
Disana Bela sungguh tidak menyangka, kedatangan Damian di rumahnya malah membuat dia mengetahui sebuah rahasia yang sudah dia simpan rapat-rapat.
"Bela jawab saya, dimana sekarang anak itu!"
"Damian saya bisa menjelaskan semua, tapi saat ini saya sedang bekerja, dan saya harus segera bekerja kembali." Dengan segera Bela mematikan sambungan teleponnya, disana Damian benar-benar sangat marah dia segera pergi dari rumah itu dan ingin segera menuju ke kafe tempat Bela bekerja.
Damian terpaksa harus memesan taxi online, sedang mobilnya waktu kejadian kemarin masih berada di kafe tempat Bela bekerja.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit akhirnya Damian sampai di kafe itu, dia masih melihat mobilnya ada di parkiran kafe itu. Dia pun segera berjalan dan masuk ke kafe itu.
Disana Bela masih disibukkan dengan melayani pelanggan kafe, disana dia melihat kedatangan Damian dia ingin segera pergi dari tempat itu, dengan sangat tergesa-gesa sampai akhirnya tiba-tiba lengan tangannya ada yang memegang dan menghentikan langakahnya. Dia segera menoleh kebelakang ternyata sudah ada Damian disana.
"Ka-kamu!" Jantung Bela seperti mau lepas melihat Damian memegang lengannya disana.
"Ikut saya!" Damian dengan cepat mengajak Bela untuk keluar dari kafe itu, Damian sudah meminta ijin ke pemilik kafe untuk hari ini Bela bekerja setengah hari.
"Damian tolong lepaskan tangan saya, kalau kamu seperti ini kamu malah menyakiti saya!" Akhirnya Damian segera melepaskan tangannya disana, mereka sekarang sudah berada di luar kafe.
"Ikut dengan saya saya ingin penjelasan darimu!" Disana Bela hanya mampu mengikuti Damian di belakangnya. Hingga mereka sampai di parkiran mobil, Damian segera menyuruh Bela untuk segera masuk kedalam mobilnya.
Di dalam mobil mereka masih sama-sama terdiam hingga akhirnya Damian menghentikan mobilnya di pinggiran jalan yang sedikit sepi.
"Sekarang katakan sejujurnya pada saya, apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Saya tidak suka dengan kebohongan!".
Disana Bela masih terdiam dia mencoba menatap Damian disana, entah bagaimana Bela harus memulai pembicaraannya yang jelas saat ini dia benar-benar sangat takut.
"Baiklah, sekarang saya akan jujur." Dengan menarik nafasnya dalam-dalam akhirnya Bela memberanikan diri untuk berbicara.
"Memang benar waktu itu kita melakukan sesuatu." Damian benar-benar terperanjat, jadi benar dia sudah melakukan sesuatu.
"Kenapa setiap saya tanya kamu bilang tidak terjadi apa-apa!"
"Karena saya takut kamu akan marah, saya tahu kamu sangat mencintai Rita waktu itu, sampai kamu melakukan itu pun masih dengan menyebut nama Rita!"
__ADS_1
"Kenapa kamu membiarkan itu semua!"
"Karena, karena saya sangat mencintaimu Damian, tapi saya sangat sadar diri di hatimu ada nama Rita, siapalah saya yang hanya seorang pelayan ini." Sambil mulai terisak Bela mengeluarkan apa yang selama ini ia pendam didalam hatinya.
Disana Damian sangat kaget mendengar Bela mencintainya, padahal mereka bersahabat sudah lama, tapi kenapa Damian tidak tahu kalau Bela mencintainya bahkan bela nampak biasa-biasa saja dan tak terlihat kalau dia menaruh hati padanya.
"Kenapa kamu tidak mengatakan dari awal, kalau saya tahu kamu hamil karena saya, saya pasti akan bertanggung jawab!"
"Maafkan saya, saya menutupi semua karena saya malu, saya dengan rela memberikan kesucian ku padamu, padahal yang ada di hatimu hanya Rita."
Damian mulai menatap ke arah Bela, dia merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan padanya, kenapa sejak awal Bela tidak menceritakannya tentang apa yang sudah aku lakukan.
"Bela saya akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi, setelah surat cerai saya turun, saya akan segera menikahimu, sekarang beri tahu saya dimana Tania Putri Damian berada?"
"Dia, dia saya titipkan di panti asuhan."
"Apa!!! Kamu membiarkan putriku di panti asuhan!".
