
Pak Renaldy pun mengangkat kedua alisnya, dia sudah tau watak putri angkatnya pasti Tania melakukan kesalahan.
"Apa yang kamu lakukan sampai Evan memutus kerja sama kalian!" Tanya Pak Renaldy pada Tania.
"Hanya masalah sepele Pa, Evan menuduhku menyebarkan gosip, kalau dirinya ada main dengan sekretarisnya!" Pak Renaldy tidak langsung begitu percaya pada Tania.
"Sekretaris Evan, Elena Rosalina?" Tania pun terkejut mendengar Papanya mengetahui nama Elena.
"Papa kenal dia?" Ucap Tania yang masih menyelidik.
"Papa kenal baru kemarin, saat Papa bertemu dengan Evan!" Tania pun tambah terkejut.
"Jadi apa Papa melakukan kerja sama dengan perusahaan Evan?" Tania ingin segera mendapat jawaban.
"Benar, Papa menjalin kerjasama dengan perusahaan Evan." Tania tak habis pikir pada Papanya.
"Papa tega ya, Aku saja di putus kerja samanya Papa malah menjalin kerja sama dengan perusahaan Evan!" Disana Tania sangat kecewa sekali pada Pak Renaldy.
"Tania, ini masalah bisnis. Jangan kamu ikut sertakan dalam masalah pribadi. Kamu mengerti!" Tania dengan cepat bangkit dari tempat duduknya.
"Aku kecewa sama Papa, apa tidak sedikit pun Papa melihat perasaan Tania disini?"
"Apa kamu menyukai Evan?" Tanya pak Renaldy menyelidik.
"Ya Pa, Tania sudah lama menyukai Evan dari Tania kuliah Pa, tapi wanita sialan itu telah merebut Evan dari ku!" Pak Renaldy sedikit terkejut.
"Tania sayang, masalah hati jangan kamu campur adukan dengan masalah bisnis, kamu sendiri yang akan hancur!" Ucap Pak Renaldy memberi nasehat.
"Tapi Evan memang tidak melihat sisi baiknya Tania Pa, dia malah memilih wanita murahan itu!''
Entah mengapa hati Pak Renaldy tiba-tiba sakit mendengar ucapan Tania, ucapan itu persis yang mendiang Ayahnya tuduhkan pada Rita dulu.
"Tania jaga ucapanmu!" Jangan suka menghakimi seseorang kalau kita tidak tau siapa sebenarnya orang itu!"
"Papa kenapa si, sepertinya Papa melindungi perempuan itu. Apa jangan-jangan Papa juga suka sama Elena!" Pak Renaldy tak habis pikir kenapa Putri angkatnya berucap demikian.
__ADS_1
"Tania jaga ucapanmu!"
"Lantas kenapa Papa bukan menjaga perasaanku malah Papa sepertinya menjaga hati Elena, benar-benar kalau sampai Papaku saja tertarik padanya Aku tak terima." Pak Renaldy semakin terpancing emosi atas tuduhan yang Tania katakan padanya.
"Dasar wanita murahan!" Ucap Tania sekali lagi, kali ini Pak Renaldy benar-benar tersulut emosi. Tiba-tiba?
Plaaaaaak.....!!
Tanpa sadar Pak Renaldy menampar Tania disana, dia teringat dengan ucapan mendiang Ayahnya yang menuduh Rita adalah wanita murahan.
"Papa tega menamparku demi wanita itu!" Tania tidak terima Pa!" Sambil memegang pipi kirinya yang sakit Tania bergegas pergi meninggalakan Pak Renaldy dengan perasaan yang sangat hancur.
Disana Pak Renaldy baru sadar, dia sudah melakukan kesalahan dengan menampar putri angkatnya.
"Tania, maafkan Papa Nak, Papa khilaf!" Sambil berlari menyusul Tania Pak Renaldy berucap.
Tapi sayangnya mobil Tania sudah pergi dari rumah itu, Pak Renaldy sungguh menyesal melakukan semua itu pada Tania.
Di dalam mobil, Tania masih menangis tersedu-sedu. Dia tidak menyangka Papanya yang sangat menyayanginya sudah berani menamparnya.
"Dasar perempuan sialan!!" Kamu merebut orang-orang yang aku sayangi, tunggu pembalasan apa yang akan aku lakukan!!" Sambil berteriak di dalam mobilnya Tania benar-benar sudah kehilangan akalnya.
