Gadis Miskin Kesayangan CEO

Gadis Miskin Kesayangan CEO
Bab 63 #Melewati masa kritis


__ADS_3

Pak Renaldy dan juga Roy akhirnya sampai di rumah Tania, disana seorang security langsung membukakan pintu untuk bos besarnya.


"Selamat malam Pak!"


"Malam, apa Tania ada dirumah?"


"Ada Pak, dari tadi sore Bu Tania sudah ada di rumah."


Akhirnya Pak Renaldy dan juga Roy turun dari mobil yang mereka naiki dan dengan segera mereka menuju ke pintu depan rumah Tania, disana Pak Renaldy langsung memencet bel yang ada di dekat pintu itu.


Tidak berapa lama, asisten rumah tangga Tania akhirnya membukakan pintu.


"Selamat malam Pak, tumben Bapak malam-malam seperti ini datang kerumah Non Tania."


"Iya Bi, saya ada keperluan dengan Tania, apa Tania ada di kamarnya?"


"Ada Pak, apa mau saya panggilkan?"


"Ya, tolong Bi panggilkan Tania, suruh dia keruang tamu!".


"Baik Pak!" dengan segera asisten rumah tangga Tania langsung berjalan dan pergi kelantai atas untuk membangunkan Tania.


Tok...tok...tok... Sekali dua kali tak ada jawaban dari Tania.


Sedang Tania yang berada di dalam kamarnya lama-lama merasa terganggu dengan suara ketukan pintu yang berulang-ulang.


"Apa-apaan si Bibi ini, apa dia mau aku pecat!, mengganggu tidurku saja!" dengan mata yang masih mengantuk akhirnya Tania meraih ponselnya yang berada di atas nakas dia melihat jam disana masih menunjukan jam tiga pagi, dia benar-benar sangat kesal tidurnya yang nyenyak di ganggu oleh suara ketukan pintu.


Dengan malas Tania segera beranjak dari tempat tidurnya, dia pun segera berjalan menuju ke pintu di kamarnya.


"Ya, jangan berisik!" asisten rumah tangganya yang mendengar suara Tania dari dalam langsung menghentikan ketukannya. Akhirnya pintu itu terbuka dengan Tania yang berdiri di pintu itu dengan wajah yang sangat marah.


"Apaan si Bi, mengganggu orang tidur saja!, Apa Bibi mau saya pecat!" Dengan suara yang sangat keras Tania memarahi asistennya.


"Maaf Non, saya jangan di pecat, saya hanya mendapat tugas dari Papa Non Tania. Non Tania disuruh turun kebawah!" Mendengar penjelasan asistennya, Tania langsung terperanjat, "Ada apa Papa datang jam tiga pagi kesini!" Tania mulai bertanya-tanya.

__ADS_1


Akhirnya Tania bergegas mencuci mukanya, dan langsung turun dari kamarnya. Disana Pak Renaldy sudah melihat anak angkatnya sedang berjalan menuruni tangga dengan menatap wajah Pak Renaldy yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Papa!! tumben Papa kesini, ini baru jam tiga pagi Pa!" setelah Tania sampai di bawah dan sudah berdiri di depannya Papanya, Pak Renaldy segera menyuruhnya untuk duduk.


"Tania duduk!" mendengar jawaban dari Papanya yang tidak ramah seperti biasanya Tania menjadi heran.


Akhirnya Tania duduk di sofa di depan Papa angkatnya, dia melihat tatapan Papanya sungguh sangat tajam, wajahnya juga sungguh memerah, "Sepertinya Papa ada masalah" pikir Tania.


"Ada apa sebenarnya Pa?"


Disana Pak Renaldy langsung berdiri mendekati Tania, tanpa Tania ketahui tiba-tiba tangan Pak Renaldy sudah mendarat di pipi mulusnya.


Plaaaakkkk.....


"Papa!! Sambil memegang pipinya yang tiba-tiba ditampar Papanya membuat Tania tersulut emosi.


"Apa Maksud Papa!!, datang-datang langsung menampar Tania, Tania salah apa!" ucapan Tania mulai tak terkendali dengan apa yang Papanya lakukan, semua itu memancing emosi Tania yang sudah susah terkontrol.


"Apa pernah Papa mengajarimu menjadi orang jahat!"


"Apa motif kamu menculik Elena hah!"


Deeeeeg....."Ternyata benar jadi Papa sudah tau apa yang aku lakukan" gumam Tania.


"Papa tidak usah ikut campur dengan urusan Tania, Tania sudah besar Pa, biar Tania menyelesaikan masalah Tania sendiri!"


