
Sementara itu Tania masih berlari memasuki apartemen, dia sungguh ketakutan, dia merasa orang-orang dari Papanya sudah mengetahui keberadaannya. Setelah sampai di pintu apartemen dia langsung membuka pintu dan langsung segera masuk dengan sangat terburu-buru dia dengan cepat menutup pintu apartemen.
"Bagaimana orang-orang Papa mengetahui aku disini, sial! Aku harus bersembunyi dimana lagi!" Tania pun segera meletakan barang-barang belanjaannya kedalam lemari pendingin, rasa laparnya sudah hilang kala rasa takutnnya melanda, dia hanya mampu duduk dikursi meja makan, dia berfikir keras kemana lagi dia akan bersembunyi.
Tania kemudian teringat dengan kartu debitnya, sepertinya dia lupa memasukannya kedalam dompetnya, dia pun segera merogoh saku kantongnya dan mencari-cari kartu itu dia sangat kaget karena dia tidak menemukan kartu debitnya disana, dia hanya menemukan satu lembar kertas transaksi belanjanya tadi.
"Dimana aku menyimpannya, sial benar hari ini, dia mulai mengingat-ingat dimana dia menyimpannya, "Apa aku lupa menyimpannya, atau kartu itu?, Jangan-jangan kartu itu tertinggal di toko itu, dan orang-orang tadi?, apa mereka memanggilku karena kartu ku tertinggal?, Betapa bodohnya aku!"
Tiba-tiba bel apartemen disana berbunyi, Tania disana segera berjalan kearah pintu untuk segera melihat siapa yang datang, dia mengintip di pintu kaca kecil apartemennya, ternyata di luar sudah berdiri Anton.
Akhirnya Tania segera membukakan pintu itu, setelah pintu itu terbuka dia melihat Anton berdiri dengan kedua tangannya membawa dua kantong plastik yang tak tahu isinya apa.
"Kamu sudah pulang!, Masuklah!"
"Apa kamu tidur nyenyak tadi, Oya aku lupa mengisi makanan di lemari pendingin. Apa kamu sudah makan?"
"Belum aku belum makan, tapi aku tadi juga sudah belanja di toko dekat sini, malah kamu juga belanja lagi."
"Benarkah, maaf ya aku sungguh sangat lupa mengisinya, bagaimana kalau sekarang aku buatkan kamu stek daging, kebetulan tadi aku membeli daging!"
"Terserah kamu saja, Oya apa aku bisa minta tolong!''
"Tentu saja apa yang bisa aku bantu?"
"Kartu debit ku tadi masih ketinggalan ditoko itu, aku baru ingat setelah tadi sampai di apartemen."
"Kenapa kamu bisa sampai ceroboh!" Disana Anton berjalan kearah Tania, Tania yang melihat Anton mulai mendekatinya segera berdiri dari kursi yang ia duduki.
"Ton kamu mau ngapain?" Ucap Tania yang sedikit panik.
"Tidak ngapa-ngapain aku hanya ingin keluar mengambil kartu debitmu!" Sambil mengulam senyum Anton merasa menang mengelabuhi Tania.
"Eh....Em kirain mau ngapain!" Dengan sangat malu Tania salah tingkah sendiri. "Ya Tuhan kenapa aku bisa sebodoh ini, mengira Anton??
__ADS_1
Anton pun segera keluar dari apartemennya dia berjalan keluar dari apartemen dengan wajah yang menahan tawa, dia mengingat tingkah konyolnya yang baru saja ia lakukan, Tapi sepertinya Tania sudah ketakutan duluan, aku harus bisa memilikimu kembali Tania.
Tidak butuh lama Anton akhirnya sampai di sebuah toko yang Tania maksud dia segera masuk ke toko itu, tanpa dia ketahui disana sudah ada orang-orang Damian yang sedang mengintai.
"Mba maaf tadi teman saya belanja disini, dan kartu debitnya ketinggalan. Apa karyawan disini menyimpannya?"
"Oh atas nama mba Tania ya Mas, ini kartunya ketinggalan tadi. Tadi temen saya menitip pesan dan menitipkan kartu itu disaya." Pelayan toko itu pun segera memberikan kartu itu pada Anton, Damian memang sengaja mengatur strategi agar dia mengetahui keberadaan Tania.
"Terimakasih banyak mbak!"
"Sama-sama." Akhirnya Anton segera keluar dari toko itu, dan orang yang mendengar pembicaraan tadi didalam segera membuntuti Anton, disana Anton tidak mengetahui kalau ada orang-orang yang mengikutinya.
Tibalah Anton masuk ke apartemennya dia mulai menaiki Lift untuk menuju ke lantai 10, didalam lift itu Anton tidak mencurigai orang-orang yang mengikutinya.
Akhirnya sampailah Anton dilantai 10 dia segera keluar dari lift itu, dia berjalan dengan sangat santainya. Hingga dia sampai di depan pintu apartemennya dan kemudian dia segera masuk kedalam.
