Gadis Miskin Kesayangan CEO

Gadis Miskin Kesayangan CEO
Bab 71 #Tawaran Bulan Madu


__ADS_3

"Baiklah, saya sudah mengatakan dari awal bahwa untuk kehamilan di usia 40-an keatas itu berpotensi lebih rumit Pak, lebih beresiko, semakin sehat Ibu di awal, semakin kecil pula kemungkinan ibu mengalami komplikasi."


"Kalau begitu kami ingin mencobanya, bagaimana sayang?" Disana Rita tak bergeming, dia masih tidak fokus dengan pertanyaan suaminya, dia masih memikirkan laki-laki yang kemungkinan adalah Renaldy kekasihnya dulu.


"Rita apa kamu mendengarkan saya!" Tanya Damian yang sedikit mulai kesal, disana Rita sangat kaget setelah tangannya di sentuh oleh Damian.


"Eh....Em kamu tadi tanya apa Mas?, Maaf saya sedikit gugup." Ucap Rita berbohong.


"Apa kita mau mencobanya, kata Dokter usia kamu sangat rentan dan beresiko untuk hamil, apa kamu siap mencobanya!''


"Kalau begitu, kita coba saja Mas!"


Dokter disana masih memperhatikan kedua orang di depannya. Sambil mengulam senyum dia melihat, Bu Rita sepertinya belum terlalu siap untuk hamil.


"Bagaimana, kalau Ibu dan Bapak setuju kita akan melakukan pemeriksaan dengan beberapa tahapan, seperti pemeriksaan kualitas kesuburan, serta melakukan USG transvaginal pada Ibu, nanti akan dilanjutkan lagi pemeriksaan hormon, hingga mempertimbangkan terapi terbaik untuk hamil di usia 40 tahun keatas."


Disana baik Damian dan Rita sama-sama mendengarkan dengan seksama penjelasan Dokter, Rita sebenarnya mulai goyah, antara ingin memenuhi keinginan suaminya dengan mempertimbangkan umurnya saat ini yang mungkin akan beresiko.


"Tapi Pak, Bu, karena ini sangat beresiko, seandainya nanti pemeriksaan bagus dan Ibu siap untuk hamil, Bapak harus sangat siaga menjaga Ibu dalam menjalani terapi program hamil ini, seandainya nanti berhasil Bapak harus benar-benar menjaga kesehatan Ibu, karena kalau tidak di jaga Ibu rentan mengalami keguguran."


"Baik, saya sangat mengerti, saya siap menjadi suami siaga untuk istri saya."


Akhirnya mereka berdua melakukan pemeriksaan bersama, Damian berharap akan segera datang penerusnya nanti di rahim Rita, dia sudah tidak sabar ingin sekali mempunyai keturunan.


**


Sementara itu Pak Renaldy sudah selesai mengambil obat untuk Elena di tempat pengambilan obat, dengan segera dia berjalan dan ingin sekali menemui Tania terlebih dulu sebelum dia kembali keruangan Elena.


Sesampainya di depan ruang perawatan Tania, dia melihat Roy disana sedang duduk di luar kamar perawatan putri angkatnya. Dia segera berjalan dan mendekati Roy disana.


"Roy kenapa kamu ada diluar, bagaimana keadaan Tania!" Roy yang tak melihat kedatangan Pak Renaldy disana sungguh sangat kaget.


"Pak Renaldy!, maaf saya tidak melihat kedatangan anda!"

__ADS_1


"Tidak apa-apa bagaimana Tania?"


"Maaf Pak, semalam saya di usir olehTania dari dalam ruang perawatan, saya hanya memberi saran kalau keadaannya nanti sudah membaik saya menyarankan agar dia segera menyerahkan diri ke kantor polisi, supaya hukuman yang dia dapat akan sedikit ringan, tapi saya malah di usir Pak!"


"Anak itu memang benar-benar keras kepala Roy, maafkan atas kelakuan Tania!" Pak Renaldy benar-benar sangat malu dengan perbuatan Tania.


"Tidak apa-apa Pak, saya paham mungkin Tania sedikit depresi dia merasa tertekan dengan apa yang dia lakukan, tapi saya akan mencoba membujuknya. Apa mungkin Bapak ingin menemuinya?"


"Mungkin nanti saja Roy, dia pasti masih emosi melihat saya. Saya akan mengajak bicara Tania nanti, kalau keadaanya sudah stabil. kalau begitu tolong saya titip Tania dalam pengawasanmu, untuk masalah kantor biar nanti saya yang akan mengurusnya!"


"Baik Pak saya akan menjaga Tania sebaik mungkin." Akhirnya Pak Renaldy segera meninggalkan Roy disana, dengan langkah beratnya dia segera berjalan menuju ruangan Elena.


