
"Bagaimana nasib putriku sekarang, mungkin sekarang dia sudah jadi anak remaja." Ucap wanita itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Nyonya Rita, Anda sudah di tunggu Tuan di bawah." Ucap seorang pelayan disana.
"Baiklah saya akan segera turun." Bu Rita pun segera beranjak dari tempat duduknya dia bergegas menuju ke tempat suaminya berada.
Ya dialah Rita Rosalina Ibu dari Elena Rosalina, yang sekarang menjadi Nyonya di rumah megah itu.
Tak ada seorang pun yang tau sebelum Bu Rita menikah dengan suaminya, dia sudah pernah melahirkan seorang putri cantik yang terpakasa ia titipkan di sebuah panti asuhan.
Hubungannya dengan seseorang yang ia cintai tidak direstui oleh kedua orang tuanya, akhirnya dia menutup aibnya dengan melahirkan putrinya di sebuah klinik, dan akhirnya dia tidak punya pilihan lain selain menitipkan putrinya di sebuah panti asuhan. Sedang kekasihnya entah menghilang begitu saja setelah menemaninya melahirkan.
Saaat itu hidupnya benar-benar sangat kacau, dia sudah di usir dari keluarga besarnya karena sudah hamil diluar nikah, kedua orang tuanya memintanya untuk menggugurkan kandungannya. Tapi Rita tetap mempertahankan bayinya sampai ia melahirkannya.
Akhirnya Rita pun kembali kerumah orang tuanya, dia mengatakan pada kedua orang tuanya bahwa anak yang di kandungnya sudah ia gugurkan, akhirnya orang tuanya pun menerima Rita, dan segera menjodohkannya dengan pengusaha kaya raya, dia lah Damian Mahendra adik tiri Erlangga Mahendra Ayah dari Evan Mahendra.
"Kenapa kamu sangat lambat sekali!" Ucap Damian pada istrinya.
"Maafkan saya mas, saya baru selesai mandi." Ucap Bu Rita pada suaminya.
Rita menikah dengan Damian karena perjodohan kedua orang tuanya, sedang Damian sendiri sebenarnya sudah menyukai seorang Rita Rosalina sudah sejak dulu. Pada saat itu Damian sangat bahagia bisa menikah dengan seseorang yang ia sukai, walaupun Rita tidak menyukainya.
Sepanjang berumah tangga Damian tidak memperlakukan Rita dengan baik, bahkan dia kerap menyiksa Rita dengan tangan kotornya, Damian sangat kesal pada Rita setelah mengetahui bahwa Rita sudah tidak perawan saat malam pertamanya waktu itu.
Damian merasa harga dirinya sudah di permalukan, dia pun tak terima cintanya di hancurkan begitu saja, rasa kecewa, benci dan cinta menjadi satu. Bahkan dia tak sedikit pun menjamah istrinya sejak setelah malam pertama itu terjadi dan disaat itulah dia baru mengetahui Rita sudah tidak perawan.
"Kamu bilang mandi, berapa jam kamu mandi hah!" Ucap damian kesal.
"Maafkan saya." Ucap Bu Rita sambil menundukan wajahnya.
__ADS_1
"Besok persiapkan semuanya, saya akan mengajakmu kesuatu tempat!" Ucap Damian sambil berlalu dari hadapan istrinya.
Sebenarnya Damian sampai saat ini masih mencintai Rita, tapi rasa benci setelah tahu Rita sudah tidak perawan lagi saat menikah dengannya, membuat api kebencian itu harus berperang dengan rasa cintanya.
**
Pagi harinya Evan sudah datang ke kantornya seperti biasa dia di sambut semua karyawannya, disana ada juga Elena yang berada di barisan paling depan, tidak seperti biasanya hari ini Bu Maya tidak bisa masuk kantor karena sedang sakit, biasanya Bu Mayalah yang selalu di barisan paling depan.
Evan pun dari jauh sudah melihat keberadaan Elena entah mengapa hatinya sungguh bahagia, akhirnya dia sampai di barisan dimana Elena berada Evan pun sempat berhenti sejenak, dan kemudian langsung berjalan kembali melewati barisan yang lainnya.
