
Disana sedari tadi Bu Sindy melihat Evan juga Elena berada, hatinya sebenarnya mulai tersentuh, dia sebenarnya tidak mempermasalahkan dengan siapa Evan menjalin hubungan, yang dia ingin Evan saat ini bisa bahagia dengan hidupnya.
Bu Sindy akhirnya masuk kesebuah restoran yang yang ada di pusat perbelanjaan itu.
Elena dan Evan pun masih sama-sama terdiam setelah kepergian Pak Renaldy.
''El bagaimana kalau kita makan di retoran itu?'' tanya Evan pada Elena.
''Apa Bapak sudah lapar?''
Sebenarnya Evan hanya ingin mempertemukan Elena dengan Ibunya, karena Ibunya memberi tahu Evan akan pergi makan di retoran langganan Ibunya.
Akhirnya Evan pun mengajak Elena masuk kesebuah retoran yang di tunjuk Evan, benar saja Ibu Sindy sudah berada disana sejak dari tadi.
Elena yang melihat keberdaan Bu Sindy pun sedikit cemas.
''Pak apa Bapak sudah ada janji dengan Bu Sindy sebelumya?'' tanya Elena pada Evan.
''Tidak saya malah tidak tahu kalau Ibu ada di sini.'' ucap Evan sedikit berbohong.
Mereka pun akhirnya berjalan mendekati meja Bu Sindy berada, di sana Bu Sindy sudah melihat kedatangan Evan dan Elena mendekati ke arah mejanya berada.
''Ibu, Ibu ada disini juga?'' sapa Evan pada Ibunya.
''Benar Ibu sangat bosan makan makanan rumah Van, makanya Ibu jalan-jalan dan makan di restoran ini."
Disana Elena benar-benar gugup, dia teringat terakhir kali bertemu Bu Sindy di apartemennya.
''Oya Bu, Evan juga bersama Elena kesini.'' ucap Evan.
''Selamat sore Bu?'' sapa Elena pada Bu Sindy.
''Sore, duduklah kalian!''
Akhirny Evan dan Elena pun duduk di depan meja Bu Sindy, disana Evan tahu sepertinya Elena kurang nyaman disana.
__ADS_1
''Oya kalian mau pesan apa?'' tanya Bu Sindy yang sedikit membuat kaget Elena.
''Pak, Bapak saja yang pesan saya ngikut saja Pak.'' ucap Elena yang sedikit bergetar.
Akhirnya Evan pun memilih dua menu yang sama, di sana Bu Sindy sudah terlebih dahulu memesan menu makanan.
Karena menunggu lama makanan datang, akhirnya Elena ijin untuk pergi ke toilet. setelah kepergian Elena ke toilet Bu Sindy dengan cepat bertanya kepada Evan.
''Bagaimana Van, apa kamu sudah mendapat informasi tentang siapa orang tua Elena sebenarnya?'' tanya Bu Sindy penuh selidik.
''Sudah Bu, tapi sayangnya setelah dicari Ibu Elena tidak ada di alamat yang Evan cari. Menurut Mario Ibunya Elena sudah menikah dengan seorang laki-laki kaya raya dan sudah tidak tinggal lagi di rumah itu.
Mendengar ucapan Evan, Bu Sindy pun mulai berfikir, kalau benar Elena anak orang kaya tentu saja ada kemungkinan Elena sepadan dengan Putranya asalkan keluarganya jelas, sebenarnya Bu Sindy tidak mempermasalahkan semuanya.
Belum selesai mereka berbicara Elena sendiri sudah kembali dari toilet, sebenarnya tadi Elena hanya beralasan untuk pergi ke toilet, padahal dia hanya ingin menghilangkan rasa gugupnya di depan Bu Sindy.
**
Sementara itu Pak Renaldy sedang dalam perjalanan menuju apartemen putri angkatnya, dia ingin meminta maaf atas perbuatanya waktu itu.
Sesampainya di apartemen, Pak Renaldy segera memencet bel disana, tanpa menunggu lama akhirnya Tania membukakan pintu apartemennya, alangkah terkejutnya Tania bahwa Ayah angkatnya sudah ada di depan pintu.
"Papa, kenapa Papa tahu aku disini?" Tanya Tania pada Ayah angkatnya, sebenarnya Tania baru dua malam tinggal di apartemen miliknya, biasanya dia ada di rumah yang Pak Renaldy berikan.
