Gadis Miskin Kesayangan CEO

Gadis Miskin Kesayangan CEO
Bab 72 #Tania Kabur


__ADS_3

Pak Renaldy sudah kembali lagi keruangan perawatan Elena, entah mengapa hatinya tiba-tiba bersedih kala mengingat kembali tentang masalah anak-anaknya.


Disana Elena sudah melihat kedatangan Pak Renaldy. Dia segera bangun dari bet tempat tidurnya.


"Kenapa kamu bangun Nak, sudah kamu tiduran saja!"


"Saya bosan Pak, kapan saya di bolehkan pulang?" Pak Renaldy hanya terdiam disana.


"Nak kapan kamu mau memanggil saya Papa, saya adalah Papa kandungmu, Papa ingin kamu memanggil Papamu ini Papa sayang." Elena masih terdiam disana, sebenarnya hatinya sudah mulai luluh dengan perlakuan Pak Renaldy setelah beberapa hari ini Pak Renaldy selalu menemaninya di Rumah sakit.


"Maafkan saya, mungkin saya belum terbiasa P-a." Dengan terbata Elena mulai memanggilnya.


Pak Renaldy benar-benar sangat senang setelah Elena mencoba memanggilnya Papa, dia tersenyum dan mulai mendekati putrinya.


"Nak kalau kamu sudah sembuh nanti ikutlah Papa, kamu akan tinggal bersama Papa di rumah kita. Disana ada Nenekmu yang ingin sekali bertemu denganmu.


"Nenek, apa saya masih punya Nenek?"


"Ya, Nenekmu masih ada, tapi sekarang beliau sedang sakit, hanya dengan kursi roda Nenekmu beraktivitas."


Disana Elena mulai tertegun, jadi selama ini dia masih punya Nenek, bahkan selama ini Papanya juga sudah mencarinya. Apakah ini mimpi?, Anak kecil yang setiap malam di panti asuhan menangis merindukan orang tuanya ternyata masih punya keluarga.


"Jadi selama ini kamu tinggal dimana sayang?"


"Saya dulu tinggal bersama teman saya, saya tinggal di sebuah kos, hingga akhirnya Mas Evan memberikan apartemennya untuk saya tinggal disana."


"Jadi Pak Evan sangat berjasa padamu, Papa tidak akan melupakan siapa saja orang yang sudah baik sama putri Papa. Papa akan menjalin kerja sama yang lebih luas untuk Pak Evan, Oya dengan Panti asuhan tempatmu dulu Papa ingin membuatkan bagunan baru untuk panti itu bagaimana menurutmu Nak?"


"Benarkah, saya sangat senang Pak Renaldy? maksud saya Pa-pa mau membangun tempat panti itu, disana banyak kenangan saya dari kecil sampai dewasa."


"Maafkan Papa sayang." Dengan segera Pak Renaldy  memeluk putrinya disana.


"Maafkan Papa yang membiarkanmu tinggal di panti asuhan, Papa kira Rita membesarkanmu bersamanya tapi ternyata Rita malah menitipkan mu di panti asuhan!, Papa benar-benar bersalah pada kalian berdua. Ijinkan Papa menebus semua kesalahan Papa Nak."


Disana Elena tidak bisa berkata-kata hatinya memelas melihat Papanya sepertinya sangat menyesal dengan yang telah terjadi pada dirinya.


"Oya Papa ingin mengatakan sesuatu padamu, ini tentang Tania!"


"Tania!, Bagaimana apa dia sudah di hukum dia sudah tega menculik saya dan dengan sengaja ingin membunuh saya pelan-pelan!" Dengan emosi berkecamuk Elena mengatakannya.


"Papa pasti akan membawanya ke kantor polisi, yang mau Papa katakan. Sebenarnya, Tania itu anak angkat Papa Nak."

__ADS_1


"Apa!!! Jadi selama ini Tania?"


"Ya Nak, Tania Papa ambil di sebuah panti asuhan, itu semua karena Papa selalu teringat padamu dan Rita, hingga Papa putuskan mengambilnya untuk mengobati kerinduan Papa terhadapmu." Mendengar perkataan Pak Renaldy emosi Elena mulai melemah, "Ternyata orang yang menculiknya adalah Tania, anak angkat Papa" gumam Elena.


"Jadi apa Papa mau membelanya, dan memaafkan Tania!"


"Tidak Papa tidak bisa memaafkan kesalahan Tania, mau bagaimana pun Tania harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dia lakukan!"


