
Malam itu, Tania sudah sampai di sebuah apartemen milik mantan kekasihnya, dengan segera dia berjalan dan mulai masuk ke apartemen itu, sebenarnya sudah sedari tadi Anton menunggunya. Hatinya benar-benar bahagia dengan kedatangan Tania. Anton memang sangat mencintai Tania, sampai detik ini walaupun Tania sudah memutuskan hubungan mereka.
Akhirnya Tania sampai di sebuah pintu apartemen milik Anton, dia segera memencet bel disana, tidak butuh waktu lama akhirnya pintu itu pun terbuka dengan Anton yang berdiri disana, dia memberikan senyuman atas kedatangan Tania.
"Hai, kamu sudah datang, masuklah!" Tania segera masuk kedalam apartemen milik Anton, tanpa di persilahkan duduk dia sudah duduk dengan sedirinya.
"Bagaimana kabarmu, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Anton pada Tania.
"Aku sedang tidak baik-baik saja, aku baru saja kabur dari Rumah sakit."
"Apa!, kamu kabur!, Kenapa!" Anton masih belum percaya atas ucapan Tania, tapi tiba-tiba dia melihat di lengan jaket milik Tania yang dia pakai disana terlihat sedikit terbuka dia melihat pergelangan Tania yang masih ada lilitan perban.
"Tanganmu kenapa, apa ini sakit, apa kamu mencoba bunuh diri!" Tania disana segera membuka jaket yang ia kenakan dengan sedikit menahan sakit di pergelangan tangannya dia masih mencoba membukanya.
"Aku bantu." Disana Anton segera membantu melepaskan jaket Tania.
"Ya aku memang sudah bodoh dengan melukai tanganku sendiri, kamu tahu kenapa aku melakukan ini semua, karena Papaku ternyata sudah menemukan putri kandungnya, dan aku, aku sebentar lagi pasti akan dibuang dari kehidupannya."
"Kalau begitu kamu jangan bersedih, kamu bisa tinggal disini sampai kapan pun kamu mau!" Ucap Anton yang merasa punya celah dari persoalan yang sedang di hadapi Tania.
"Makasih banyak ya kamu memang temanku yang baik."
"Apakah hanya sekedar teman, apa kamu tidak mau membuka hatimu lagi untukku!" Tanya Anton pada Tania.
"Apaan sih, kita sudah jadi mantan bukan?"
Disana Anton tersenyum kecewa, dia tau sejak dulu Tania mencintai Evan. Mereka bertiga dulunya sama-sama berteman, Evan dan Tania menggeluti bisnis sedang Anton sekarang menjadi seorang Dokter.
Sebenarnya Anton tahu kalau dirinya hanya sebagai pelampiasan Tania, tapi bukan Anton namanya kalau tidak punya cara untuk bisa memiliki Tania seutuhnya. Bahkan Anton sudah memikirkan sebuah cara.
**
__ADS_1
Pagi ini Elena sudah di perbolehkan pulang oleh seorang Dokter, karena keadaannya yang sudah sangat baik akhirnya Elena bisa pulang.
Disana baik Evan dan Pak Renaldy masih sibuk mengurus kepulangan Elena, disana Elena mulai bingung apakah dia harus ikut Papanya atau akan masih tinggal di apartemen yang Evan berikan.
"Kamu kenapa sayang, apa ada masalah!" tanya Evan yang sedari tadi memperhatikan Elena.
"Iya Mas, saya bingung, Papa menawarkan agar saya tinggal bersamanya, terus apa saya harus menerimanya langsung setelah sekian lama saya tidak bertemu dan sekarang langsung diajak untuk tinggal disana, menurut kamu bagaimana mas?"
"Itu terserah kamu sayang, kalau kamu belum siap kamu bisa tinggal di apartemen dulu, nanti kalau kamu sudah siap kamu bisa langsung pindah ke rumah Pak Renaldy.
Tiba-tiba Pak Renaldy sudah masuk keruangan itu, dengan wajahnya yang benar-benar sangat bahagia, dia ingin segera membawa putrinya untuk bisa tinggal bersama.
"Nak apa kamu sudah siap, kita bisa langsung mengemasi barang-barang dan segera pulang."
