
"Apa kamu sudah siap mengetahui siapa sebenarnya Ibu kamu?" tanya Evan penasaran.
"Ya saya sudah siap, mungkin sudah saatnya saya harus tau siapa Ibu kandung saya, walau pun mungkin belum tentu saya menerima dirinya seandainya itu semua sudah terungkap.
"El jangan lupa ada saya yang selalu ada di belakangmu, melindungimu, serta menyayangimu!" Ucap Evan dengan tulus.
Elena pun sungguh senang mendengar ucapan dari kekasihnya, setidaknya kali ini dia tidak sendiri.
Sebelum sampai di panti, Evan sengaja membeli oleh-oleh untuk anak-anak panti. Disana Elena sungguh bahagia melihat Evan benar-benar sangat peduli dengan anak-anak panti.
Setelah semuanya di beli, mereka pun akhirnya melanjutkan perjalanannya lagi menuju panti. Disana hati Elena pun berdebar-debar dengan apa yang nanti akan dia dengar dari Ibu panti.
Akhirnya mobil Evan pun sampai di panti, dia pun berpapasan dengan asisten Pak Renaldy.
"Pak Evan, Bu Elena ada disini juga?" Tanya asisten Pak Renaldy.
"Ya saya mau mengunjungi anak-anak panti, Bapak juga baru dari panti?, Apa sudah biasa kesini?" Tanya Evan.
"Oh saya baru saja mencari seseorang Pak, tapi saya tidak menemukannya di panti ini. Kalau begitu saya permisi dulu Pak, silahkan kalau Bapak mau masuk!" Ucap asisten Pak Renaldy.
Akhirnya Evan dan Elena pun masuk ke panti, mereka pun di sambut anak-anak panti dengan pelukan hangat dari mereka.
Di sana Ibu panti pun sudah menunggu sedari tadi, dia sangat senang melihat kedatangan Elena beserta Evan, melihat kedekatan Evan juga Elena Ibu panti mulai penasaran "Apa mereka ada hubungan?" Ucap Bu panti dalam hati.
Akhirnya mereka pun di persilahkan masuk, disana Bu panti sudah menyiapkan semuanya. Di meja itu ada satu buah box yang isinya belum di ketahui.
"Bu sesuai yang kemarin aku bilang, aku ingin mengetahui siapa sebenarnya aku, dan juga siapa Ibu yang sudah meninggalkan aku di panti asuhan ini?" Ucap Elena dengan suara yang sedikit bergetar menahan amarah dan juga sedihnya.
"Iya sayang, sebenarnya Ibu juga sudah lama menunggu pertanyaan ini dari kamu, dan akhirnya kamu menanyakannya juga. Kamu lihat box ini, box ini adalah peninggalan Ibumu sewaktu meninggalkan kamu disini!" ucap Bu panti sambil memperlihatkan kotak box dia atas meja.
Disana mata Elena sudah mulai berkaca-kaca dia masih berperang dengan batinnya, antara sakit hati, kecewa dan banyak lagi yang memenuhi fikirannya.
__ADS_1
Akhirnya Bu panti pun membuka isi box itu, dia pun mengeluarkan satu persatu isi di dalamnya, bahkan sebenarnya Ibu panti pun baru pertama kali ini membukanya.
Disana nampak ada tiga pasang baju bayi, ada sebuah kotak berukuran kecil yang Bu panti juga tidak tau isinya apa, serta ada satu buah amplop yang mungkin isinya sebuah surat.
"Nah El..Silahkan kamu buka semuanya, kamu yang berhak membukanya!" Disana Evan pun ikut bersedih melihat mata Elena yang sudah mulai berkaca-kaca, akhirnya tangis nya pun tak bisa ia tahan lagi.
Evan disana pun segera merangkul tubuh Elena untuk mencoba menenangkannya, disana Elena menangis dan bertanya-tanya kenapa ia di lahirkan kalau tidak di inginkan, hatinya benar-benar kacau.
Akhirnya Elena pun mendekati box itu, dia meraih tiga pasang baju bayi yang mungkin dulu pernah ia pakai sewaktu bayi, dia pun mencium baju itu dengan tangisannya yang semakin menjadi-jadi.
Evan yang melihatnya pun sungguh tak tega, dia pun ikut menitikan air mata melihat Elena menangis tersedu-sedu.
"El kalau kamu belum siap jangan di teruskan!" Ucap Evan pada Elena, disana Elena pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Bu apa boleh saya bawa pulang saja barang-barang ini, sepertinya aku belum sanggup meneruskannya." Ucap Elena yang masih menangis.