Tiba-tiba pintu ruangan itu di ketuk dari luar, pintu itu pun akhirnya terbuka dan terlihat disana asisten Pak Renaldy muncul dari balik pintu.


"Pak!, Elena!"


"Roy, apa ada masalah!"


"Maaf Pak, kalau saya mengganggu, saya hanya ingin mengatakan kalau Tania sudah kabur dari Rumah sakit ini Pak!"


"Apa!!, Tania kabur!"


"Benar Pak, tadi dia sempat meminta saya untuk membelikan sesuatu, setelah saya kembali dia sudah tidak ada di ruangannya, saya tanya pada suster serta penjaga semua tidak ada yang melihatnya."


"Apa kamu sudah cek CCTV?"


"Anak itu benar-benar sudah membuat saya marah!" Elena disana masih kaget kenapa dengan Tania apa Tania di rawat disini.


"Pa kenapa Tania bisa ada disini?, Di Rumah sakit ini?"


"Tania di bawa Roy kesini karena Tania mencoba bunuh diri Nak."


"Apa!!"


"Ya Tania mencoba bunuh diri karena mungkin Papa sangat marah dengannya atas apa yang sudah dia lakukan padamu!, Tapi Papa tidak tahu apa motif lainnya, karena Papa terakhir bicara dengannya saat Papa tau dia menculikmu!"


"Roy, cari sampai ketemu Tania!" Kerahkan semua anak buah!"


"Baik Pak!" Roy segera beranjak dari sana, dia segara meninggalkan ruangan Elena berada. Di persimpangan jalan menuju keluar Roy disana bertemu dengan Evan.


"Pak Roy!"


"Pak Evan!"


"Sedang apa Pak Roy disini?"

__ADS_1


"Saya baru saja bertemu dengan Pak Renaldy Pak!"


"Oh begitu, baiklah saya akan segera masuk!"


"Silahkan!" Akhirnya Evan berlalu dari hadapan Roy dan segera menuju keruangan Elena.


**


Sementara itu Tania sedang berada di dalam taxi, dia bingung mau kabur kemana, pasti anak buah Papanya akan bisa menemukannya. Dia lantas menghubungi seseorang.


"Halo Ton!"


"Tania!, tumben kamu menghubungiku!"


"Jangan banyak bicara, kamu sekarang dimana. Apa kamu sudah pulang dari luar negeri!"


"Sudah baru kemarin aku pulang, aku ada di apartemenku, apa kamu mau kesini?"


"Ya aku akan ketempatmu!"


Dengan terpaksa Tania menghubungi mantan kekasihnya Anton, dia tidak tau harus pergi kemana. Selama ini dia hanya punya Anton yang selalu menjadikannya tempat keluh kesahnya, sebenarnya Anton hanyalah tempat pelampiasan Tania saja.


Hari pun sudah mulai sore disana di rumah megah milik Damian, Rita sedang mencoba mencari alasan pada suaminya agar dia di ijinkan keluar dari rumah.


"Mas apa boleh saya besok ijin keluar!" Damian yang sedang sibuk dengan ponselnya akhirnya menatap kearah istrinya.


"Kamu mau kemana?, Besok saya temani!"


"Mas kan sibuk, saya hanya ingin sekedar jalan-jalan ke pusat perbelanjaan saya bosan mas, dirumah terus." Disana Damian mulai menatap tajam kearah istrinya dia mulai menaikan satu alisnya dia merasa heran tidak biasanya istrinya ingin pergi keluar jalan-jalan.


"Jam berapa kamu mau keluar!"


"Apa boleh Mas, saya boleh keluar jalan-jalan!"


"Boleh, tapi dengan saya!, nanti akan saya temani kamu kemanapun kamu pergi. Soal kerjaan sudah ada asisten saya yang mengurusnya." Disana Rita sedikit kesal kenapa susah sekali untuk keluar dari rumah, suaminya tetap saja mau mengikuti kemanapun dia ingin pergi.


"Ya sudah kalau begitu saya tidak jadi Mas!" Dengan segera Rita beranjak dan berlalu meninggalkan suaminya disana, dengan banyak pertanyaan di kepalanya Damian benar-benar penasaran, sebenarnya Rita ada urusan apa.


Damian pun segera menyusul istrinya yang tadi sudah naik ke lantai atas, dan langsung masuk ke kamarnya. Dia ingin mencari tahu sebenarnya istrinya ingin pergi kemana sampai dia marah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2