"Dengan cara menculik Elena!, kamu tau Elena sekarang sudah di temukan dan sedang dibawa Evan ke Rumah sakit!"


"Apa!!!!!! Jadi....Jadi Evan sudah menemukan Elena?"


"Ya semua sudah terbongkar orang-orang sewaanmu juga sudah diringkus dan sekarang mereka sudah mendekam di penjara, kamu tau kenapa Papa marah sekali padamu!" Pak Renaldy terdiam sebentar dan akhirnya mulai berbicara lagi


"Karena Elena adalah anak kandung Papa!"


Deeeeeeeg......Mendengar penjelasan Papanya Tania seperti tersambar petir "Anak kandung Papa!"

__ADS_1


"Papa jangan bohong, Papa belum pernah menikah, mana mungkin Papa punya anak kandung?, Oooo...Atau mungkin Papa lebih melindungi wanita sialan itu!"


"Tania jaga ucapanmu!!, Elena adalah putri kandung Papa dengan Rita, dialah yang selama ini Papa cari!"


Entah mengapa hati Tania tiba-tiba seperti terhujam tombak yang tiba-tiba menancap menusuk kedalam hatinya, dia sadar dia hanya anak angkat, tapi Elena? "Tidak....Tidak bisa dibiarkan aku akan kehilangan semua yang aku miliki, Elena akan merebut semuanya...Tidak...tidak aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi!'' kini hatinya benar-benar sangat kacau.


"Tania, Papa harap kamu segera menyerahkan diri ke kantor polisi agar hukumanmu ringan Nak, perbuatanmu sudah fatal. Elena pasti akan memaafkanmu nanti!"


"Apa!!! Papa mau aku masuk penjara!" Ooo....jadi setelah ada anak kandung Papa aku akan di buang di penjara begitu!!!"


"Tania, apa yang kamu katan? kamu tetap anak Papa Elena juga sekarang akan jadi adik angkatmu!, Papa hanya ingin kamu segera menyadari kesalahanmu!"


"Tidak!! Tania tidak mau menyerahkan diri!" Tania tidak mau!!" Tania segera berlari menaiki tangga dan segera masuk kedalam kamarnya dan dengan segera penutup pintu dan membanting pintu di kamarnya.


Roy disana hanya mampu menatap kepergian Tania. Tanpa Pak Renaldy ketahui sebenarnya sudah sejak lama Roy menaruh hati padaTania, tapi dia hanya mampu mengaguminya saja tanpa berani mengungkapkannya, karena dia sadar dia hanya seorang asisten mana mungkin bosnya akan menerimanya apa lagi Tania.


"Bagaimana ini Pak, kalau Tania tidak mau Pak Evan pasti akan melaporkannya dan hukumannya malah akan semakin berat!"


"Saya tau Roy, anak itu benar-benar sudah berubah, cintanya pada Pak Evan benar-benar sudah merubah dirinya menjadi seperti ini."


Sebenarnya Pak Renaldy juga kasian melihat Tania, tapi kesalahannya benar-benar tidak bisa di maafkan, dia dengan terang-terangan ingin membunuh Elena pelan-pelan.


"Roy lebih baik kita langsung ke Rumah sakit, saya ingin melihat putri kandungku, semoga dia tidak kenapa-kenapa atas ulah Tania!"


"Baik Pak!"


Dengan segera Pak Renaldy dan Roy keluar dari rumah Tania, mereka akhirnya masuk kedalam mobil dan dengan cepat Roy menjalankan mobilnya dan pergi dari rumah itu, tanpa mereka ketahui di lantai atas Tania mengintip di balik tirai kaca yang berada di kamarnya, disana dia sedang menangis.


Sementara itu Evan yang masih di Rumah sakit bersama Mario sudah mendapat kabar dari Anton Dokter yang sudah menangani Elena. Akhirnya Elena sudah bisa melewati masa kritisnya, sekarang dia sudah di pindahkan di ruang perawatan.


Disana Evan masih setia menunggu Elena, sedang Elena masih tertidur pulas di bet tempat tidurnya, mungkin efek dari obat yang dia minum Elena tertidur dengan sangat pulas. Dokter memang memberinya obat-obatan terbaik sesuai yang Evan minta.


Duduk di kursi disamping bet tempat tidur Elena, disana Evan selalu menggenggam Erat tangan Elena, dia seakan tidak ingin terpisah lagi dengan Elena.


Bersambung.....

__ADS_1


Mohon dukungannya Readers dengan cara like, komen serta VOTENYA ya...terimakasih.


__ADS_2