
"Pak Evan, apa yang Bapak lakukan?" ucap Elena yang mulai merasakan sesuatu disana, hatinya mulai berdesir setelah merasakan sentuhan Pak Evan yang begitu lembut memeluknya.
"Kenapa kamu lama sekali menemui Siska?" tanya Evan yang masih memeluk Elena dari belakang.
"Bapak kan tadi sudah mengijinkan saya." ucap Elena yang berusaha melepaskan dekapan tangan Evan.
"Kamu tau semenjak di mobil tadi kamu sangat menggodaku dan membuat saya gemas."disana Evan masih tak ingin melepaskan Elena.
Tiba-tiba suara ketukan pintu dari luar membuat Evan harus melepaskan pelukannya, Evan sedikit kesal karena disaat seperti ini ada orang yang berani mengganggunya, tapi Elena malah merasa senang karena terbebas dari Evan.
Elena segera bergegas menuju meja kerjanyanya, sedang Evan juga segera kembali ke mejanya dan menyibukan dirinya di layar kerjanya.
"Masuk!" ucap Evan dari dalam.
"Maaf Pak, anak buah saya sudah mendapatkan informasi tetang mobil yang kemarin membututi Pak Evan!" ucap Mario, ternyata Mario kembali lagi ke ruangan Evan karena ada informasi yang ia bawa.
"Siapa orang itu?" tanya Evan yang tak sabar lagi mendengarnya.
"Setelah di selidiki bos mereka adalah kerabat dari keluarga Mahendra!" Evan yang mendengarnya pun sangat kaget.
"Apaaaa!!!! Apa dia Paman Damian adik tiri Ayah?" tanya Evan pada Mario.
"Sementara informasinya masih belum lengkap Pak, untuk nama kita tunggu informasi selanjutnya." ucap Mario yang segera pamit keluar untuk menyelesaikan tugasnya.
Disana Evan masih bertanya-tanya "Apakah mungkin Paman Damian yang berusaha menggangguku."
Paman Damian adalah adik tiri dari Ayahnya Evan, tapi selama ini Paman Damian sangat baik terhadapku semenjak aku kecil Paman Damian sangat menyayangiku, sampai suatu hari Paman Damian pun menghilang tanpa kabar tapi rasanya tak mungkin kalau dia di balik semua ini.
Elena yang melihat Evan terdiam hanya bisa melihatnya dari meja kerjanya, dia tidak mau ikut campur dalam urusan ini biar Pak Evan saja yang menyelidiki, ini menyangkut keluarga besar Pak Evan.
Akhirnya Evan segera memgambil ponselnya di atas meja dia segera menghubungi Ibunya.
__ADS_1
Sementara itu Bu Sindy sedang berada di kamarnya, dia sedang memandangi foto mendiang suaminya Erlangga Mahendra. tanpa semua orang tau Bu Sindy masih belum bisa melupakan mendiang suami tercintanya, setiap ada kesempatan pasti Bu Sindy akan mengobrol dengan foto suaminya.
"Mas...Kamu tau Evan sekarang sudah berumur dua puluh tujuh tahun, dan kamu tau sekarang Evan sudah mendapatkan gadis pilihannya, sebenarnya aku tidak keberatan dengan pilihan Evan, tapi sesui keinginanmu waktu itu, dengan siapa nanti Evan menikah mau itu kaya atau miskin asal wanita itu jelas asal usulnya, kamu akan merestuinya bukan."
Belum sempat Bu Sindy melanjutkan ceritanya dengan foto mendiang suaminya, tiba-tiba ponsel milik Bu Sindy berbunyi, mau tak mau Bu Sindy segera melihatnya.
"Lihat mas anak kita Evan menghubungi kita." ucap Bu Sindy yang masih berbicara pada foto mendiang suaminya.
"Ya halo Evan sayang, tumben kamu menghubungi Ibu?" ucap Bu Sindy pada putranya.
"Ya Bu ada yang mau Evan tanyakan?"
"Katakan Nak!" dengan segera Bu Sindy berusaha menaruh foto mendiang suaminya di tempat tidurnya.
"Bu apa Ibu pernah berhubungan dengan Paman Damian?" Bu Sindy yang mendengarnya benar-benar sangat terkejut dengan ucapan Evan, entah mengapa hatinya terasa sakit setelah mendengar kata Damian.