Penyambutan untuk sang CEO pun sudah selesai, semua karyawan akhirnya kembali ketempat mereka masing-masing tidak terkecuali dengan Elena.
Elena akhirnya segera masuk keruangannya disana dia disambut dengan senyuman manis milik Evan di tempat duduknya.
"Pagi Pak." Sapa Elena pada Evan.
"Pagi."Jawab Evan datar, disana Elena sedikit heran kenapa sikap Evan berubah padahal baru saja dia tersenyum manis pada dirinya.
Tiba-tiba datanglah Mario keruangan bosnya dengan membawa setumpuk berkas yang akan ia serahkan pada Elena.
"El tolong revisi dulu sebelum di tanda tangani Pak Evan!" Ucap Mario yang langsung mendekati meja kerja bosnya.
"Pak apakah berkas yang kemarin sudah selesai di tanda tangani?" Tanya Mario pada bosnya.
"Semua sudah saya tanda tangani dan sudah saya serahkan pada Elena." Elena pun langsung melihat ke arah bosnya setelah namanya di sebut.
"Ini Pak sudah selesai semua, baru saja saya akan membawanya ke Pak Mario." dengan segera Elena membawa setumpuk berkas itu pada Mario.
Evan pun masih nampak menyibukan dirinya di meja kerjanya, semua itu membuat hati Elena tiba-tiba merasa sedih, kenapa hari ini Pak Evan banyak diam tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Kalua begitu saya permisi dulu Pak!" Ucap Mario yang segera beranjak dari tempat duduknya dan akan segera pergi dari ruangan itu.
"Mario tolong cek pesan dari saya!" Ucap Evan yang segera meletakan ponselnya di meja kerjanya.
"Baik Pak, kebetulan ponsel saya ada di meja kerja saya." Ucap Mario yang langsung bergegas pergi dari ruangan itu.
Elena yang duduk di kursi kerjanya mulai merasa tidak tahan, dia merasa Pak Evan sudah mendiamkannya begitu saja tanpa mau memberi tahu apa pun, dia pun akhirnya memberanikan diri mendekati Evan.
"Pak apa saya ada salah sama Bapak?" Tanya Elena yang tak sabar ingin mengetahui jawaban dari Evan.
Disana Evan masih terdiam, sebenarnya dalam hati dia ingin tertawa mendengarkan pertanyaan dari Elena, dia ingin mencoba seberapa pedulinya Elena pada dirinya.
"Pak kenapa Bapak diam saja, jawab Pak apa saya ada salah?" Evan pun sudah tidak tahan dengan siakap Elena yang menurutnya semakin sangat menggemaskan.
Akhirnya Evan bagun dari tempat duduknya dan mulai mendekati Elena disana, dengan segera dia langsung memeluk Elena karena dia sudah tidak tahan mendiamkan Elena dari semenjak Elena masuk tadi.
"Maafkan saya Elena, saya hanya ingin menguji seberapa kamu peduli terhadap saya kalau saya diamkan kamu seperti tadi." Ucap Evan yang masih memeluk Elena disana.
"Bapak jahat!" Elena pun segera melepaskan pelukannya dari dekapan Evan, dia sungguh sangat kesal dengan sikap bosnya yang sangat jail. Padahal dia sudah ketakutan setengah mati dia takut melakukan kesalahan.
Elena pun segera kembali ketempat duduknya dengan wajah kesalnya dia segera duduk di kursi kerjanya, sedang Evan disana malah semakin gemas melihatnya.
"Sayang kenapa, kamu marah?" Tanya Evan sambil mendekati Elena, disana Elena pun terperangah saat Evan memanggilnya sayang.
Perasaannya sudah campur aduk antara kesal dan juga senang, setelah tiba-tiba dia mendengar Evan memanggilnya sayang.
"Bapak panggil saya apa tadi?" Tanya Elena yang ingin sekali mendengarnya.
"Sayang." Ucap Evan dengan wajah tampannya yang tersenyum manis di hadapan Elena.
__ADS_1
Bersambung.....
Hari ini dua bab ya....terimakasih readers semoga suka dengan cerita kali ini,tinggalkan jejak kalian ya kalau kalian suka dengan cerita Author dengan cara like,komen serta votenya.dukungan kalian sangat berarti untuk Author terimakasih....