Gadis Miskin Kesayangan CEO

Gadis Miskin Kesayangan CEO
Bab 66 #Melakukan Tes DNA


__ADS_3

Sementara itu Pak Renaldy yang masih berada di Rumah sakit dan sedang akan melakukan tes DNA di kagetkan dengan sebuah panggilan dari nomor telefon rumah Tania.


"Halo!"


"Halo Pak ini saya Pak, asisten rumah tangga Bu Tania."


"Ya, katakan!"


"Maaf Pak, Bu Tania sedang berteriak-teriak di kamarnya Pak, sudah saya ketok-ketok pintu kamarnya tapi Bu Tania tidak mau membukakan pintunya Pak, saya takut terjadi sesuatu pada Bu Tania!"


"Baiklah, kamu pantau saja dulu kamar Tania, kalau sampai terjadi apa-apa hubungi saya kembali, saya akan menyuruh Roy asisten saya untuk segera melihat keadaan Tania disana!"


"Baik Pak!"


Disana Elena yang berada di samping Pak Renaldy sedikit mendengar pembicaraan antara Pak Renaldy dan seseorang, dia sempat mendengar nama Tania dalam pembicaraan mereka, apa yang dimaksud mereka itu Tania teman Evan?, Elena hanya bergumam di dalam hatinya.


**


Di sebuah Vila milik Damian terlihat semua asistennya sedang sibuk membawakan barang-barang Nyonya besar nya untuk segera dimasukan kedalam mobil, ya Rita dan Damian sudah terlalu lama meninggalkan Rumahnya dan sudah hampir dua pekan mereka berada di vila itu. Hari ini mereka putuskan untuk segera kembali kerumah mereka.


"Apa tidak ada yang tertinggal!" Tanya Damian pada istrinya.


"Sudah semua mas, apa kita langsung akan berangkat?"


"Ya kalau semua sudah masuk ke mobil, kita akan segera berangkat." Kini suara Damian sudah tak sekeras waktu awal-awal mereka masuk ke Vila itu, kini setiap harinya mereka habiskan untuk selalu bersama-sama, hingga kebenciannya kini semakin luntur dengan cintanya yang semakin bertambah setiap harinya.


Akhirnya mobil mereka mulai berjalan dan meninggalkan Vila itu, disepanjang perjalan baik Damian atau pun Rita sama-sama saling berdekatan, mereka sedang menikmati indahnya kebersamaan, bahkan Damian sungguh sangat menyesal setelah bertahun-tahun membiarkan Rita tanpa dia sentuh.

__ADS_1


"Mas apa kita jadi berkonsultasi ke Dokter?" Tanya Rita pada suaminya.


"Jadi nanti sesampainya kita di rumah, saya akan langsung menghubungi Dokter kandungan yang terbaik, kita akan mencobanya saya benar-benar ingin memiliki keturunan denganmu Rita, walaupun mungkin sudah sangat terlambat." Wajah Damian berubah menjadi sedih setelah penyesalan itu datang.


Rita hanya mampu menghela nafas, dia hanya pasrah dengan umurnya yang sekarang apa mungkin dia masih bisa di beri keturunan. Yang jelas saat ini dia hanya ingin berusaha memenuhi keinginan suaminya.


Sementara itu Bu Sindy yang sudah di beri tahu oleh Evan bahwa Elena sudah bertemu dengan Ayah kandungnya, disana hati Bu Sindy sudah mulai luluh, memang sejak pertama Bu Sindy tidak mempermasalahkan dengan siapa Evan menjalin hubungan yang jelas dia jelas asal usulnya.


"Bi mungkin nanti Siang saya akan pergi kerumah sakit, nanti Bibi siapkan semua keperluan yang akan saya bawa ya!" Ucap Bu Sindy pada asisten Rumah tangganya.


"Baik Nyonya!"


Disana Bu Sindy segera masuk kedalam kamarnya, seperti biasa dia selalu akan bercerita pada mendiang suaminya lewat sebuah foto yang selalu dia simpan.


Memasuki kamar Bu Sindy langsung tersenyum melihat kearah foto mendiang suaminya.