Disana tanpa sengaja Damian melihat Pak Renaldy yang sedang berjalan di dekat ruangannya berada, dia segera beranjak dari duduknya dan segera sedikit berlari menghampiri pemilik perusahaan terbesar itu.


"Pak Renaldy!" Disana Pak Rendaly berhenti sejenak saat namanya disebut, dia menoleh ke arah suara disana.


"Pak Damian!" Bapak ada disini juga?"


"Benar, Bapak sedang apa disini?" Tanya Damian saat melihat sebuah plastik obat ditangan Pak Renaldy.


"Saya ikut prihatin Pak, semoga putri Bapak segera sembuh!"


"Terimakasih!, Kalau begitu saya permisi!"


"Oya Pak, sebentar maaf untuk masalah kerja sama yang saya tawarkan apa Bapak masih mempertimbangkannya!, saya dengar Bapak sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan milik Pak Evan, apa Bapak tidak memberi kesempatan saya untuk bekerja sama juga!"


"Untuk masalah itu, biar nanti asisten saya yang mengurusnya Pak, Bapak bisa serahkan lagi berkas-berkas penawaran kerja sama ke perusahaan saya, mungkin nanti saya bisa mempertimbangkannya lagi."


Akhirnya Pak Renaldy segera meninggalkan Damian disana, Damian sungguh sangat kesal, kenapa perusahaan Evan yang sepadan dengan perusahaannya saja bisa bekerja sama dengan perusahaan milik Pak Renaldy, "Kenapa saya susah sekali untuk bekerja sama dengan perusahaan besar itu!" Sial!!"


"Kamu kenapa Mas?" Damian sangat kaget dengan kedatangan Rita disampingnya.


"Saya baru saja bertemu dengan pemilik perusahaan terbesar di kota ini, saya ingin menawarkan kerja sama sepertinya susah sekali!"

__ADS_1


"Memang siapa orang itu Mas?"


"Renaldy!" Disana Rita benar-benar kaget mendengar kata Renaldy disebut, dia sempat menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Kenapa!" Apa kamu kenal dengan Pak Renaldy?" Dengan cepat Rita menjawabnya.


"Tidak Mas, saya tidak kenal. Memangnya orang itu sedang apa di Rumah sakit ini?"


"Katanya putrinya sedang sakit, dia sedang menunggu putrinya di Rumah sakit ini!"


Rita semakin terperanjat, apa benar tadi itu Mas Renaldy, tapi apa benar dia pemilik perusahaan terbesar di kota ini, terus putrinya?, Apa dia sudah menemukan putriku di panti asuhan?, Rita benar-benar sangat kacau memikirkan itu semua.


"Apa kamu sudah selesai di periksa!"


"Sudah mas saya sudah selesai."


"Kalau begitu, kita langsung pulang saja. Masalah administrasi sudah saya selesaikan tadi."


Akhirnya Damian dan Rita segera pergi dari tempat itu, mereka segera berjalan menuju ke lobby Rumah sakit disana sopir pribadi Damian sudah menunggu.


Di sepanjang perjalan Rita masih memikirkan Renaldy "Apa besok aku kesini lagi untuk mencari tahu, apa benar itu mas Renaldy, dan apa benar juga yang dimaksud putrinya itu adalah Elena putriku" tapi bagaimana aku bisa keluar dari rumah, sedang Mas Damian saja tidak pernah membolehkan aku pergi dari rumah. Aku harus bagaimana?" gumam Rita.


"Kamu kenapa, sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu, sejak dari tadi saya perhatikan kamu nampak murung. Apa kamu masih memikirkan pemeriksaan tadi!"


"Em...Benar Mas, saya sangat takut kalau tidak bisa memberikan keturunan untukmu!"


"Apa yang kamu katakan!, kita hanya mampu berusaha. Kalau kita gagal, kita akan mengambil anak angkat saja di panti asuhan!" mendengar kata panti asuhan hati Rita semakin teriris, dia semakin teringat dengan putrinya yang dia tinggalkan di panti asuhan.


"Bagaimana kalau kita pergi bulan madu?, Kamu setuju?"


Mendengar kata bulan madu, hati Rita benar-benar sangat bingung, pasti suaminya akan mengajaknya pergi jauh, sedang dia ingin menyelidiki siapa sebenarnya Renaldy yang ada di Rumah sakit tadi.


Ini adalah kesempatannya bisa menemukan Renaldy. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Tapi bagaimana dengan suaminya, kini pikirannya benar-benar pusing dengan masalah yang akan dia hadapi.

__ADS_1


To Be Continued.......


__ADS_2