
Evan pun akhirnya masuk ke ruangannya, dan langsung duduk di kursi kerjanya. Disana Elena pun sedikit melirik ke arahnya.
Evan pun bingung bagaimana cara mengajak bicara Elena, mungkin Elena sudah marah duluan dengan cara dia mendiamkannya tadi.
Disana Elena pun berjalan menuju ke arahnya dengan membawa setumpuk berkas yang telah dia revisi untuk segera di tanda tangani oleh Evan.
"Pak ini berkas-berkas yang harus anda tanda tangani!" Ucap Elena pada Evan, dia pun segera berjalan dan ingin kembali kemeja kerjanya.
"Elena, Maaf kan saya!" Ucap Evan, mendengar Evan meminta maaf Elena menghentikan langkahnya dan kembali ke meja Evan.
"Memangnya Bapak punya salah apa?, Kenapa meminta maaf!" Ucap Elena yang sebenarnya sedikit kecewa.
"Saya mendiamkanmu tadi, sebenarnya saya mau memberimu kejutan tentang informasi pencarian Ibumu, tapi semuanya gagal." Elena yang mendengarnya pun langsung terperanjat.
"Ibuku!" Apa Bapak sedang menyelidiki siapa Ibu saya?"
"Benar, tapi sayangnya info yang di berikan Mario belum jelas!"
Elena pun hanya terdiam, di dalam hatinya sebenarnya dia belum mempunyai keinginan untuk mencari keberadaan Ibu yang sudah meninggalkannya di panti asuhan.
"Kenapa kamu terdiam, Apa kamu tidak suka?" Tanya Evan penasaran.
"Sebenarnya saya belum ingin bertemu dengan Ibu saya, entah mengapa saya masih ada rasa kecewa pada orang tua saya, mereka dengan sengaja sudah tega meninggalkan putri yang baru saja dilahirkannya di panti asuhan!"
Tak terasa air mata Elena jatuh begitu saja, dia teringat waktu dirinya masih kecil, dia ingin sekali punya orang tua lengkap. Tapi itu semua hanya mimpi yang mungkin tak akan pernah terjadi.
Evan yang melihat Elena menangis pun segera bangkit dari tempat duduknya, dan dia pun segera berjalan dan memeluk Elena disana.
"Kamu tidak sendiri Elena, saya selalu ada untukmu!" Ucap Evan yang ingin menenangkan hati kekasihnya.
Tapi disaat Evan masih memeluk Elena, tiba-tiba pintu itu pun terbuka, Mario datang dan masuk begitu saja.
Mario Disana kaget, dan sedikit malu melihat adegan sang Bosnya sedang memeluk Elena disana.
"Maaf Pak, kalau begitu saya akan keluar lagi!" Ucap Mario yang sebenarnya sangat malu.
"Mario masuklah!" Ucap Evan yang segera melepas pelukannya dengan Elena, disana pun Elena sangat panik dan sangat malu sekali, adegan pelukannya dengan Evan terlihat oleh Mario.
__ADS_1
"Em...Maaf Pak, Apa saya tidak mengganggu?'' Tanya Mario.
"Tidak, ini tidak seperti yang kamu lihat, Saya hanya menenangkan Elena yang menangis!" ucap Evan santai.
"Elena menangis?, Apa ada masalah?" Tanya Mario yang masih sangat peduli dengan Elena.
Disana Elena masih membersihkan wajahnya yang masih basah dengan tisu di tangannya.
"Saya mengatakan tentang penyelidikan kita, tapi mungkin Elena belum siap jika bertemu dengan Ibunya." Ucap Evan yang masih melihat ke arah Elena.
Mario pun sebenarnya masih menaruh hati pada Elena, melihat Elena menangis saja hatinya sudah sangat ikut tersakiti.
Akhirnya Mario pun berpamitan untuk keluar, setelah kedatangannya tadi membuat Evan dan Elena terkejut.
Setelah kepergian Mario, Elena pun dengan segera mendekati Evan di meja kerjanya.
"Pak, Bagaimana ini?, Pak Mario melihat kita berpelukan!"
"Kamu tidak usah khawatir, Mario tidak akan mengatakan pada siapa pun." Ucap Evan.