"Boleh sayang, nanti kalau kamu sudah siap bukalah, dan baca isi pesan yang ada di dalam surat itu, itu semua Ibu Rita yang berpesan. Suatu saat kalau putrinya menanyakan tentang dirinya, dia minta untuk menyerahkan ini semua!" Ucap Bu Panti yang sebenarnya juga tidak tega dengan Elena.
Mereka pun tidak bisa lama disana, mengingat Elena tidak bisa menahan kesedihannya, akhirnya Evan segera meminta ijin untuk segera pulang.
"Hati-hati ya sayang, kamu anak yang selalu kuat. Ibu minta jangan kamu terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak, kami selalu ada untukmu." Elena pun berpelukan dengan Ibu panti.
"Terimakasih banyak ya Bu, selama ini kalian sudah menerimaku, menjagaku, dan menyayangiku. Dengan apa aku harus membalas kebaikan kalian?" Ucap Elena yang masih tak bisa menahan derai air matanya.
Disana anak-anak panti pun ikut bersedih melihat Elena yang mereka sayangi menangis tersedu-sedu, mereka pun bergantian memeluk Elena dan Evan disana.
Akhirnya mobil Evan pun berjalan meninggalkan panti itu, di dalam mobil Elena pun masih menangis. Evan pun terus memeluknya untuk menenangkan hati Elena.
"Mas apa saya salah dilahirkan?, Apa salah saya bisa hidup di dunia ini?, Kenapa orang tua saya tega meninggalkan saya di panti asuhan. Mas tau sewaktu di panti saya sering menangis sepanjang malam, saya hanya ingin orang tua saya menjenguk saya di panti, tapi saya tidak mendapatkan itu semua." Ucap Elena dengan menahan emosinya dan dengan derai air mata yang tak henti-hentinya mengalir.
"Sabar sayang, kamu tidak tau sebab apa orang tuamu meninggalkanmu dulu di panti, kamu jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri!" Ucap Evan mencoba menengahi.
__ADS_1
**
Sementara itu sang asisten Pak Renaldy pun sedang menghubungi Pak Renaldy.
"Halo bagaimana hasilnya?" Tanya Pak Renaldy yang sudah tidak sabar mendengar hasil pencarian putrinya.
"Belum ada titik temu Pak, sepertinya Ibu panti sedikit susah untuk kita mintai informasi!"
Ibu panti memang mulai curiga akhir-akhir ini banyak sekali yang mencari-cari informasi tentang Bu Rita, dia pun berusaha menjaga amanah dengan tidak memberikan sembarangan informasi pada orang asing.
"Jadi bagaimana?, Informasi yang kamu cari itu benar atau tidak!" Ucap Pak Renaldy yang mulai kesal.
"Saya yakin sudah benar Pak, informasi yang saya dapat dulu Ibu Rita meninggalkan anaknya di sebuah Panti. Saya akan mencari tau lagi ke panti-panti yang lainnya, mohon Bapak bersabar."
"Baik secepatnya, saya ingin tau keberadaan putri saya!"
Pak Renaldy tidak habis pikir, kenapa Rita tega-teganya meninggalkan putrinya di panti asuhan, buah cinta mereka dia tinggalkan begitu saja.
Pak Renaldy sedikit kecewa dengan Rita, dia memikirkan bagaimana nasib putrinya, padahal dirinya saja hidup bergelimang harta, tapi apakah putrinya hidup bahagia di panti.
Disana Pak Renaldy tidak bisa membendung air matanya, dia menyesal mengapa dulu tidak berterus terang pada orang tuanya kalau dia dan Rita sudah mempunyai anak.
Mungkin orang tuanya akan terpaksa merestui mereka, tapi semua sudah berlalu sekarang tinggal penyesalan yang tak berujung yang dia rasakan.
Setelah menempuh jarak yang lumayan panjang, akhirnya mobil Evan pun sampai di kantornya lagi, disana semua karyawan sudah banyak yang mulai pulang, karena memang jam kantor sudah menunjukan waktunya karyawan pulang.
"Mas terimakasih banyak, Mas sudah mau menemani saya ke panti." Ucap Elena yang sudah bisa mengendalikan tangisannya.
"Kamu bicara apa, tidak ada kata terimakasih untuk kekasihnya sendiri, semua yang saya lakukan itu tulus, sudah jangan bersedih lagi ya. Segera kemasi barang-barangmu yang masih ada di kantor, saya akan mengantarmu pulang!" Ucap Evan dengan membelai lembut rambut Elena.
Bersambung.....
__ADS_1
TERIMAKASIH BANYAK READERS YANG SUDAH MENDUKUNG SAYA SEJAUH INI.