"Sudah semua Pa, tapi Pa, untuk sementara ini aku belum bisa tinggal sama Papa, aku masih butuh waktu Pa, tapi aku akan langsung bertemu dengan Nenek setelah pulang dari Rumah sakit ini."
Mendengar ucapan putrinya Pak Renaldy sedikit kecewa, mungkin putrinya belum siap dengan semua ini, dia mencoba memahami keinginan putrinya.
"Baiklah Nak, Papa harap kamu segera mau tinggal sama Papa."
Sementara itu Evan masih memperhatikan pembicaraan antara anak dan Ayahnya, dia malah kembali teringat dengan mendiang Ayahnya. Mungkin kalau Ayahnya masih ada saat ini dia masih punya orang tua lengkap.
"Oya Pak Evan, saya ucapkan banyak terimakasih selama ini Pak Evan sudah menjaga putri saya dengan baik, oya untuk masalah kerja sama kita, saya akan lebih memperluas lagi bisnis kita bagaimana?"
Evan yang mendengarnya sedikit kaget bahkan dia tidak menyangka, kalau Pak Renaldy pemilik perusahaan terbesar itu sangat percaya dengan perusahaannya.
"Benarkah itu Pak, saya sungguh senang mendengarnya."
"Benar, ini sebagai rasa terimakasih saya pada Pak Evan, karena Pak Evan sudah memberikan apartemen untuk putri saya."
"Tapi Pak, saya tulus memberikan apartemen saya untuk Elena."
__ADS_1
"Saya Tahu, bahkan kalau memang kalian ingin melanjutkan hubungan kalian untuk segera menikah pun saya akan merestui kalian, saya tidak ingin peristiwa saya terulang pada putri saya."
Disana Evan dan Elena saling pandang, Evan sungguh bahagia mendengar ucapan calon mertuanya yang telah memberi restu untuk mereka.
"Apakah Bapak merestui hubungan saya dengan Elena?"
"Tentu saja, saya lihat Pak Evan orangnya baik, dan juga tentunya seorang CEO yang berkemampuan hebat memimpin perusahaan, tentunya putri saya nantinya akan hidup bahagia bersama Pak Evan."
Evan segera menoleh ke arah Elena, disana Elena juga menatap kearahnya. Mereka berdua akhirnya sama-sama tersenyum bersama. "Apa ini nyata, ataukah hanya mimpi" Evan tidak bisa membendung lagi kebahagiannya, Pak Renaldy sudah memberi restu, mungkin sebentar lagi Ibunya juga akan merestuinya.
**
Siang itu di sebuah kafe seorang Damian sedang duduk termenung disana, setelah semalaman dia tidak pulang, dia masih sangat marah atas apa yang telah Rita perbuat, disana seorang waitress sedang memperhatikan Damian dari jauh.
Setelah lama memperhatikan akhirnya dia segera mendekati Damian, dia berjalan dan mulai mendekat ke arah Damian berada, sedang Damian yang melihat ada seorang pelayan yang menghampirinya dia pun segera menoleh kearahnya.
"Bela!"
"Damian, apa kamu masih mengingat saya!"
"Tentu saja saya mengingatmu!" Disana Bela sungguh lekat melihat ke arah Damian, dia masih ingat bagaimana Damian pada waktu itu mabuk berat dan Damian juga yang sudah merenggut kesuciannya hingga dia mengandung anak Damian.
"Sudah lama sepertinya kamu baru kesini, bagimana kabar Rita!"
"Kamu mengenal Rita!"
"Tentu saja saat kamu mabuk kamu selalu menyebut nama Rita disana."
"Benarkah, apakah dulu saya pernah melakukan sesuatu padamu!" Disana Bela terdiam, rasa hancur yang dulu dia alami kini teringat kembali, dia sebenarnya sangat mencintai Damian tapi mana mungkin seorang Damian mencintainya. Hingga peristiwa dua puluh lima tahun yang lalu terjadi. Dia hamil anak Damian tapi Damian tidak mengetahuinya.
"Kenapa kamu diam!"
__ADS_1
"Tidak, tidak terjadi apa-apa antar aku dan kamu malam itu." Bela dengan sengaja menutupi apa yang telah terjadi pada dirinya.
Bersambung.....