"Apa yang kamu tanyakan, sudah Ibu bilang jangan kamu dekati lagi Damian itu!" ucap Bu Sindy dengan suara meninggi.
Mendengar ucapan putranya Bu Sindy sangat kaget tanpa ia sadari keringat dingin mulai membanjiri keningnya, dia tidak ingin peristiwa itu terulang kembali.
"Evan Ibu minta jauhi Damian, jangan sekali-kali kamu berurusan dengannya. Ingat itu!" ucap Bu Sindy penuh penekanan.
"Apa ada sesuatu yang Ibu sembunyikan dari Evan?" disana Evan ingin tau sepertinya Ibunya menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
Deeeeg.....Hati Bu Sindy seperti tercabik-cabik kalau mengingat peristiwa itu, dia berusaha menutupi semua tentang kasus kematian mendiang suaminya. Tapi mengapa sekarang Damian muncul lagi setelah Evan dewasa.
"Sudah Ibu bilang jangan berurusan dengan Damian, kalau bisa perketat lagi penjagaanmu! Dan kalau bisa kamu juga harus menyewa bodyguard untuk mengawalmu kemana pun kamu pergi, kamu mengerti!!!"
Disana Evan hanya terdiam, apa sebenarnya yang ibunya tutupi dari dirinya semua itu masih menjadi misteri bagi Evan.
"Baiklah Bu, kalau begitu nanti Evan akan sewa bodyguard untuk mengawal Evan kemana pun Evan pergi."
__ADS_1
Akhirnya Bu Sindy mulai sedikit lega, putranya Evan mau menuruti perintahnya, dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Evan. Dia berusaha akan menemui Damian dan menanyakan tentang kemunculannya setelah belasan tahun menghilang begitu saja.
Akhirnya Evan mematikan ponselnya, disana dia masih pusing dengan isi kepalanya. Banyak pertanyaan yang mengganggu di fikirannya yang belum terjawab oleh Ibunya.
Elena yang sedari tadi melihat Evan sebenarnya ingin sekali mendekatinya dan menanyakan apa yang sebenarnya Pak Evan fikirkan, tapi dia tidak berani untuk menanyakannya.
"Pak apa Bapak butuh istirahat?" tanya Elena pada Evan. disana Evan baru sadar sedari tadi ada Elena di ruangan itu.
"Elena apakah kamu mau menemani saya jalan-jalan sepulang dari kantor?" tanya Evan pada Elena.
"Tentu saja Pak, apa Bapak mau jalan-jalan ditaman mungkin?" Elena memberi usul Evan segera bangkit dari tempat duduknya dan mulai berjalan mendekati Elena.
"Baiklah kamu tau dimana taman yang tidak begitu ramai?" disana Evan mulai menantap tajam pada wajah Elena.
"Saya sering jalan-jalan bersama Siska ketaman dekat kantor ini Pak, disana tidak begitu ramai. hanya ada anak-anak yang bermain di taman itu."
"Baiklah nanti kita akan kesana!" ucap Evan yang beralih menatap ke bibir Elena.
Disana Elena baru sadar kalau Pak Evan sudah memandanginya sedari tadi, dia ingin segera berpura-pura ke kamar kecil agar sesuatu itu tidak terjadi.
"Maaf Pak saya ijin ke kamar kecil dulu!" ucap Elena yang segera bangkit dari tempat duduknya.
Tapi tiba-tiba Evan segera menghentikan aksi Elena dia dengan cepat meraih tangan Elena, disana Elena berfikir keras bagaimana lepas dari ulah bosnya.
"Pak maaf kali ini, saya sudah tidak tahan!" ucap Elena yang berpura-pura memegangi perutnya.
Evan yang melihat Elena seperti itu malah merasa geli, dengan terpaksa dia harus mengurungkan niatnya.
Dengan segera Elena berlari dari sana setelah Evan melepaskannya, Evan benar-benar terkekeh sendiri melihat tingkah Elena, sebenarnya dia tau Elena hanya berpura-pura mengihindarinya.
BERSAMBUNG.....JANGAN LUPA BANTU LIKE SERTA KOMENNYA YA,TERIMAKASIH.
__ADS_1