Gadis Miskin Kesayangan CEO

Gadis Miskin Kesayangan CEO
Bab 43 #Makan malam Romantis


__ADS_3

Akhirnya Elena pun keluar dengan memakai dress warna putih yang sangat pas di badannya, wajahnya pun terlihat cantik alami dia hanya memakai bedak, dan mengoleskan lipstik disana, Evan pun terpana melihat kecantikan Elena.


"El...Kamu...Kamu cantik sekali malam ini." Sanjung Evan pada Elena. Disana Elena hanya terisipu malu, dia pun masih berdiri di hadapan Evan. Disana Evan tak henti-hentinya memuji seorang Elena Rosalina.


"Pak", Kita jadi pergi tidak?" Ucap Elena membuyarkan lamunan Evan.


"Jadi!" Evan pun segera menggandeng tangan Elena, dia pun membawa Elena turun kebawah tanpa melepaskan genggaman tangannya sedikit pun.


"Pak, apa Bapak tidak malu, semua orang memperhatikan kita Pak!" Ucap Elena berbisik.


"Apa kamu malu?" Evan membalikan pertanyaan pada Elena.


"Tidak Pak saya tidak malu!"


"Kalau begitu, kenapa kamu pedulikan orang lain." Ucap Evan tegas.


Mobil Evan segera melaju membelah ramainya jalan, sampai akhirnya kurang lebih dua puluh menit mereka pun akhirnya sampai disebuah restoran yang Evan pesan, Disana mereka di sambut para pelayan.


"Pak kenapa disini sepi sekali?" Tanya Elena pada Evan.


"Ya", karena restoran ini sudah saya pesan khusus untuk kita berdua." Elena pun terperangah.


"Pak Bapak berlebihan, Bapak sayang kalau harus buang-buang uang pak!" Evan pun hanya tersenyum mendengar ucapan Elena.


Disana Evan sudah mempersiapkan semuanya, Ini adalah malam pertama baginya dimana dia makan malam romantis dengan seorang wanita. Dia pun menarik kursi untuk Elena duduk, sungguh Elena merasa tersanjung di perlakukan sedemikian rupa.


Iringan musik disana pun menambah keromantisan suasana malam yang indah itu, Elena pun di buat takjub dengan semuanya, dia pun baru pertama kalinya merasakan malam bersama kekasihnya.


"El..Apa kamu suka dengan semuanya." Tanya Evan pada Elena, disana Elena tidak bisa berkata apa-apa, dia pun hanya bisa menganggukan kepalanya.


Tiba-tiba lampu disana pun mati, hingga membuat Elena sedikit panik, tiba-tiba lampu-lampu dari lilin pun menyala di kegelapan dengan sangat indah menambah suasana yang romantis.


"El...Apa kamu mau berdansa dengan saya?" Elena pun terperangah mendengar pertanyaan Evan.


"Pak saya tidak bisa berdansa." bisiknya pada Evan. Tiba-tiba Evan pun meraih tangan Elena untuk segera berdiri, akhirnya mau tak mau Elena pun mengikuti ajakan Evan.


Kini mereka pun saling berhadapan, Evan pun mencoba menggenggam tangan kiri Elena dan menaruh tangan kanan Elena di bahunya, sedang tangan kiri Evan berada di belakang punggung Elena. Elena pun dibuat merinding disana.

__ADS_1


Elena pun sangat malu, terang-terangan mereka saling berhadapan, bahkan tanpa ragu Evan mengajaknya untuk sedikit menggerakan tubuhnya mengikuti irama, disana Elena benar-benar sangat kaku, sebelumnya dia belum pernah melakukannya.


Evan pun tak henti-hentinya melihat kearah wajah Elena, darahnya pun mulai berdesir hebat, Dia pun mulai mendekat lagi ke tubuh Elena, Elena pun terperanjat yang awalnya berdansa malah sekarang Evan memeluk dirinya.


"Pak apakah ini juga gaya berdansa." Tanya Elena yang bingung, Evan pun terkekeh mendengar pertanyaan Elena. Bisa-bisanya dia tidak bisa membedakan berdansa dengan pelukan.


**


Sementara di Vila milik Damian, Bu Rita duduk termenung di atas tempat tidurnya, apa yang baru saja mereka lakukan membuat nafas Rita mesih terengah. Jantungnya pun masih tak beraturan. "Kenapa kamu pergi setelah melakukanya mas, apa kamu masih menyimpan benci itu?" Ucap Bu Rita dalam hati


Disana Damian pun masih merasakan getaran hebat atas apa yang baru saja ia lakukan dengan Rita, dia pun sedikit mengulam senyuman mengingat kejadian yang baru saja ia lakukan untuk kedua kalinya, setelah malam pertama waktu itu.


