
Tania dengan terpaksa membawa Elena yang masih sangat lemah untuk segera pergi dari gedung itu, mata-mata yang dia kirim mengatakan kalau Evan sudah tau tempat penyekapan Elena.
"Aku tidak akan semudah itu membiarkan kamu menemukan Elena Van, atas apa yang sudah kamu lakukan terhadapku itu semua sudah sangat menyakitkan." Gumam Tania.
Sementara itu Elena masih terbaring lemah di sebuah lantai, ternyata Tania benar-benar telah membuat Elena semakin sakit parah, obat yang di berikan penculik di gedung tua itu hanya mampu menurunkan panasnya untuk sementara saja, akhirnya panasnya kembali naik.
Tania tidak mempedulikan semuanya, dia malah semakin senang melihat Elena tersiksa, disana Elena hanya bisa menangis. Wajahnya kini semakin pucat dan sangat lemah.
Sementara rombongan Evan dan juga Pak Renaldy akhirnya sudah sampai di tempat yang di tunjukkan kedua penculik itu, tiga orang disana sedang memantau rumah itu.sepertinya rumah itu tanpa penghuni.
"Apa benar ini rumah yang kalian maksud!" tanya Pak Renaldy yang sudah tidak sabar ingin menemukan putrinya.
"Benar Pak saya memindahkan perempuan itu kesini."
"Awas kalau kalian berani membohongi kami, kalian akan tau akibatnya!" ucap Evan yang sudah tidak bisa berfikir jernih.
Ketiga orang itu akhirnya kembali ke mobil itu, dia melaporkan bahwa rumah itu sangatlah sepi. Evan yang mendengarnya langsung memerintahkan untuk segera mendobrak pintu itu.
Disana tujuh orang yang badannya besar-besar akhirnya mendobrak pintu rumah itu dengan seijin Evan, tenaga mereka memang sudah tidak diragukan lagi.
Selang beberapa menit pintu itu akhirnya bisa terbuka dengan keadaan pintu yang sudah porak-poranda, serpihan kayu pintu itu sudah berserakan kemana-mana.
Melihat pintu yang sudah terbuka baik Evan dan Pak Renaldy akhirnya turun dari mobil itu, dan segera masuk untuk melihat keadaan di dalam.
Evan berjalan sangat tergesa-gesa dia segera masuk dan memeriksa semua ruangan yang ada di rumah itu, tapi semuanya kosong, tinggal ada salah satu ruangan di lantai atas yang belum Evan periksa dengan cepat dia berlari menaiki tangga itu menuju ke lantai dua.
Setelah sampai di depan kamar itu ternyata pintunya juga masih terkunci. Dengan tanpa aba-aba Evan segera mendobrak pintu itu sampai berulang-ulang, akhirnya pintu itu bisa terbuka, Evan melihat di bawah lantai ada seorang wanita yang terkulai sangat lemah.
"Elena ..Elena.. Apakah itu kau!" Sayup-sayup Elena mendengar ada seseorang memanggilnya dia memaksa matanya untuk mulai terbuka dia melihat seseorang di hadapannya.
"Mas Evan...?? dengan suara yang sangat lemah Elena berkata.
"Iya ini saya El!" Evan akhirnya meraba tangan dan kaki Elena yang terikat, dengan cepat dia membuka ikatan itu.
"Maafkan saya El...saya sangat lama menemukanmu, siapa yang berani-beraninya menculik kamu!, Akan saya beri pelajaran yang setimpal!"
__ADS_1
Disana Elena hanya mampu menatap wajah kekasihnya, dia hanya mampu tersenyum akhirnya dia sudah di temukan, tapi pandangannya tiba-tiba kabur. Evan yang melihat Elena sangat pucat sekali malah mengutuk dirinya sendiri kenapa dia sangat lambat menemukan Elena, sampai keadaan Elena memburuk seperti ini.
Dengan cepat dia membopong tubuh Elena, dengan langkahnya yang sangat hati-hati dia menuruni tangga satu demi satu, dibawah Pak Renaldy yang melihat Evan membawa Elena langsung berlari ke arah Evan.
"Elena sudah di temukan, bagaimana keadaannya?"
"Dia sangat lemah Pak, kita harus segera membawanya ke Rumah sakit!" Tanpa berfikir panjang Evan segera membawa Elena ke mobilnya Pak Renaldy dia sudah sangat panik melihat keadaan Elena yang semakin melemah.
"Pak Evan tolong selamatkan putri saya, segera bawa ke Rumah sakit, saya masih akan disini untuk mencari tahu siapa sebenarnya penculik putriku!".