"Papa sudah mencarimu kerumahmu tapi kamu tidak ada, jadi menurut Papa pasti kamu ada di apartemen.'' Ucap Pak Renaldy.
"Apa Papa tidak di persilahkan masuk?" Tanya Pak Renaldy lagi.
"Masuklah, maaf tempatnya berantakan!" Ucap Tania
Disana Pak Renaldy akhirnya masuk, dia sangat terkejut disana banyak sekali bekas botol minuman berserakan, dia pun segera menanyakan pada Tania.
"Tania apa kamu mabuk-mabukan, berapa kali Papa bilang jauhi benda haram itu!" Ucap Pak Renaldy geram.
"Sudahlah Pa, ga usah di permasalahkan toh hanya sekedar minuman!" Ucap Tania santai.
__ADS_1
"Apa kamu bilang, hanya sekedar minuman!, Papa tidak suka kamu melakukan itu semua sayang tolong jauhi minuman-minuman itu!"
Pak Renaldy mulai melunakan suaranya, dia tau dari dulu sifat Tania sedikit keras. untuk menghadapi Tania dia harus sedikit pelan agar Tania bisa mengerti dengan apa yang dia minta.
"Baikalah, sekarang apa yang membuat Papa kesini?" Tanya Tania yang tidak ingin membuat perdebatan.
"Papa kesini karena Papa ingin meminta maaf atas perbuatan Papa kemarin, Papa sangat menyesal." Ucap Pak Renaldy yang benar-benar merasa menyesal atas perbuatannya menampar Tania.
"Sudahlah Pa, aku sudah melupakan semuanya. Papa pantas melakukan semuanya, karena Tania hanya anak angkat Papa!" Ucap Tania gamang.
"Jangan bicara seperti itu, mau sampai kapan pun kamu adalah anak kesayangan Papa, Oya Papa akan bantu perusahaanmu agar bisa bangkit lagi.'' Ucap Pak Renaldy sungguh-sungguh.
"Beneran Pa, Papa mau bantu perusahaan Tania?" Ucap Tania yang sangat senang padahal dia sudah mulai menyerah dengan pembatalan kerjasama dengan Evan. Perusahaannya benar-benar sangat kacau.
"Papa akan menyuruh asisten Papa menangani semua permasalahan di perusahaan milikmu, tapi Papa harap jangan kecewakan Papa!" Ucap Pak Renaldy yang meminta Tania fokus dalam mengembangkan bisnis yang ia beri.
"Iya Pa, Tania janji akan lebih giat lagi memimpin perusahaan, Tania tidak akan mengeluh lagi!" Ucap Tania meyakinkan.
**
Sementara itu Evan dan Elena sudah selesai makan bersama Ibunya, tak banyak pembicaraan yang Elena terima disana. Mereka sama-sama banyak berdiam.
Sepulang dari restoran itu Evan akhirnya mengantarkan Elena untuk pulang ke apartemennya.
Di dalam mobil Elena ingin sekali bertanya perihal pembicaraan apa yang Evan bicarakan dengan Ibunya selama dia pergi ke toilet.
"El kamu kenapa semenjak pulang dari restoran tadi kamu terlihat diam?" Tanya Evan pada Elena.
"Tidak apa-apa Pak saya cuma penasaran tadi Bapak membicarakan apa dengan Ibu Pak Evan, apa Ibu Pak Evan membicarakan saya?" Tanya Elena yang sebenarnya sangat penasaran.
"Ibu hanya menanyakan perihal Ibu kandungmu itu saja, kamu tidak usah khawatir Ibu pasti merestui kita percayalah." Dengan lembut Evan memegang tangan Elena disana.
Sebenaranya untuk mengingat kembali tentang Ibu kandungnya, dalam hati Elena sudah tidak ingin mencarinya lagi dan tidak ingin tahu siapa Ibu yang melahirkannya.
Menurutnya, Ibunya sudah tidak menginginkan dia, semenjak dia di lahirkan di dunia ini. seandainya kelahirannya memang diharapkan mana mungkin Ibunya tega meninggalkannya anak yang baru saja ia lahirkan di titipkan di panti asuhan.
__ADS_1
Bersambung.....