Gadis Miskin Kesayangan CEO

Gadis Miskin Kesayangan CEO
Bab 55 #Penyesalan dan kebahagiaan


__ADS_3

Dirumah megah itu Pak Renaldy sudah tak bisa mengendalikan emosinya, disana dia benar-benar sangat kacau ruangannya pun sangat berantakan dengan benda-benda yang sudah ia lempar begitu saja.


Ibu Anita tak tega melihat putranya begitu frustasi, dia pun mencoba mendekati Renaldy dengan kursi rodanya.


"Ren hentikan!, mau sampai kapan kamu menyalahkan diri sendiri, biarkan Rita hidup bahagia!" Mendengar ucapan Ibunya Pak Renaldy langsung menoleh ke arah Ibunya berada.


Dia tak habis pikir kenapa Rita benar-benar tega melakukan ini semua, bahkan anaknya saja dia titipkan di panti asuhan.


"Ibu, lihat!, aku disini bahagia dengan harta yang aku punya, sedang putriku di sana di titipkan di panti asuhan, apa Ibu bisa merasakan bagaimana sakitnya hati Renaldy!"


"Ibu tau, Ren. Tapi kita tidak tau bagaimana sampai Rita meninggalkan bayinya, mungkin dia sudah tidak ada pilihan lain. Sedang kamu juga pergi meninggalkan dirinya!.


Deeeeg....


Kata-kata Ibunya benar-benar sudah menamparnya begitu keras, kenapa sampai dia tidak memikirkan sejauh itu, "Mungkin Rita juga bingung bagaimana menghidupi putriku, sedang dirinya saja di usir dari rumah orang tuanya gara-gara perbuatanku.


Akhirnya Pak Renaldy pun mulai sadar, emosinya berlahan mulai bisa terkontrol, dia mulai menyadari kesalahannya. Dengan nafas terengah dia akhirnya menjatuhkan tubuhnya diatas lantai, tubuhnya benar-benar sangat lunglai tak berdaya, hatinya terkoyak, air matanya pun mulai mengalir disana.


Ibu Anita akhirnya mendekati putranya, disana Renaldy pun merebahkan kepalanya di pangkuan Ibunya, dia menangis meraung seperti anak kecil dalam pangkuan Ibunya.


Bu Anita benar-benar ikut terhanyut dalam penderitaan putranya, dia ikut menitikan air mata sembari mengelus lembut kepala sang putra


"Nak maaf kan kesalahan mendiang Ayahmu, karena dulu kami tidak bisa menerima Rita sebagai pasangan mu, waktu itu kita hanya memikirkan bahwa keluarga Rita tidak sepadan dengan keluarga kita." Dengan derai air mata yang semakin deras Bu Anita benar-benar menyesalinya.


"Seandainya dulu kamu tetap bersama Rita mungkin hidupmu sekarang tak akan seperti ini, kamu punya anak dan istri". Dengan suara yang terasa tercekik Ibu Anita menyesali yang ia dan suaminya lakukan.


Mendengar ucapan Ibunya, Pak Renaldy mulai terdiam dari tangisannya, dia mulai menatap wajah Ibunya yang kini kulit wajahnya sudah mulai keriput karena penyakit yang Ibunya derita. disana rasa penyesalnnya mungkin tak berarti dengan pengorbanan kedua orang tuanya menjadikannya dia bisa seperti sekarang ini.


"Maaf kan Renaldy Bu, Kalian tidak salah, mungkin takdir antara aku dan Rita harus berpisah. Tapi aku akan berjuang mencari putriku, aku akan tebus semua kesalahan yang pernah aku torehkan padanya, putriku layak bahagia!" Ucap Pak Renaldy penuh dengan keharuan.

__ADS_1


"Lakukan Ren, Ibumu ini akan selalu berada belakangmu. Cari cucuku sampai ketemu, bawa dia kemari!"


Pak Renaldy pun bergegas bangkit dari duduknya, dia pun berasa punya nyawa kembali mendengar ucapan dari orang yang sudah melahirkannya, dia pun berdiri dan segera mengambil ponselya utuk menghubungi asistennya.


"Halo Pak!"


"Ya Halo, saya ingin kerahkan semua orang-orang yang aku punya cari setiap panti asuhan yang ada, aku ingin putriku segera ditemukan!" ucap Pak Renaldy dengan semangat yang membara.


"Baik Pak, siap laksanakan!" Asisten Pak Renaldy segera menelepon orang-orang kepercayaannya dia segera bertindak sesuai perintah bosnya.