Etah rasa apa yang sebenarnya ada dalam hatiku, kamu begitu cantik Rita, bahkan kamu masih bisa mengimbangi gerakan ku, bagaimana bisa selama ini aku terus membencimu." Ucap Damian dalam hati.


Rita pun akhirnya pergi kebawah untuk mencari suaminya, dia ingin membuatkan secangkir kopi untuk suaminya. Tapi dia tak menemukan keberadaan suaminya disana.


"Bi, apa Bibi lihat Tuan ada dimana?" Tanya Rita pada salah satu pelayan.


"Tadi Tuan keluar Nyonya mungkin sedang ada di taman depan." Ucap pelayan itu.


"Mas....Udaranya sangat dingin, kenapa ada di luar?" Tanya Rita pada suaminya, disana Damian pun masih terdiam.


"Ini kopi untuk mu mas!" Ucap Rita yang segera menaruh secangkir kopi itu di meja taman itu, Damian pun masih tetap terdiam.


"Mas kenapa diam saja." Damian pun mulai menatap istrinya.


"Masuklah malam semakin dinging ucap Damian sedikit lembut."


"Baiklah saya aka masuk, kamu segera masuklah" Ucap Rita yang segera melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Damian disana.


"Rita maafkan perbuatanku tadi." Ucap Damian yang berucap tanpa melihat kearah istrinya.


Rita pun berhenti melangkahkan kakinya, dia pun segera membalikan badanya kearah suaminya disana.


"Mas, Kenapa kamu meminta maaaf. Bukankan kamu punya hak disana." Ucap Rita


Damian pun masih tidak bergeming, dia pun akhirnya bangkit dari duduknya dan segera pergi dari hadapan Rita, sungguh hatinya tidak bisa berlama-lama dihadapan Rita, dia memilih pergi masuk kedalam Vila meninggalkan Rita disana.

__ADS_1


Rita pun hanya mampu melihat kepergian suaminya, dia masih bingung memahami sifat suaminya. Damian benar-benar susah di tebak, kadang lembut dan kadang kasar.


Sementara itu, Evan dan Elena sedang menikmati makan malamnya yang romantis. Hati mereka sama-sama sedang berbunga-bunga dengan apa yang baru saja mereka lakukan.


Setelah makan malam selesai, Evan memberikan satu buah kotak kecil yang sudah ia siapkan untuk Elena.


"El...Terimalah ini untukmu." Elena pun langsung melihat ke arah apa yang Evan berikan.


"Apa ini Pak? Tanya Elena sambil mengambil kotak pemberian dri Evan.


"Bukalah!" Ucap Evan dengan senyumnya yang masih mengembang.


Elena pun akhirnya membukanya dia pun terkejut dengan kotak hadiah yang Evan berikan, mulutnya pun terperangah karena saking takjubnya.


"Kalung...Pak Evan berikan untuk saya?"


"Ya, apa kamu suka?"Tanya Evan yang segera bangkit dari tempat duduknya.


"Tapi Pak apa ini harganya sangat mahal?" Tanya Elena yang kembali menatap kalung itu.


"Tidak untuk kamu, kalung ini tidak seberapa." Ucap Evan berbohong, padahal kalung itu kalung berlian yang harganya sangat mahal, Evan tau kalu Elena tau harganya dia pasti akan menolaknya.


"Bolehkan saya memakaikannya?" Tanya Evan pada Elena, Elena pun hanya mengangguk.


Dengan segera Evan memasangkan kalung itu di leher Elena, hatinya pun sangat bahagia. Elena mau menerima hadiah darinya dan bahkan menyukainya.


"Kamu sangat cantik El.." Ucap Evan yang masih memandangi wajah Elena.


"Bapak juga sangat tampan." Ucap Elena dengan malu-malu.


"Benarkah? Jadi selama ini saya tidak tampan!" Ucap Evan menggoda Elena.


"Tidak...Tidak..Bukan seperti itu, Bapak selalu tampan setiap harinya." Evan pun terkekeh melihat wajah Elena yang begitu malu tapi sangat menggemaskan.


BERSAMBUNG.....


TERIMAKASIH READERS ATAS DUKUNGANNYA,TETAP DUKUNG AUTHOR BIAR LEBIH SEMANGAT LAGI BERKARYA.TINGGALKAN JEJAK KALIAN YA DENGAN LIKE,KOMEN,DAN SUBSCRIBE VOTE JUGA TENTUNYA....TERIMAKASIH

__ADS_1


__ADS_2