Gadis Miskin Kesayangan CEO

Gadis Miskin Kesayangan CEO
Bab 79 #Bertemu dengan Putrinya


__ADS_3

"Siapa yang sudah mengadopsi putri saya Bu?"


"Sebentar ya Pak, harap sabar!" Pengurus panti segera mencari data dari Tania, disana Damian sedikit kesal pada Bela.


"Kenapa kamu tidak datang pada saya waktu itu?, kenapa kamu tidak serahkan saja Tania pada saya!"


"Maafkan saya!"


Disana pengurus panti hanya mendengarkan perdebatan antara Damian dan Bela, dia masih sibuk mencari data-data Tania, tapi dia tidak menemukannya sama sekali.


"Maaf Bapak, Ibu saya belum menemukan data itu, sepertinya saya hanya menyimpan data nama-nama anak panti saja. Tapi nanti saya akan tanyakan pada Ibu saya selaku pemegang yayasan panti ini.


Disana Damian sungguh sangat kecewa, harapannya ingin bertemu dengan putrinya harus menunggu pihak panti dengan tidak ada kepastian yang jelas.


"Lantas kapan kita bisa mendapatkan informasi itu Bu?"


"Saya akan usahakan secepatnya, Bapak bisa meninggalkan nomor telepon disini, nanti kalau saya sudah menemukan informasi saya akan segera menghubungi anda!"


Akhirnya Damian hanya bisa meninggalkan nomor teleponnya disana, dia dan Bela segera meninggalkan panti itu, disepanjang perjalanan Damian masih terdiam, dia memikirkan putrinya yang kemungkinan sudah mendapat orang tua baru, sedang dirinya yang ayah kandungnya saja malah tidak bisa merawatnya.


Tak berapa lama ponsel Damian berbunyi disana dia segera menepikan mobilnya ketepi jalan yang sedikit sepi, disana dia melihat nama asistennya menghubunginya.


"Ya halo Bob!"


"Halo Pak, maaf kalau saya menggangu Bapak, tapi mohon maaf sekali, ada dokumen yang harus Bapak tanda tangani hari ini!"


"Baiklah, saya akan segera kekantor!".


"Baik Pak, terimakasih banyak, Oya tentang surat perceraian Bapak dengan Bu Rita saya sudah meminta pengacara Bapak untuk segera memprosesnya." Disana Damian tiba-tiba terdiam, dia baru tersadar dengan proses perceraiannya dengan Rita.


"Halo Pak!"


"Ya saya masih disini!, Baiklah kamu urus semuanya kalau bisa secepatnya!"


"Baik Pak!"


**


Sementara itu sejak tadi Pak Renaldy sudah meninggalkan kantor milik Evan, sedang diruangan itu hanya tinggal Evan dan Elena. Sedang Elena masih fokus mengerjakan pekerjaannya yang masih menumpuk di depan meja kerjanya.


Disana Evan segera bangkit dari kursi kerjanya, dia mulai berjalan dan mendekati Elena. Elena yang masih sibuk melihat kelayar kerjanya tahu kalau Evan sedang berjalan kearah mejanya dia pun langsung menoleh kearah Evan berada.


"Kenapa Mas, apa Mas perlu sesuatu?"


"Sayang apa kamu tidak merindukan saya?, sejak kamu di Rumah sakit dan Pak Renaldy selalu menunggu disana kamu tidak ada waktu buat saya." Elena yang mendengar ucapan Evan sungguh benar-benar gemas, kekasihnya itu sudah mulai manja rupanya.

__ADS_1


"Kamu cemburu ya sama Papa?" Elena disana tertawa melihat tingkah Evan yang tiba-tiba memeluknya dari kursi belakang kerjanya, disana kepala Evan dia rebahkan di pundak Elena.


"Apa kamu tidak merindukan saya?, Kamu belum menjawab pertanyaan saya!"


"Tentu saja saya juga rindu dengan kekasihku yang tampan ini." Ucap Elena sambil mencubit hidung Evan yang sedari tadi mengendus harum leher putih miliknya.


"Sayang, apa kamu mau menikah dengan saya?" Elena disana terperanjat, dia mulai merinding membayangkan pernikahan.


"Apa kamu sudah yakin?"


"Tentu saja saya sudah yakin 100%, kamu tahu kemarin Ibu datang kerumah, Ibu bilang beliau juga sudah memberikan restu untuk kita."


"Yang benar Mas, jadi Ibu Sindy sudah setuju dengan hubungan kita?, tapi bukan karena saya anak Papa kan?"


"Tidak, sejak awal Ibu sebenarnya tidak mempermasalahkan dengan siapa saya nantinya, asal keluarganya jelas, dia pasti menyetujuinya.


"Semua saya serahkan padamu Mas, kapan pun kamu ingin melamar saya, saya juga sudah siap." Evan benar-bebar terperanjat dengan jawaban Elena, padahal dari kemarin Elena bilang belum siap.


"Kamu seriuuus?"


"Serius!" Disana Evan segera mencium pipi lembut milik Elena. Dia pun segera memutar kursi kerja Elena kearahnya, Evan dengan segera berjongkok disana.


