Gadis Miskin Kesayangan CEO

Gadis Miskin Kesayangan CEO
Bab 84 #Bertemu Dengan Putrinya


__ADS_3

"Damian??? Ya aku baru tahu, dulu sebelum aku mengadopsi Tania, nama Tania memang Tania Putri Damian, apa yang mencari Tania itu ayah kandungnya???" Pak Renaldy masih memikirkan orang itu.


"Pak, silahkan nanti anda akan di antar rekan saya untuk menemui putri bapak!" petugas yang berjaga itu sudah memberitahukan pada rekannya yang berjaga di sel dalam untuk mengantar Pak Renaldy masuk.


"Baiklah, terimakasih." Akhirnya disana datanglah seorang anggota polisi yang mau mengantarkan Pak Renaldy untuk bertemu dengan Tania.


"Mari Pak ikut dengan saya!" Akhirnya Pak Renaldy dan juga Roy masuk kedalam sebuah ruangan khusus untuk bertemu dengan tahanan di sel penjara itu.


Penjaga sel itu akhirnya pergi untuk memberi tahukan pada tahanan, bahwa ada orang tuanya menjenguknya.


Disana nampak Tania dengan wajah lusuhnya, dia sedang duduk bersandar di ujung tembok sempit, sungguh nasibnya berbanding terbalik dengan Tania yang sebelumya bergelimang harta, yang biasanya dia tidur di kasur empuk sekarang dia harus berdesak-desakan dengan penghuni sel yang lain dengan beralaskan tikar yang sempit.


"Saudara Tania!" Tania segera menoleh kearah petugas yang memanggilnya disana, dia segera berdiri dan mendekati petugas itu di dalam jeruji besi.


"Saudara Tania, ada yang ingin bertemu dengan anda!"


"Siapa Pak?"


"Ayah anda!" Tania mulai menyeringai wajahnya nampak tidak suka dengan kedatangan Papanya."


"Katakan pada Papa saya, saya tidak mau bertemu!" Tania segera berjalan ke arah tempat duduknya tadi.


Petugas itu sungguh heran dengan kelakuan Tania, bagaimana bisa dia tidak mau menemui Ayahnya, petugas itu segera kembali lagi ke ruangan Pak Renaldy berada.


"Maaf Pak, saudara Tania tidak mau menemui Bapak!" Disana Pak Renaldy nampak terkejut dengan ucapan petugas sel disana.


"Kalau begitu ijinkan saya datang ke sel tempat Tania di penjara Pak!''

__ADS_1


"Baiklah waktunya hanya 15 menit ya Pak, tidak boleh lebih dari itu!"


"Baik Pak, terimakasih banyak, Roy kamu tunggu disini dulu sebentar!"


"Baik Pak!''


Akhirnya Pak Renaldy di antar masuk kedalam lorong sel disana, dia segera berjalan menuju tempat Tania di penjara, langkah kaki Pak Renaldy benar-benar berat, hatinya sebenarnya tidak tega. Tapi mau bagaimana pun Tania harus bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat.


Sesampainya di depan pintu sel, Pak Renaldy melihat Tania yang sungguh berantakan dia seperti bukan Tania yang ia kenal, dengan pakaian tahanan Tania duduk bersandar di tembok sel itu.


"Tania." Dengan pelan Pak Renaldy memanggil putri angkatnya, disana Tania menoleh kearahnya. Melihat kedatangan Papanya dia langsung segera bangkit dari tempat duduknya.


"Papa datang rupanya!, Papa sudah puas memasukkan Tania kedalam penjara!!"


"Tania, semua Papa lakukan demi kebaikanmu!"


"Kebaikanku?, kebaikan mana yang Papa maksud!" Ga ada baiknya Pa. Kalau Papa memang sudah tidak sayang Tania, lebih baik Papa kembalikan aku di panti asuhan!"


"Bohong, kalau Papa sayang sama aku mana mungkin Papa tega memasukkan aku kedalam penjara, harusnya Papa melindungi aku, bukan malah memasukkan aku kedalam penjara ini!, aku tau itu karena Papa sudah menemukan putri kandung Papa kan!".


"Itu semua tidak benar Nak, meskipun kamu tidak menculik Elena mungkin orang lain Papa akan tetap membawamu kejalur hukum, karena kamu salah Nak, kamu salah, kamu harus mempertanggung jawabkan kesalahanmu, hampir saja kamu membuat Elena celaka!" Disana Tania hanya terdiam, amarahnya pada Papa angkatnya sudah berkecamuk di hatinya.