"Siang Mas." disana Bu Sindy langsung menghampiri foto mendiang suaminya yang berada di atas nakas, dia tersenyum disana tidak lupa dia mencium foto mendiang suaminya sebelum berbicara.


"Mas tapi aku masih menyimpan ketakutan, ya Damian adik tirimu, aku belum bisa menemukannya. Aku takut dia akan menyakiti keluarga kita terutama Evan, dengan apa yang sudah Damian lakukan padamu, kamu masih meminta aku untuk memaafkannya." Tiba-tiba air mata Bu Sindy mulai berjatuhan kala teringat, bagaimana dulu suaminya meregang nyawa oleh adik tirinya sendiri.


"Sebenarnya aku sangat benci sekali dengan adikmu, dengan tega dia menghilangkan nyawamu, hanya karena harta!, adik tirimu ingin menguasai semua hak yang kamu punya Mas, sambil masih terisak Bu Sindy masih melanjutkan bicaranya.


"Tapi kenapa di saat-saat terakhirmu kamu memintaku untuk tetap memaafkan Damian kenapa mas!!!" Hatimu terbuat dari apa?, Bu Sindy semakin terisak kala rasa bencinya mulai kembali lagi.


Dia tidak tau harus berbuat apa, bahkan suaminya sudah memaafkan Damian, tapi apakah dirinya mampu memaafkan Damian dengan apa yang telah dia lakukan pada mendiang Suaminya.


Sementara itu Pak Renaldy sedang menunggu hasil tes DNA yang dia lakukan bersama Elena, dia mengeluarkan biaya yang tak sedikit agar hasil tes DNA itu bisa keluar lebih cepat.

__ADS_1


Disana Pak Renaldy masih menunggu putrinya yang sedang dirawat, dia bahkan rela tidak datang ke kantornya hanya untuk menemani putrinya.


"Nak apa kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Pak Renaldy yang berusaha ingin mendekatkan dirinya pada putri kandungnya.


"Terimakasih, saya tidak membutuhkan apa-apa." Dengan datar Elena berucap.


Sebenarnya Elena masih ragu untuk percaya begitu saja tentang apa yang terjadi saat ini, bahkan dia juga sebenarnya belum siap kalau harus menerima Pak Renaldy sebagai Ayah kandungnya, sedang dia sudah terbiasa hidup sendiri tanpa mereka.


Disana Evan memang sengaja membiarkan Elena bersama dengan Pak Renaldy, dia berpamitan untuk kembali kekantor dengan alasan karena ada sesuatu hal yang tidak bisa dia tinggalkan.


Tidak berapa lama ruangan itu ada yang mengetuk pintu dari luar, Pak Renaldy segera beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang datang keruangan itu. Setelah membukakan pintu disana terlihat wanita yang sedang berdiri di depan pintu. Baik Pak Renaldy dan juga wanita itu saling berpandangan, mereka mulai mengingat wajah dari masing-masing, sampai akhirnya mereka mulai mengingat wajah itu.


"Renaldy?"


"Sindy!"


Mereka sama-sama kaget setelah sekian lama mereka tak bertemu sekarang mereka di pertemukan di Rumah sakit, "Apa dia ayah Elena" pikir Bu Sindy.


"Kamu mau menjenguk Elena? Atau?"


"Iya Ren aku mau menjenguk Elena, terus apa kamu itu Ayah kandung Elena?"


Disana Elena hanya melihat Pak Renaldy yang sedang berbicara dengan seseorang, Elena sampai memiringkan kepalanya dari bet tempat tidurnya hanya ingin melihat sebenarnya siapa yang datang. "Pak Renaldy sedang berbicara sama siapa sih" Elena penasaran.


"Benar Sin, aku adalah Ayah kandung Elena?, Lantas kamu?"


"Saya Ibu dari Evan?"

__ADS_1


Mereka sama-sama terkejut, mereka tidak menyangka kalau Evan dan Elena adalah anak dari orang tua yang saling bersahabat sejak mereka masih di bangku sekolah, bahkan mereka sempat terpisah kala itu Renaldy tiba-tiba menghilang tanpa kabar.


Bersambung....


__ADS_2