"El saya akan segera melamar mu, apa kamu sudah siap?" Disana nampak malu-malu Elena tersenyum dan hanya menganggu kan kepalanya.


"Kalau itu nanti saja Mas, pasti karyawan Mas Evan banyak yang menaruh hati pada bosnya yang tampan ini, mereka akan patah hati kalau mengetahui semua, apa kamu tidak kasihan?" Disana mereka pun tertawa bersama.


**


Sementara di apartemen milik Anton Tania masih tertidur didalam selimut tebalnya, sudah berhari-hari dia bersembunyi di apartemen milik mantan kekasihnya, entah mengapa perlakuan Anton benar-benar membuatnya kembali jatuh cinta.


Haripun sudah mulai sore tapi dia enggan beranjak dari tempat tidur itu, Anton yang sedang bertugas di Rumah sakit pun belum kembali, dia ingin sekali keluar hanya untuk sekedar jalan-jalan tapi dia takut orang-orang dari Papa angkatnya menemukannya dan segera membawanya kekantor polisi, dia benar-benar sangat takut.


Tapi karena perutnya sungguh sangat lapar, dengan malas Tania segera bangun dari tempat tidurnya, dia pun segera berjalan menuju dapur. tapi disana dia tidak menemukan makanan, bahkan di lemari pendingin milik Anton sudah banyak yang habis. Mungkin Anton lupa mengisinya, dia putuskan ingin segera membeli saja di luar.


Tania segera memakai jaket serta kacamata hitamnya, tidak lupa dia juga memakai masker, dia tidak ingin orang-orang yang mencarinya menemukannya.


Setelah menuruni apartemen, Tania mulai berjalan kesebuah Toko yang ada di dekat apartemen milik Anton, disana dia segera masuk ke Toko itu dan segera mengambil apa yang ingin dia beli. Tapi tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seorang wanita disana, hingga tanpa sengaja kacamatanya sampai terjatuh.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya wanita itu.


"Tidak, maaf saya tidak sengaja, saya sangat buru-buru tadi."


"Tidak apa-apa, ini kacamatamu." Wanita itu segera memberikan kaca mata Tania yang terjatuh.


"Terimakasih!" Disana wanita itu menatap lekat pada kedua mata Tania, sepertinya mata itu tidak asing baginya.

__ADS_1


"Apa kita pernah ketemu, atau?" Disana Tania sungguh terkejut, dia takut wanita itu mata-mata dari suruhan Papanya. Tapi tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mungkin suami wanita itu sepertinya memanggil istrinya.


"Bela, apa kamu sudah mendapatkan apa yang mau kamu beli!" Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Tania, dia segera berjalan kekasir dan segera melakukan pembayaran.


Dari jauh Bela masih menatap kearah Tania, dia seperti mengenal mata itu tapi dimana?, Lamunan Bela segera menghilang setelah Damian menepuk pundaknya.


"Kamu melihat apa, ayo saya antar kamu pulang!"


"Saya baru saja melihat wanita itu, saya seperti mengenal mata itu, tapi dimana?" Sambil menunjuk ke arah Tania yang baru saja berlalu dari hadapannya.


Tiba-tiba pelayan toko itu memanggil Tania sepertinya kartu Tania tertinggal disana, kartu itu tertera nama Tania.


"Maaf Mba Tania, kartu anda tertinggal!" dengan sedikit berlari pelayan itu mengejar dan memanggil-manggil nama Tania. Disana baik Damian dan juga Bela saling pandang "Tania!"


"Bela apa mungkin perempuan itu Tania!" Disana Damian segera mengejar pelayan toko itu.


Disana nampak pelayan toko itu terengah setelah berlari mengejar Tania, nafasnya masih tak beraturan dia mengejar Tania tapi Tania cepat sekali menghilang, Tania memang langsung berlari karena ketakutan setelah ada yang memanggil-manggil namanya, dia mengira dia akan ketahuan oleh mata-mata Papanya. Disana Damian segera mendekati pelayan itu.


"Mbak maaf apa di kartu itu ada nama Tania Putri Damian?".


"Bapak siapa?"


"Saya sedang mencari putri saya."


"Sebentar Pak." Pelayan itu pun segera membaca nama yang tertera di kartu itu.


"Benar Pak, disini tertera nama Tania Putri Damian!"


"Apa!! jadi benar tadi itu Tania putriku! Sini mba biar saya saja yang memberikan kartu itu."


"Tapi apa benar Bapak Ayahnya, maaf bukan saya tidak percaya saya takut memberikan ke orang yang salah!"


"Kamu tidak usah takut, saya akan meninggalkan kartu nama saya di sini kalau kamu takut saya berbohong."


"Baiklah Pak, saya percaya sama Bapak!"


Disana Damian langsung memberikan kartu namanya pada pelayan toko itu, sedang Bela yang sedari tadi hanya melihat Damian dari jauh, dengan rasa penasaran Bela pun akhirnya berjalan mendekati Damian.


"Bagaimana, kenapa kamu lama sekali?"


"Bela kamu lihat kartu ini?, ini ada nama Tania Putri Damian!" Bela benar-benar sangat kaget, jadi benar, tadi dia melihat mata itu seperti tidak asing baginya.


"Jadi apa tadi itu putriku!!!!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2