan aksi mereka, Evan segera duduk kembali di kursi dekat Elena, nafas mereka berdua masih terengah bahkan jantung mereka masih belum terkendali, antara kaget dan juga aksi mereka yang belum terselesaikan tiba-tiba sudah ada yang masuk keruangan itu.
Bersambung