"Papa akan memberikanmu pengacara terbaik, apapun nanti hasilnya Papa harap kamu jangan mengulanginya lagi, Papa sayang sama kamu Tania." Tania tidak menjawab apapun perkataan dari Papanya.


"Kalau begitu Papa pulang dulu ya, jaga dirimu baik-baik. Ingat Papa akan tetap sayang sama anak-anak Papa semua, sampai kapan pun kamu adalah anak Papa." Dengan mengelus lembut rambut kepala Tania lewat sela jeruji besi disana, nampak mata Pak Renaldy mulai berkaca-kaca, sebenarnya hati kecilnya juga tidak tega melihat Tania di penjara.


Akhirnya Pak Renaldy segera berjalan dan mulai menjauh dari tempat sel Tania, disana nampak Tania yang melirik kepergian Papa angkatnya, sebenarnya hati kecilnya sungguh sangat sayang pada Papa angkatnya dialah satu-satunya orang yang Tania punya, dialah yang merawat Tania dari kecil "Pa Tania sayang Papa".

__ADS_1


Tubuh Pak Renaldy sudah tidak terlihatan lagi dari pandangan Tania, disana Tani mulai menangis tersedu-sedu. Tapi mengingat lagi kalau Elena adalah anak kandung Papanya dia mulai kesal kembali.


"Elena sudah merebut Evan dariku, kini Papa juga akan dia rebut, dunia ini benar-benar tidak adil!!" Umpatnya dalam hati.


**


Sementara itu Evan dan juga Elena sedang bertemu dengan klien di sebuah restoran, mereka sengaja memilih tempat itu untuk sekalian makan siang bersama. Disana nampak kedua pihak masih berdiskusi, Elena terlihat begitu semangat dalam mempromosikan perusahaan Evan dia sangat cekatan sampai Evan terpana melihat kepintaran calon istrinya.


"Bagaimana Pak, apa kurang jelas?"


"Sudah jelas sekali Bu, bahkan kami langsung menyetujui kerjasama ini, saya tidak akan meragukan lagi perusahaan anda Pak Evan. Bahkan seorang Pak Renaldy pemilik perusahaan yang paling besar saja menjalin kerja sama dengan anda, apa lagi saya, saya pasti akan mau bekerja sama.


Disana Evan nampak bahagia, di pastikan perusahaannya akan semakin berkembang, keuntungan tersendiri bagi Evan bahwa calon Papa mertuanya, pemilik perusahaan terbesar itu sudah ikut bergabung dan bekerja sama dengan perusahaannya. Sehingga dia dengan mudah mendapatkan klien untuk bekerja sama.


"Pak maaf saya ijin ke toilet sebentar." Ucap Elena pada Evan.


"Silahkan!" Evan tetap profesional di depan kliennya dengan bekerja antara bos dan sekretarisnya.


Akhirnya Elena segera berjalan menuju ke toilet, setelah masuk kedalam toilet disana dia berpapasan dengan seorang wanita, mata mereka saling bertukar pandang. Mereka masih sama-sama terdiam terutama Bu Rita dia tercengang melihat Elena tiba-tiba ada di hadapannya, dia juga melihat sebuah liontin melingkar di leher Elena.


Elena hanya tersenyum disana, dia pun segera berjalan menuju ke toilet yang pintunya sudah terbuka, dia pun segera masuk kedalam toilet itu. Sedang Bu Rita masih berdiri terpaku disana, "Apa yang harus aku katakan pada putriku sungguh aku tidak siap" ucapnya dalam hati.


Tiba-tiba terdengar seseorang wanita memanggil Bu Rita disana, Elena yang sudah selesai buang air kecil langsung keluar dan menoleh ke arah seseorang yang memanggil nama Rita.


"Bu Rita apa anda sudah selesai?" Bu Rita sungguh kaget dengan panggilan pengacaranya disana.


"Eeem...Iya, saya sudah selesai!" Dengan panik Bu Rita segera berjalan menuju ke arah pengacaranya yang berdiri di depannya.

__ADS_1


"Bu Rita?? Elena mulai tercengang disana, Rita nama itu??


Bersambung....


__ADS_2