"Sekarang kamu kasih tahu saya dimana panti asuhan itu, kita langsung kesana."
Disana Bela tidak bisa berbuat apa-apa mungkin sudah saatnya Tania bertemu dengan Ayah kandungnya, dia berharap Tania masih mau menerima mereka.
Akhirnya mobil Damian segera menuju kepanti yang Bela katakan, didalam hati Damian sebenarnya dia sangat bahagia, walaupun dia tidak mendapat keturunan dari Rita, tapi dia mendapatkan dari Bela wanita yang malah benar-benar mencintainya, tidak seperti Rita yang selalu melakukan kebohongan untuk dirinya.
**
Sementara itu dikantor milik Evan dia sedang kedatangan Pak Renaldy calon mertuanya, disana Pak Renaldy melihat-lihat kantor milik Evan.
Bagi Evan kedatangan Pak Renaldy benar-benar sungguh kehormatan tersendiri, dimana reporter berbagai TV sedang menyoroti perusahaannya dengan kedatangan pemilik perusahaan terbesar itu.
"Pak Evan saya akan memperbesar lagi bisnis kita, saya ingin membuat penyatuan perusahaan agar nantinya bisa tumbuh semakin besar, ini semua saya lakukan untuk masa depan putri saya Elena."
"Saya sangat senang mendengarnya Pak, ini sebuah kehormatan untuk saya, semoga saya bisa menjaga kepercayaan yang Bapak beri." Disana Elena sungguh sangat senang Papanya sudah merestui dirinya dan juga Evan.
__ADS_1
"Sayang apa kamu mau tetap menjadi sekretaris Pak Evan atau kamu mau bekerja di perusahaan kita, Papa ingin kamu juga bisa ikut andil membesarkan perusahaan Papa, yang nantinya kamulah penerus Papa selanjutnya"
"Pa, apa semua itu tidak terlalu cepat, aku belum bisa mendalami soal bisnis Pa."
"Kamu bisa belajar sedikit demi sedikit, bagaimana Pak Evan bolehkan kalau saya minta sekretaris Bapak bekerja di perusahaan Papanya." Disana Evan tersenyum, sebenarnya dia sedikit berat tapi semua tergantung Elena.
"Itu saya serahkan pada Elena Pak, kalau Elena bersedia saya akan melepasnya." Evan pun hanya mampu tersenyum.
"Begini saja Pa, aku akan menunggu dulu sampai Mas Evan mendapat sekretaris baru, mungkin nanti aku akan mulai mempertimbangkannya, bagaimana?"
"Ya sudah Papa akan mengikuti maumu, kamu juga masih ada perjanjian kontrak bukan, bekerjalah secara profesional Nak, Papa akan menunggu kamu sampai kamu sudah siap, tapi jangan biarkan Papa menunggu lama ya!"
**
Sementara itu Damian dan Bela sudah sampai di panti asuhan yang putrinya dulu di titipkan, mereka segera turun dari mobil dan segera masuk ke panti itu. Disana sudah ada pengurus panti yang menemui mereka.
"Ada yang bisa saya bantu!"
"Begini Bu, saya ingin menanyakan tentang putri saya yang saya titipkan di panti ini, mungkin sekitar Dua puluh lima tahun silam."
"Wah itu sudah lama sekali ya, sedang saya adalah penerus kedua dari panti ini, kalau boleh tahu siapa nama putri anda?"
"Namanya Tania Putri Damian." Dengan cepat pengurus panti itu segera melihat data dilayar laptopnya, semenjak panti itu yang memegang dirinya dia memasukan semua data anak panti di dalam laptopnya.
Disana mereka lumayan lama menunggu karena memang butuh lama, untuk mencari data yang sudah berpuluh tahun sedang di panti itu sudah ada lebih dari ribuan nama anak yang pernah tinggal disana, akhirnya pengurus panti menemukan data nama Tania Putri Damian.
"Oh ya benar Bu, disini ada nama Tania Putri Damian, tapi putri Ibu disini keterangannya sudah ada yang mengadopsi saat Putria anda umurnya 3 tahun.''
"Apa!" Damian benar-benar sangat kaget ternyata putrinya sudah ada yang mengadopsi, dia tidak rela putri kandungnya di adopsi orang lain, sedang dia sendiri belum pernah melihat wajah putrinya.
"Siapa yang sudah mengadopsi putri saya Bu?"
Bersambung.....
__ADS_1