"Tapi Pak, Apa Bapak tidak malu?" Ucap Elena yang mulai mendekati Evan.
Elena pun sangat kaget mendengar perkataan Evan, bukankah dia meminta Evan untuk tidak mengatakan kesiapa pun.
"Apa Bapak memberi tahu Pak Mario?"
"Tidak, tapi Mario curiga melihat kedekatan kita, dan akhirnya dia bertanya pada saya."
Elena pun sangat malu sekali, ternyata Pak Mario selama ini sudah mengetahui hubungannya dengan Pak Evan.
**
Sementara itu di Vila milik Damian, sepasang suami istri itu pun sedang bersama di satu selimut yang menutupi mereka, mereka baru saja melakukan aktifitas suami istri.
Entah mengapa akhirnya Damian begitu candu dengan tubuh Rita, walau pun dia harus melawan rasa bencinya, tapi semua itu bisa dia lewati.
Hari demi hari mereka di Vila itu membuat hati Damian lama kelamaan mulai luluh, bahkan dia dengan sendirinya datang ke kamar Rita untuk tidur bersama, padahal sebelum-sebelumnya dia jarang sekali tidur berdua.
__ADS_1
"Apa kamu lelah?" Tanya Damian pada Rita.
"Sedikit Mas, kamu sangat kuat sekali, sampai aku kewalahan." Ucap Rita yang sedikit malu-malu.
Entah mengapa hati Damian benar-benar sangat suka dengan sifat manja Rita, cintanya pada Rita benar-benar sudah semakin bertambah, bahkan dia tidak segan meminta lebih pada Rita kalau sedang berduaan.
Sementara di rumah yang megah, duduklah seorang laki-laki yang sedang memandangi foto Rita bersamanya, "Rita kamu tau sampai sekarang pun aku belum pernah menikah, aku tidak mau menghianati cinta kita Rita, apakah kamu disana sama, atau kamu malah sudah mempunyai keluarga baru?" Ucap Pak Renaldy.
Hatinya benar-benar sakit kala hayalannya melihat Rita sudah mempunyai keluarga dengan orang lain.
"Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan siapa pun memiliki mu Rita!" ucap Pak Renaldy yang semakin mendekatkan foto Rita di hadapannya, dia pun hanya bisa mencium foto Rita dibingai foto miliknya.
"Disana Rita pun sedang mandi berdua bersama Damian, entah mengapa tiba-tiba perasannya mendadak tidak enak, dan entah mengapa hatinya tiba-tiba terasa sakit seperti ada fikiran yang mengganjal.
"Ada apa Rita?, Apa kamu sakit?" Tanya Damian pada Istrinya.
"Tidak Mas, Aku mungkin hanya lelah saja."
"Maaf kan saya yang selalu memintamu lebih."
Ucap Damian yang sedikit malu, entah mengapa setelah memenangkan peperangan melawan kebenciannya pada Rita, dia malah semakin menggila, setiap hari dia tidak akan melepaskan Rita disana.
Setiap hari Damian ingin selalu berdekatan dengan Istrinya, bahkan dia menyesal mengapa sudah bertahun-tahun dia membiarkan Istrinya tanpa dia sentuh, tapi sekarang dia seperti laki-laki yang baru saja menikah, dia tidak bisa jauh-jauh meninggalkan Rita.
**
Sementara itu Tania masih berada di dalam kamarnya yang sangat berantakan, semua barang-barangnya masih berserakan di bawah lantai, dia enggan merapikannya atau pun meminta tolong pembantunya untuk membersihkannya dan dia pun membiarkannya begitu saja.
Sedari tadi ponsel Tania pun berbunyi, dia malas sekali mengangkatnya, hari ini fikirannya benar-benar sangat kacau. Sampai perusahaannya dia tinggalkan saja tanpa memberi tau asistennya kalau hari ini dia tidak bisa masuk kantor.
Pak Renaldy masih berusaha menelepon anak angkatnya, tapi sepertinya Tania tidak mau mengangkat telepon darinya. Pak Renaldy benar-benar khawatir tentang keadaan Putri angkatnya.
"Tania apa kamu masih marah sama Papamu ini?" ucap Pak Renaldy di sana.
Bersambung....
Happy reading readers....
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya sejauh ini...