Sementara orang-orang itu hanya mengawasi dimana dan nomor berapa Anton masuk, orang itu pun segera menghubungi bos mereka.
"Halo Pak, saya sudah menemukan dimana kemungkinan putri Bapak tinggal!"
"Orang yang tadi mengambil kartu itu seorang laki-laki dia mengaku temannya Tania, kami mengikutinya ternyata orang itu tinggal di apartemen dekat toko, mereka tinggal di apartemen lantai 10 nomor 114 Pak!"
"Oke, terus kalian awasi pergerakan disana, sampai saya datang!"
"Baik Pak!"
**
Malam itu Evan sedang mengadakan pertemuan makan malam dengan Pak Renaldy di sebuah restoran, Ibu Sindy dan juga Elena juga ada disana. Mereka menikmati makan malam bersama, setelah makan malam mereka selesai Evan berencana mengutarakan maksud dan tujuannya dengan Pak Renaldy.
"Pak boleh saya bicara sebentar!" Pak Renaldy yang sedang berbicara dengan Elena segera menoleh ke arah Evan.
"Ya Pak Evan, silahkan, bicaralah!"
__ADS_1
"Begini Pak, saya berencana ingin melamar Elena, apa Pak Renaldy mengijinkannya?" Disana Pak Renaldy, dan Bu Sindy bertukar pandang mereka sama-sama tersenyum. Sedang Evan dan Elena masih mendengarkan jawaban dari Pak Renaldy dengan perasaan gelisah.
"Tentu saja silahkan Pak Evan, Nak apa kamu sudah siap di lamar Pak Evan?" Di tanya sedemikian rupa wajah Elena jadi sangat malu, disana dia hanya menganggukan kepalanya.
Evan sungguh tidak bisa membendung kebahagiaanya, sedikit lagi dirinya bisa mendapatkan Elena seutuhnya. Disana dia ingin sekali memeluk Elena untuk merayakan kebahagiannya, tapi sayangnya ada orang tuanya dan juga calon mertuanya disana.
"Sin, saya tidak menyangka pertemanan kita nantinya akan berubah jadi besan."
"Kamu benar Ren, semua seperti mimpi bukan?" Mereka disana tertawa bersama.
"Nak Papa ijin ke toilet dulu ya, Sin, Pak Evan!"
"Pak Bapak bisa panggil saya Evan saja, sepertinya kalau Pak kesannya kita tidak bisa akrab."
"Baiklah Evan, ya Evan saja." Disana mereka kembali tertawa bersama.
Akhirnya Pak Renaldy bergegas menuju ke toilet, dia ingin ke kamar kecil. Tanpa Pak Renaldy duga di depannya sedang berjalan seorang wanita yang selama ini dia cari. Rita memang sedang berjalan-jalan di pusat perbelajaan itu, semenjak suaminya sudah jarang pulang dia mengambil kesempatan untuk mulai terbuka dengan dunia luar.
Pak Renaldy disana terus berjalan dia mencari dimana keberadaan toilet berada, sampai akhirnya dia menemukan ada tulisan toilet disana. Dengan berjalan sangat terburu-buru tanpa sengaja Pak Renaldy bertabrakan dengan seseorang, wanita itu sempat akan terjatuh tapi dengan cepat Pak Renaldy segera memegang tangan itu. Mereka belum melihat satu sama lain.
"Kamu apa-apaan si, kalau jalan lihat-lihat dong, sembarangan pegang-pegang tangan saya, lepaskan tangan saya!" Pak Renaldy dengan cepat melepaskan tangan wanita itu, padahal niat hati dia ingin menolong wanita itu agar tidak terjatuh malah dia kena semprot.
Pengunjung disana mulai berkerumun dengan teriakan wanita itu yang memarahi Pak Renady, hingga menarik perhatian Rita untuk segera melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Maaf saya tadi sangat buru-buru, tadi saya hanya ingin menolong anda, saya takut anda terjatuh, itu saja. Kalau begitu sekali lagi saya minta Maaf!"
Disana Rita mulai melihat ada apa sebenarnya yang terjadi, alangkah terkejutnya dirinya saat dia melihat seorang laki-laki yang ia kenal sedang berdiri di tengah kerumunan itu.
"Renaldy?? Rita segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya, dia benar-benar tidak menyangka kalau akan bertemu mantan kekasihnya disini. Akhirnya Rita ingin berencana mendekati Renaldy tapi tiba-tiba??
"Pa, Papa kenapa?, ada apa ini!"
"Hanya insiden kecil Nak, Papa tidak apa-apa!"
__ADS_1
Disana Rita sempat berhenti melangkahkan kakinya "Papa" apa dia putriku, wajahnya mirip dengan ku, Elena apa dia putriku??
Bersambung....