"Ada apa denganku!" Sambil mengacak-acak rambut kepalanya sendiri, fikiran Pak Renaldy sudah mulai kacau, dari jauh Bu Anita hanya mampu melihat putranya yang habis bertengkar dengan Putri angkatnya.
***
Pagi harinya Evan sudah datang keperusahaan bersama Mario di belakangnya, Dia melakukan rutinitas seperti biasa, semua karyawannya menyambutnya disana.
Kali ini Evan tak melihat satu persatu karyawannya, bahkan dia tidak melirik sama sekali ke arah Elena, dia tetap berjalan melintasi sebagian karyawannya.
Disana Elena nampak bertanya-tanya kenapa dengan Pak Evan tidak seperti biasanya, sementara itu Bu Maya yang melihat Evan tak melirik ke arah Elena pun hatinya sangat senang.
"Sepertinya Pak Evan sudah bosan dengan Elena, terbukti dia tidak menatap Elena seperti biasanya, apa aku bilang, itu semua tak akan lama, pasti Pak Evan sudah bosan dengan Elena" ucap Bu Maya dalam hati, sambil tersenyum puas.
Semua karyawan pun mulai kembali keruangannya masing-masing, tidak terkecuali Elena. Dia segera masuk keruangannya, dia mendapati Pak Evan yang sudah duduk dan sibuk dengan berkas-berkas di depannya.
__ADS_1
"Pagi Pak Evan." Ucap Elena menyapa.
"Pagi!"Jawab Evan datar tanpa melihat ke arah Elena.
Hati Elena tiba-tiba terasa sakit, kenapa Pak Evan seperti tak peduli dengan dirinya, tapi perasaan itu segera ia tepis, akhirnya dia pun berjalan dan duduk di meja kerjanya.
Disana Evan sebenarnya juga sudah melirik ke arah Elena, tapi dia masih tetap terdiam di mejanya.
Tiba-tiba Mario masuk kedalam ruangan itu.
"Maaf Pak, untuk yang Bapak perintahkan kemarin, saya sudah menyelidikinya." Ucap Mario pada bosnya.
"Baiklah kita bicarakan di Ruanganmu!" Ucap Evan yang segera bangkit dari kursi kebesarannya.
Elena pun semakin tercengang, tidak biasanya Pak Evan bermain rahasia, biasanya dia selalu tau apa yang Evan bicarakan dengan Mario, tapi kali ini?? Elena sungguh pusing dengan pertanyaan di kepalanya.
Sementara itu Evan dan Mario sudah sampai di ruangan Mario.
"Mario segera sampaikan informasi apa yang kamu dapat!" Ucap Evan yang tak sabar.
"Saya sudah menyelidiki Ibu Rita Rosalina sesuai perintah anda Pak."
"Lalu!"
"Ya kami mendatangi rumah beliau, menurut informasi yang kami terima, rumah itu sudah tidak berpenghuni Pak, rumah itu sudah kosong sejak lama. orang-orang sekitar rumah itu mengatakan kalau penghuni rumah itu sudah meninggal, tinggal putri satu-satunya mereka yang masih ada yaitu Bu Rita Rosalina!"
Evan yang mendengarnya sedikit kecewa, harapannya mulai pupus mendengar informasi yang Mario bawa.
"Lanjutkan!" Ucap Evan tak sabar.
"Ya orang sekitar rumah itu bilang, bahwa Bu Rita sudah menikah dengan seorang yang kaya raya, sayangnya orang itu tidak tau siapa nama suami Bu Rita, yang mengetahuinya adalah kakaknya yang dulu menghadiri pernikahan Bu Rita, tapi kakaknya tinggal di luar negeri, kita akan mencari informasi dari orang itu Pak."
Evan nampak berfikir seharusnya informasi yang Mario bawa bisa jadi berita gembira untuk Elena tapi ternyata, informasi itu masih butuh penyelidikan lagi.
Akhirnya Evan pun meninggalkan ruangan Mario, dia segera kembali keruangannya. Dia melihat Elena masih sibuk di layar kerjanya tanpa melihat kedatangannya, sekarang mulai hati Evan yang mulai tiba-tiba sakit karena Elena seperti tak menganggap dirinya ada disana.
__ADS_1
Bersambung....
Terimakasih dukungannya Readers....