**


Evan akhirnya mengantarkan Elena pulang ke apartemen, sesampainya disana Evan tak langsung pulang. Dia ikut masuk ke apartemen dengan membawakan box milik Elena.


"El lebih baik box ini kamu simpan dulu sampai kamu benar-benar sudah siap membukanya." Ucap Evan sambil meletakan box itu di atas meja.


"Benar Mas, bahkan sebenarnya saya sudah tidak mau membukanya lagi, hidup saya sudah seperti hidup sendiri, tidak ada orang tua yang menginginkan saya!" Evan pun mendekati Elena.


Elena dan Evan akhirnya bertukar pandang, Elena bisa sedikit melupakan kesedihannya setelah Evan menawarinya untuk masak.


"Kalau begitu sekarang saja mas, saya masak, mas tunggu dulu disini nanti kita makan bersama ya?" Elena sudah mulai kembali ceria.


"Baiklah, Apa yang bisa saya bantu, mungkin kamu butuh bantuan?"


"Mas lebih baik duduk disini, tunggu sampai saya selesai masak." Elena pun mendorong tubuh Evan agar segera duduk di meja pantry kecil yang berada di dekat dapur.


Mereka pun tertawa bersama seolah melupakan sejenak kesedihan yang Elena rasakan, bahkan dengan keusilannya kini Elena malah berada dalam dekapan Evan.


Deru nafas mereka saling bertautan, Elena mulai kehilangan nafas saat Evan tiba-tiba bergelayut manja di lehernya, Evan sungguh sangat suka berada disana mengendus aroma tubuh Elena dengan rakus, menyecap menyusuri leher nan mulus milik Elena.

__ADS_1


Tangannya juga tak luput dari aksinya, Evan mulai menelusup, meraba menuju arah punggung Elena. Disana dia mencoba melepas sesuatu.


Setelah terlepas, dengan cepat tangannya pun bergerilya menyusuri setiap inci yang ada di tubuh Elena. Hingga sampai dia di dua gundukan besar milik Elena, Elena merasakan sentuhan yang Evan berikan, hal itu membuatnya merinding. Dan jantungnya mulai berdetak tak beraturan.


Dengan bibir yang masih bertautan, darah Evan mulai memanas, hingga membawa tangan Evan mulai memegang sesuatu disana dia mulai meremas satu gundukan besar itu, disana Elena menggelinjangkan tubuhnya saat Evan mulai melakukan aksinya.


"Mas aaagh!"


Deru nafas Evan semakin tak bisa di kendalikan, setelah mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Elena, Dia melakukannya tanpa jeda, bahkan sang junior susah terkendali.


Ruangan yang tadinya dingin berubah menjadi terasa panas dengan ulah dua sejoli yang memadu kasih, bahkan kini tubuh Elena sudah berada di bawah tubuh Evan, dengan kesadaran penuh akhirnya Evan menghentikan aksinya, walau pun rasanya dia enggan menyudahinya. Tapi dia masih sadar sepenuhnya.


Mereka sama-sama terdiam, mereka masih mengatur nafas masing-masing. Evan pun akhirnya duduk disamping Elena.


"Maaf kan saya yang tidak bisa tahan bila berdekatan dengan mu El." Ucap Evan yang berusaha memposisikan tubuh Elena untuk bisa duduk bersamanya.


Mereka akhirnya sama-sama duduk, Elena masih sibuk merapikan bajunya. Bahkan dia belum bisa berkata apa-apa.


"El...Desahanmu benar-benar membuatku bergairah." Ucap Evan Sambil berbisik di telinga Elena.


Disana Elena tercengang dengan bisikan Evan, dia sungguh malu di buatnya, dia tidak bisa menahan suaranya saat Evan mencubunya. Wajahnya saja sampai memerah bahkan tidak berani menatap Evan.


Disana akhirnya Evan meraih ponselnya dia segera memesan makanan siap saji yang ada di online langgannanya, setelah apa yang dia lakukan dia tidak tega membiarkan Elena memasak.


"Kamu tidak usah masak, saya sudah pesankan makanan untuk kita makan." Ucap Evan.


"Kalau begitu saya bersih-bersih dulu ya Mas." Elena pun segera berlari begitu saja meninggalkan Evan di sofa itu.


Evan pun hanya tersenyum melihat Elena yang berlari menjauhinya "El...aku sudah tidak sabar ingin memilikimu seutuhnya". Gumam Evan.

__ADS_1


Bersambung....


KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI TINGGALKAN JEJAK KALIAN YA...DENGAN CARA LIKE, KOMEN SERTA VOTE NYA TERIMAKASIH READERS......


__ADS_2