"Baik Pak!" dengan cepat Mario mengambil alih untuk mengemudikan mobil milik Pak Renaldy, sedang Pak Renaldy masih berada disana untuk menyelidiki siapa sebenarnya penculik putrinya.
Seperti kesepakatan awal, akhirnya kedua penculik yang di bawa Pak Renaldy mulai di introgasi.
"Sekarang kalian katakan siapa yang sudah menyuruh kalian!" Kata Pak Renaldy yang mulai tersulut emosi setelah melihat keadaan putrinya yang benar-benar tak berdaya.
"Kalau itu kami tidak bisa mengatakannya Pak, itu rahasia diantara kami!" Penculik itu masih berkilah
"Kalau kalian tidak mau ada kekerasan, katakan secepatnya pada saya!"
"Lima ratus juta!" Ucap Pak Renaldy lantang.
Kedua penculik itu sampai tercengang mendengarnya, mereka akhirnya tersenyum bahagia mendengar tawarannya malah ditawar lebih tinggi.
Akhirnya mereka menyepakati, perjanjian itu salah satu dari mereka langsung mau mengatakannya.
"Tapi Bapak jangan ingkar janji kalau saya sudah mengatakannya, Bapak harus menepatinya!" Penculik itu sungguh sangat pintar dia juga tidak mau di kelabuhi Pak Renaldy.
"Kalian meragukan saya!"
"Baiklah, kami hanya ingin kepastian. Kalau begitu saya akan memberi tahu siapa yang menculik putri Bapak, dia adalah Bu Tania."
"Apa!! Tania!!!!! Kalian tidak sedang membohongi saya!"
"Benar Pak semua ini adalah suruhannya Ibu Tania!" Mendengar ucapan kedua penculik itu wajah Pak Renaldy seketika berubah merah menahan sejuta amarah, bisa-bisanya putri angkatnya melakukan hal sekeji ini. Dari kecil dia sudah mendidik Tania dengan baik kenapa dia jadi seperti ini.
__ADS_1
Pak Renaldy sungguh malu, apa yang harus ia katakan pada putri kandungnya, kalau yang menculik dia adalah kakak angkatnya.
Dengan cepat Pak Renaldy meninggalkan kedua penculik itu, dia berpesan pada anak buahnya agar membawa penculik itu untuk segera dibawa kekantor polisi, tapi dia tidak akan melupakan janjinya dia akan mengurus keperluan keluarga kedua penculik itu. Mereka sudah melakukan kesalahan mereka pantas di hukum.
Pak Renaldy mengajak asistennya Roy untuk membawa salah satu mobil dari anggotanya, karena mobil Pak Renaldy sendiri sudah dibawa Evan untuk membawa Elena ke Rumah sakit.
"Maaf Pak apa kita langsung ke rumah Tania!"
"Ya kita langsung ke rumah Tania!"
"Sekarang sudah sangat malam, apa Bapak yakin!"
"Sudah ikuti perintah saya, kalau menunggu besok kita akan kehilangan Tania, pasti dia akan segera kabur kalau tahu Elena sudah di selamatkan."
"Baiklah Pak, kita akan langsung kesana!" Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Roy melaju menuju rumah Tania.
Sementara itu Evan sudah sampai di sebuah Rumah sakit, dengan segera dia membopong tubuh Elena untuk segera meminta bantuan.
"Tolong selamatkan Kekasih saya!" Ucap Evan dengan berteriak, hari memang sudah sangat malam. Di Rumah sakit itu juga kelihatan sepi, akhirnya penjaga disana segera berdatangan setelah Evan berteriak, mereka segera membawa pasien ke ruang pemeriksaan.
Disana seorang Dokter datang menghampiri Evan.
"Evan kenapa kamu disini!"
"Anton!" Anton tolong selamatkan Elena dia sangat butuh bantuan dia sangat lemah. Tolong selamatkan dia!" Dengan memohon Evan meminta Dokter Anton yaitu temannya sendiri untuk segera memberi pertolongan Elena.
"Baiklah kamu tunggu disini aku akan segera memeriksanya!" Dokter Anton yang kebetulan sedang jaga malam pun akhirnya masuk kesebuah ruangan untuk segera memeriksa Elena.
"Badannya sungguh sangat lemah, detak jantungnya juga melemah. Sus segera pasang Infus untuk pasien. Sepertinya dia sangat kekurangan cairan!" Suster itu dengan segera memasangkan infus untuk Elena.
Sementara itu Evan masih di luar ruangan, disana dia ditemani Mario. Evan masih sangat cemas dia hanya mampu mondar-mandir didepan ruang pemeriksaan menanti Dokter keluar untuk menjelaskan hasil pemeriksaan Elena.
Bersambung....
TERIMAKSIH ATAS DUKUNGANNYA READERS....
__ADS_1